Warga Gunung Botak alami gangguan kesehatan

Tambang emas Gunung Botak Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Tambang emas Gunung Botak Kabupaten Buru, Maluku, ilegal.

Mustaslimah menunjukkan kepada saya saluran air yang kering akibat tumpukan sisa lumpur limbah tambang emas yang diolah di lokasi tak jauh dari kediamannya.

Mustalimah merupakan seorang warga Desa Parbulu, Kecamatan Waelata, Kabupaten Buru yang minta namanya minta disamarkan.

Bekas saluran air yang semula mengalir ke sungai kecil yang menjadi sumber air minum ternak dan irigasi di sawah itu tampak kering karena ditutupi endapan lumpur berwarna putih.

Dia mengatakan kandungan merkuri yang berasal dari tong pengolahan limbah tambang emas itu yang menyebabkan dua sapi miliknya mati.

Mustaslimah mengatakan dampak pencemaran merkuri dari pengolahan limbah dari tambang emas yang berjarak kurang dari satu kilometer dari kediamannya itu mulai berpengaruh pada kesehatannya.

“Dulu-dulu itu juga tak ada penyakit aneh, sekarang ada penyakit kulit udah dirasa kayak gatal-gatal udah dikasih obat, kambuh lagi, kayak saya abis nyuci di sungai gatal-gatal, sapi saya dua mati, takutnya kena anak-anak kena orang kan berbahaya,” jelas Mustalimah .

Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Limbah pengolahan tambang emas yang mengandung bahan berbahaya hanya berjarak sekitar 300 meter dari permukiman dan aliran irigasi.

Sementara itu Karminah tetangga Mustaslimah, yang juga minta disamarkan namanya, mengatakan mulai merasa sakit pada persendian.

“Tulang-tulang itu kayak pretel itu bagaimana, kepala pusing, linu-linu ga sama dengan yang dulu, kasianlah apalagi kami tak bisa pindah dari sini,” jelas Karminah yang merupakan transmigran yang berasal dari Blitar Jawa Timur.

Mereka mengaku sejumlah tetangganya juga mengalami rasa sakit yang sama.

Ganti rugi yang diberikan para pemilik pengolahan tambang emas ilegal itu tak sampai lima persen dari harga sapinya. Upaya warga agar tempat pengolahan emas ditutup pun tidak mendapatkan jawaban dari pemerintah.

Kadar merkuri berbahaya

Meski tambang emas di Gunung Botak yang berjarak sekitar puluhan kilometer dari Desa Parbulu, tetapi aktivitas pengolahan emas dan juga limbahnya dilakukan di tengah permukiman penduduk dan lahan pertanian.

Salah seorang petani yang minta namanya disamarkan menjadi Ibrahim, mengatakan penjualan padi miliknya anjlok karena para pembeli khawatir dengan kandungan merkuri dalam bahan pangan dari Kecamatan Waelata.

Penelitian Dosen Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam FMIPA dari Universitas Pattimura, Yusthinus T Male, pada 2012 lalu menunjukkan kandungan merkuri di dalam air sungai di sekitar tambang sudah masuk kadar yang membahayakan.

Menurutnya, kadar merkuri di sedimen sungai sudah sangat tinggi yaitu 9 miligram (mg) per kilogram (kg) lumpur, melebihi ambang batas 1 mg per 1 kg lumpur.

Yusthinus mengatakan upaya untuk memulihkan tanah yang tercemar akibat merkuri sangat sulit.

Dan pada penelitian selanjutnya, pada 2014, ditemukan merkuri telah masuk ke rantai makanan.

"Merkuri dari tambang emas gunung Botak yang mengalir ke Teluk kayeli, ditemukan pada hewan laut yang biasa dikonsumsi warga setempat seperti udang, kepiting kerang dan ikan," jelas Yusthinus.

Pada bulan September lalu, Gubernur Maluku Said Assagaf menyatakan penambangan emas di Gunung Botak ditutup dan akan dilakukan penelitian tentang pencemaran merkuri di area tersebut.

Tetapi warga di sekitar Gunung Botak mengatakan aktivitas penambangan masih berlangsung.

Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Seorang petani mengatakan pencemaran merkuri menganggu produksi dan penjualan beras.
Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Tromol untuk memisahkan emas beroperasi di dekat permukiman penduduk.
Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Pengolahan emas dilakukan di tengah permukiman penduduk.

Berita terkait