Pengungsi Rohingya di Aceh Utara belum dipindahkan

Image caption Para pengungsi Rohingya di Aceh Utara masih menempati gedung Balai Latihan Kerja.

Walau kompleks penampungan telah siap dihuni, pemerintah Kabupaten Aceh Utara belum kunjung memindahkan ratusan pengungsi Rohingya dari lokasi penampungan sementara di gedung Balai Latihan Kerja, Desa Blang Ado, Kecamatan Kuta Makmur.

Kepala Bagian Humas Pemkab Aceh Utara Amir Hamzah mengatakan proses pemindahan masih menunggu musyawarah tim yang menangani para pengungsi ini. Tim tersebut terdiri dari pihak imigrasi, dinas sosial Aceh Utara, dan Kepolisian.

Image caption Tempat penampungan sementara berjarak 50 meter dari gedung Balai Latihan Kerja di Desa Blang Ado, Kabupaten Aceh Utara.

Kompleks penampungan pengungsi Rohingya terdiri dari 120 bangunan rumah yang dilengkapi sekolah, taman bermain, dan masjid. Diki Saputra, selaku koordinator pembangunan kompleks, mengatakan para pengungsi akan menempati bagian masing-masing sesuai dengan status menikah.

Menurut rencana, mereka akan ditempatkan di sana selama setahun.

Image caption Beberapa perempuan pengungsi dalam kondisi hamil.

“Bagi yang sudah berkeluarga kami sediakan barak tersendiri. Pria lajang dan perempuan lajang kami pisahkan,” katanya kepada kontributor BBC Indonesia, Saiful MD.

Saat ini, sedikitnya 300 orang pengungsi Rohingya masih menghuni gedung Balai Latihan Kerja yang terpaut 50 meter dengan kompleks penampungan. Di sana pengungsi tidur beralaskan tikar.

Image caption Kompleks penampungan berada di Desa Blang Ado, Kecamatan Kuta Makmur, Kabupaten Aceh Utara.
Image caption Kompleks penampungan itu dilengkapi masjid dan sekolah bagi para pengungsi.

Salah satunya adalah Umahay, perempuan berusia 25 tahun. Dia mengatakan jenuh berada di lokasi tersebut dan ingin dipindahkan ke Malaysia guna menyusul suaminya yang lebih dulu mengungsi.

“Suami saya di Malaysia. Saya ingin ke sana dan bertemu dia,” kata Umahay dalam bahasa Melayu.

Image caption Umahay, perempuan pengungsi Rohingya, berharap ke Malaysia untuk berjumpa dengan suaminya.

Pada 20 Mei lalu, pemerintah Indonesia dan Malaysia menyatakan siap menampung para pengungsi dan pendatang yang terapung-apung di laut dengan syarat mereka ditempatkan di negara ketiga atau dipulangkan dalam waktu satu tahun.

Berita terkait