Sepuluh tahun perdamaian Aceh: Kesaksian empat eks kombatan GAM

Hak atas foto AP
Image caption Sebagian anggota eks tentara Gerakan Aceh Merdeka, GAM, mengaku kecewa terhadap proses perdamaian yang dianggap tidak berimbas pada perbaikan nasib mereka.

Sebagian eks kombatan Gerakan Aceh Merdeka, GAM mengaku mengalami kesulitan dalam menjalani hidupnya setelah konflik bersenjata diakhiri melalui kesepakatan damai sepuluh tahun silam.

Walaupun sudah dilahirkan program reintegrasi bagi eks kombatan, antara lain berupa pemberian dana, namun kenyataannya program itu bukanlah obat mujarab.

Image caption Perjanjian damai Helsinki diikuti perlucutan senjata milik GAM yang dimulai Desember 2005.

Sebagian besar mantan tentara GAM itu diyakini masih dililit kemiskinan, sehingga sebagian dari mereka tergoda melakukan jalan pintas, dengan melakukan tindak kriminal.

BBC Indonesia mewawancarai empat orang eks kombatan GAM di Banda Aceh, yang memiliki latar dan kehidupan berbeda usai kesepakatan damai. Berikut petikannya:

Syarifuddin alias Bang Kumis

(Kelahiran 1974, mantan komandan militer GAM di sebuah wilayah di Aceh Barat, kini bekerja serabutan, terlibat penyanderaan mobil dinas Wakil Bupati Aceh Timur, Juni 2015)

Belum ada pendekatan serius oleh pemerintah Aceh terhadap saya dan kawan-kawan sesama mantan kombatan GAM. Dulu pernah dijanjikan diberikan uang, tetapi saya tidak pernah menerimanya.

Saya ingin agar pemerintah Aceh menciptakan lapangan kerja bagi eks tentara GAM. Lapangan pekerjaan ini penting, selain modal kerja, tentu saja.

Image caption Syarifuddin: Dulu saya dan eks kombatan lainnya berjuang demi masyarakat, kita dulu rela mati. Sekarang, saya menjadi sedih, karena saya memperhatikan ada kasus korupsi di Aceh.

Terhadap eks kombatan yang marah dan menempuh aksi kekerasan dan terjerumus tindakan kriminal, karena memang tidak memiliki pekerjaan. Kalau mereka bekerja, saya yakin tidak melakukan aksi kriminal.

Sekarang saya kerja apa saja, walaupun hasilnya sedikit. Tapi saya memikirkan kawan-kawan saya eks kombatan yang jumlahnya besar dan belum mendapatkan pekerjaan.

Di Banda Aceh, banyak orang bisa mengobrol dan minum kopi di kedai-kedai, tetapi di kampung, tidak sedikit eks kombatan yang susah hidupnya.

Dulu saya dan eks kombatan lainnya berjuang demi masyarakat, kita dulu rela mati. Sekarang, saya menjadi sedih, karena saya memperhatikan ada kasus korupsi di Aceh.

Image caption Sesuai kesepakatan perdamaian Helsinki (2005), penyerahan senjata milik kombatan GAM kemudian ditindaklanjuti dengan penghancurannya.

Kalau keadaannya begini terus, ya, mungkin saja kawan-kawan saya eks kombatan akan kembali "ke lapangan". Saya sendiri tetap berharap Aceh aman dan damai.

Saya menjadi ingat betapa kami dulu peduli terhadap anak buah yang terluka saat pertempuran di hutan, namun susah sekali mendapatkan obat.

Mengingat zaman perjuangan dulu, saya tidak pernah menyesali apapun, tidak trauma, tetapi kini saya sangat kecewa melihat kenyataan Aceh sekarang setelah sepuluh tahun perdamaian.

Azhari alias Cage

(Kelahiran 1976, mantan komandan di sebuah wilayah di Samudra Pasee, kini anggota DPR Aceh dari Partai Aceh, tengah menyelesaikan skripsi sarjana strata I)

Saya bergabung dengan GAM pada tahun 1998. Saya pernah menjadi petugas penghubung, komandan pleton, serta dipercaya menjadi komandan operasi.

Di masa itu, saya pernah menjadi "komandan bom" karena sering ditugasi melakukan peledakan bom. Posisi tertinggi saya saat itu adalah komandan operasi.

