KBRI pastikan Kapten kapal hilang di Malaysia adalah WNI

Laut Cina Selatan Hak atas foto Reuters
Image caption Kawasan Laut Cina Selatan seringkali menjadi lokasi pembajakan kapal.

KBRI di Kuala Lumpur masih berupaya mencari identitas Warga Negara Indonesia yang menjadi ABK kapal kargo milik Malaysia yang hilang kontak sejak pekan lalu, di perairan Malaysia.

Otoritas Malaysia masih berupaya mencari sebuah kapal kargo yang hilang sejak satu pekan ini yang dikhawatirkan dibajak oleh perompak di kawasan Laut Cina Selatan, kata seorang penjaga pantai diberitakan AFP.

Wakil Duta Besar Indonesia Malaysia Hermono mengatakan baru mengetahui identitas kapten kapal yang merupakan warga negara Indonesia, dan masih berupaya untuk mencari apakah ada WNI lain yang menjadi awak kapal kargo tersebut.

"Statusnya masih gelap penyebab kapal hilang belum diketahui," kata Hermono kepada wartawan BBC Indonesia, Sri Lestari melalui sambungan telepon.

"Memang benar kaptennya adalah orang Indonesia dengan 14 awak tetapi kita belum tahu apakah keempatbelas awak itu ada WNI atau tidak itu. Belum jelas," katanya pula.

Dia mengatakan belum akan mengumumkan identitas kapten kapal tersebut, dan belum mengetahui kontak keluarganya.

Hermono mengatakan sampai saat ini belum bisa dipastikan apakah dibajak atau tidak, dan ada pula dugaan kapal rusak lalu terbawa arus tetapi belum ditemukan.

"Kita sudah memberikan notifikasi kepada otoritas di Filipina dan Thailand untuk terlibat dalam pencarian, dan untuk masalah itu ditangani oleh konsulat jendelar RI di Kuching Malaysia, " kata Hermono.

Dugaan dibajak

Namun Malaysia meyakini, kapal itu dibajak.

"Kami yakin kapal ini telah dibajak dan dibawa ke luar perairan Malaysia. Kami yakin itu sekarang berada di perairan Indonesia dekat Pulau Natuna," kata Laksamana Pertama Ismaili Bujang Pit, kepala penjaga pantai negara bagian Sarawak.

Pulau Natuna berada di wilayah Indonesia di dekat Laut Cina Selatan antara Pulau Kalimantan dan dataran Malaysia.

Pemilik kapal yang terdaftar di Malaysia itu kehilangan kontak dengan kapal kargo miliknya pada Kamis (03/09) pekan lalu ketika melakukan perjalanan dari perairan Sarawak Malaysia, kata Ismaili Bujang pula.

Hak atas foto Malaysian Navy
Image caption Kapal tanker Malaysia Mt Orkim Harmony yang dibajak pada Juni lalu.

Kapal MV Sah Lian mengangkut kargo berbagai jenis barang, antara lain produk besi, pipa dan makanan dari ibukota Sarawak, Kuching ke kota Limbang, dengan membawa 14 kru warga negara Malaysia, Indonesia, Myanmar dan India.

Ismaili mengatakan kapal milik Badan penjaga Maritim Malaysia tengah berupaya mencari kapal tersebut. Badan itu juga telah meminta bantuan Thailand dan Vietnam.

Biro Maritim Internasional IMB yang berbasis di London mengatakan perairan di Asia Tenggara saat ini menjadi lokasi pembajakan terbesar di Asia.

NAmun kapal yang hilang itu tidak sesuai dengan kriteria kapal yang biasa menjadi target serangan perompak pada beberapa tahun terakhir. Biasanya para bajak laut mengincar kapal tanker bermuatan bahan bakar atau kargo yang mengangkut minyak, dan biasanya krunya akan dibebaskan.

Pada Juni lalu, sebuah kapal tanker Malaysia dibajak di Laut Cina Selatan, satu pekan setelah pembajakan delapan orang tersangka perompak berkewarganegaraan Indonesia ditahan di sebuah pulau di Vietnam. Kasus ini telah diselidiki oleh otoritas Vietnam, Malaysia dan Indoesia.

Berita terkait