Asap di Riau, perusahaan kertas bantah terlibat

Kebakaran lahan Hak atas foto AFP
Image caption Berbagai kalangan menuduh perusahaan kelapa sawit bertanggung jawab atas kabut asap di Sumatera.

Kabut di Riau dan sekitarnya diduga terjadi akibat pembakaran lahan oleh perusahaan minyak sawit dan kertas, namun perusahaan Riau Andalan Pulp & Paper (RAPP) membantah terlibat.

Tony Wenas, presiden direktur RAPP dan managing director Asia Pacific Resources International Holdings Limited (APRIL) Indonesia mengatakan RAPP maupun anak perusahaannya tidak membakar lahan.

"Setahu saya gak ada," kata Tony ketika dihubungi BBC Indonesia melalui sambungan telepon, hari Selasa (15/09).

"Sampai dengan saat ini, kita belum ada ... kalau anak perusahaan kita belum ada investigasi apa pun," tambah Tony.

Tony menyampaikan bantahan setelah sebelumnya, Made Ali, ketua Jaringan Kerja Penyelamat Hutan Riau (Jikalahari) mengatakan bahwa RAPP dan APRIL ikut terlibat dalam pembakaran lahan di Riau.

"(Lahan milik) RAPP dengan sekitar 83 anak perusahaannya, misalnya PT Sumatera Riang Lestari, itu kita temukan terbakar. Tahun 2015, 2014 dan 2013," kata Made Ali.

Hak atas foto AFP
Image caption Pemerintah Indonesia mengirim lebih dari 1.000 anggota TNI untuk mengatasi kebakaran di Sumatera.

"Ada api di dalam konsesinya. Apakah itu lahannya sengaja dibakar atau tidak, yang jelas tidak boleh ada api di konsesinya itu," jelas Made Ali.

Disebutkan bahwa PT Sumatera Riang Lestari, sudah menjadi tersangka pada tahun 2013, namun penyelesaiannya tidak diketahui.

Namun kepada BBC, Tony Wenas membantah. Disebutkannya, PT Sumatera Riang Lestari bukan anak perusahaan RAPP.

RAPP adalah salah satu perusahaan bubur kertas dan kertas terbesar di Indonesia.

Tony Wenas menegaskan bahwa pihaknya mempunyai langkah preventif untuk mengatasi kebakaran lahan.

RAPP memiliki program Free Fire Village Program untuk membina desa-desa di sekitar wilayah Kerinci, Riau.

Hak atas foto Reuters
Image caption Warga kesulitan untuk bernafas akibat kabut asap yang tebal.

"Kita siapkan insentif buat mereka. Contohnya, apabila di satu desa tidak terjadi kebakaran selama musim panas ini, maka mereka akan kita berikan insentif, sebanyak Rp100 juta dalam bentuk program," kata Tony.

Provinsi Riau ditetapkan sebagai darurat asap setelah tiga minggu terkepung oleh asap dari kebakaran hutan dan lahan.

Untuk mengatasi kebakaran hutan, pemerintah mengirim lebih dari 1.000 anggota TNI untuk memadamkan kebakaran di Sumatera.

* Berita ini diperbaharui pada tanggal 18 September untuk menambahkan keterangan dari APRIL - RAPP.

Berita terkait