Image caption Azhari alias Cage: Pertanyaannya kemudian, apakah mereka bisa memanfaatkan peluang melalui program-program setelah perjanjian damai di Aceh.

Salah-satu pengalaman yang tidak terlupakan adalah ketika harus berbagi satu batang rokok dengan sepuluh orang eks kombatan GAM. Bahkan ketika ada sisa-sisa rokok, kita linting lagi dan kita hisap lagi secara bersama.

Dan ketika perdamaian terjadi, saya mengikuti langkah yang dilakukan pimpinan GAM, termasuk mengubah kebiasaan, yang semula hidup di dalam hutan, dan harus berbaur ke masyarakat seperti semula.

Banyak yang kita lakukan saat terjun ke masyarakat, seperti mendirikan organisasi, agar ada kegiatan dan kesibukan. Tidak memikirkan yang dulu-dulu. Intinya, menyibukkan diri dengan hal-hal yang baru, seperti yang kita lakukan sebelum bergabung dengan GAM.

Mengapa saya terjun ke politik? Ini bukan pilihan, tapi sudah garis takdir. Saya punya rasa tanggungjawab terhadap apa yang kami lakukan saat Aceh dilanda konflik.

Saya harus melanjutkan perjuangan itu melalui jalur politik. Dulu dengan senjata, tetapi sekarang saya ubah cara berpikirnya dengan mengubahnya ke jalur politik dalam koridor damai.

Sebagai mantan kombatan, tentu saja saya dikenal masyarakat, sehingga waktu pemilu saya berhasil mendapatkan suara. Mungkin masyarakat bersimpati kepada eks pejuang.

Juga barangkali karena pembawaan, tingkah laku saya, serta kedekatan saya dengan ulama dan tokoh masyarakat, sehingga saya terpilih dan mendapat suara terbanyak.

Hak atas foto AP
Image caption Sebagian eks kombatan GAM mengaku mensyukuri berakhirnya konflik bersenjata, tetapi mereka mengaku kecewa dengan perkembangan pasca perdamaian di Aceh.

Tentang adanya kasus eks kombatan yang mengangkat lagi senjata? Intinya, semua memiliki kesempatan untuk berbuat. Bisa menjadi sebagai kontraktor atau usaha lainnya, misalnya.

Pertanyaannya kemudian, apakah mereka bisa memanfaatkan peluang melalui program-program setelah perjanjian damai di Aceh.

Tetapi bagaimanapun, apabila sebagian eks kombatan belum tersentuh, mari kita duduk bersama dan mencari solusinya.

Zulfadli alias Basyah

(Kelahiran 1976, mantan tentara GAM yang dulu beoperasi dan berpindah-pindah dari Banda Aceh, Bireuen, hingga Perlak di Aceh Timur)

Kesepakatan perdamaian antara Indonesia dan GAM antara lain ditandai kesepakatan untuk mengintegrasikan eks kombatan ke masyarakat sipil.

Image caption Zulfadli alias Basyah: Seperti yang diutarakan kawan-kawan eks kombatan lainnya, saya pun meminta pemerintah Aceh memperhatikan kami, dengan antara lain menyediakan lapangan kerja buat kami.

Saya pernah mendengar dulu eks kombatan bakal menerima bantuan, tetapi setahu saya itu cuma sebatas janji. Saya diberi uang tetapi itu istilahnya "uang rokok" saja.

Usai perdamaian, saya sulit mendapatkan kerja. Baru setahun ini saya dipercaya mengelola kedai kopi yang kebetulan miliki seseorang yang saya kenal.

Di masa konflik, saya banyak melakukan penyamaran. Pergerakan saya luas, mulai Banda, Aceh Timur, hingga ke Birieun serta Perlak.

Di Banda Aceh, saya bisa tinggal lima bulan, kemudian pindah ke Perlak selama tiga bulan untuk menghindari kejaran pasukan TNI. Begitu seterusnya hingga perdamaian tiba.

Dulu saya memiliki komandan, yaitu Ayah Muni. Ada pula sosok Ridwan Abubakar yang baik sekali. Sampai sekarang kami sering kontak. Saya juga mengenal sosok mantan Panglima perang GAM almarhum Abdullah Syafii. Dia baik sekali. Dia memang betul-betul sosok Teungku.

Tentu saja, banyak yang tidak terlupakan zaman konflik. Saya masih simpan seragam GAM. Saya memiliki museum pribadi.

Seperti yang diutarakan kawan-kawan eks kombatan lainnya, saya pun meminta pemerintah Aceh memperhatikan kami, dengan antara lain menyediakan lapangan kerja buat kami.

Syardani M Syarif alias Teungku Jamaica

(Kelahiran 1977, mantan juru bicara militer GAM wilayah Samudra Pasee, kini bekerja pada Lembaga peningkatan sumber daya manusia Aceh, sambil menyelesaikan kuliah strata I)

Mengapa muncul kasus kekerasan yang melibatkan eks kombatan GAM, Din Minimi? Saya berpendapat, masalah utamanya yaitu kemiskinan dan pengangguran.

Seandainya semua warga Aceh memiliki pekerjaan tetap dan tempat tinggal layak, saya pikir masalah seperti itu tidak akan muncul.

Image caption Teungku Jamaica: Makanya, saya tidak merasa memiliki beban, karena saya bukan dipaksa masuk GAM. Saya menawarkan diri untuk mengabdi demi perjuangan.

Sekarang ada semacam gap (jarak), yang kaya tetap kaya dan yang miskin tetap miskin. Sejumlah warga Aceh, termasuk eks kombatan GAM, mendapat perhatian pemerintah, karena memiliki kedekatan akses.

Tetapi bagaimana dengan mereka yang tinggal di kampung-kampung dengan akses terbatas? Rasanya sulit mereka tersentuh, apalagi kita tidak memiliki data base kependudukan yang akurat.

Saya meyakini aksi-aksi eks kombatan GAM Din Minimi tidak dilatari motivasi menolak perdamaian GAM-Indonesia. Dia, menurut saya, menuntut keadilan kepada pemerintah Aceh, dengan caranya sendiri.

Barangkali dia kecewa karena keinginannya tidak didengar. Lalu ada yang memprovokasinya, dan dia pun mengangkat senjata lagi. Kita mesti merangkulnya kembali.

Tapi patut diketahui, pola rekrutman kombatan GAM saat itu. Pimpinan GAM meminta setiap kampung untuk mengirimkan setidaknya 10 orang untuk dilatih menjadi pasukan militer.

Hak atas foto AP
Image caption Teungku Jamaica: Memang ada yang berlatar sarjana, tapi sedikit jumlahnya. Lebih banyak berpendidikan rendah atau yang "bermasalah".

Mereka ingin agar yang mendaftar adalah orang-orang terbaik. Tetapi yang dikirim justru orang-orang yang "bermasalah", yaitu misalnya orang diduga pencuri, pemabuk, atau yang terlibat hutang. Alasannya, mereka dianggap sebagai "penyakit" atau benalu di kampungnya.

Tujuan mereka dikirim untuk bergabung dengan GAM supaya penyakit di kampung itu hilang. Ternyata setelah berada bertahun-tahun di gunung, banyak yang hidup dan kembali ke kampung sambil menenteng senjata AK-47.

Memang ada yang berlatar sarjana, tapi sedikit jumlahnya. Lebih banyak berpendidikan rendah atau yang "bermasalah".

Bagaimana dengan saya? Saya bukan direkrut tapi menawarkan diri, itu yang membedakan saya dengan eks kombatan kebanyakan. Saya saat itu tengah berstatus mahasiswa.

Makanya, saya tidak merasa memiliki beban, karena saya bukan dipaksa masuk GAM. Saya menawarkan diri untuk mengabdi demi perjuangan.

Hak atas foto Getty
Image caption Teungku Jamaica: Tujuan mereka dikirim untuk bergabung dengan GAM supaya penyakit di kampung itu hilang. Ternyata setelah berada bertahun-tahun di gunung, banyak yang hidup dan kembali ke kampung sambil menenteng senjata AK-47.

Karenanya, saat ini, saya tidak pernah memasalahkan, ketika teman-teman sesama eks kombatan menjadi bupati, anggota DPR.

Saya sama sekali tidak masalah, tidak iri, saya tidak merasa tersingkir.

Bagaimanpun, lalu jalan keluar seperti apa untuk menyejahterakan eks kombatan dan masyarakat Aceh secara umum?

Dana untuk Aceh itu besar sekali. Dana itu dapat digunakan untuk membangun lahan terbengkalai yang tidak produktif, dengan menjadikannya produktif.

Lalu buatlah program pertanian dan peternakan yang modern dan terpadu. Itu dapat menciptakan lapangan kerja.

Berita terkait