Target pengurangan emisi Indonesia jelang Konferensi Iklim PBB

Hak atas foto Reuters
Image caption Kondisi kabut asap di Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan.

Api yang terus membakar kawasan hutan dan lahan di enam provinsi di Indonesia kali ini menyebarkan kabut asap sampai ke wilayah negara tetangga seperti Thailand dan Filipina, yang biasanya tak pernah kena dampak.

Bukan hanya asap yang timbul dari kebakaran lahan gambut, tapi juga simpanan stok karbondioksida ke udara.

Lahan gambut lebih banyak menyimpan karbon jika dibandingkan dengan hutan atau jenis tanah lainnya. Lalu, dengan masifnya kebakaran hutan dan lahan (karhutlan) yang terjadi, seberapa besar sumbangan emisi karbondioksida atau CO2 dari Indonesia?

Organisasi lingkungan hidup, World Resources Institute, mengutip hasil penelitian Guido van der Werf dari Global Fire Emissions Database yang menyatakan emisi karbon akibat kebakaran hutan dan lahan di Indonesia telah mengalahkan rata-rata emisi karbon harian AS.

Menurut data tersebut, hanya dalam 26 hari saja emisi dari kebakaran hutan dan lahan mencapai 1.043 juta metrik ton, atau melebihi emisi karbondioksida Amerika Serikat dalam satu tahun terakhir.

Padahal selama ini AS adalah penyumbang gas rumah kaca terbesar kedua setelah Cina, dan ekonominya 20 kali lebih besar daripada Indonesia.

Dan Andika Putraditama dari World Resources Institute menambahkan, "Yang perlu digarisbawahi, angka ini masih perkiraan."

Perkiraan Bappenas

Tetapi, meski perkiraan, bukan berarti angka emisi ini bisa dilewatkan begitu saja.

Andika menambahkan tak perlu membandingkannya jauh-jauh dengan Amerika Serikat, karena Bappenas sudah menghitung perkiraan emisi karbondioksida Indonesia pada 2015, yaitu sebesar 1,63 juta metrik ton.

Hak atas foto EPA
Image caption Emisi karbon akibat kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Indonesia diperkirakan telah mengalahkan rata-rata emisi karbon harian di AS.

"Sekarang sudah mencapai 1,5 juta metrik ton CO2 hanya dari kebakaran hutan dan lahan, dan baru sampai pada akhir Oktober. Perkiraan emisinya off the roof dari perkiraan pemerintah, 69% hanya dari emisi karhutla," ujar Andika.

Padahal perhitungan emisi Indonesia bukan hanya dari sektor kehutanan, tapi juga ada dari sektor lain seperti energi atau transportasi.

Dan upaya Indonesia untuk mendirikan PLTU-PLTU baru dengan tenaga batubara akan menyumbang emisi yang besar juga.

Perhitungan emisi karbon ini menjadi penting menjelang pertemuan tingkat tinggi soal iklim yang akan berlangsung di Paris pada akhir November nanti.

Pertemuan tersebut salah satunya akan membahas komitmen negara-negara dunia dalam mengurangi emisi gas rumah kaca mereka sebagai upaya mengatasi perubahan iklim.

Menjelang pertemuan tersebut, Indonesia sudah menyerahkan dokumen pengurangan emisi nasional ke Badan Perubahan Iklim PBB yang menyatakan bahwa Indonesia akan mengurangi emisi sebesar 29% pada 2030.

Indonesia 'sudah maksimal'

Bagaimanapun juru kampanye hutan Greenpeace Asia Tenggara, Yuyun Indradi, berpendapat target Indonesia untuk mengurangi emisi 29% pada 2030 nanti sebenarnya terlalu kecil.

Apalagi kondisi kebakaran hutan dan lahan yang terjadi sekarang pastinya akan menyumbang emisi karbondioksida yang besar.

"Kontribusi emisi Indonesia dibanding komitmen penurunan emisinya jauh banget, seperti langit dan bumi. Kita sudah masuk lagi top five emisi terbesar di dunia. (Target) 29% itu tidak menunjukkan komitmen yang cukup untuk mengurangi emisi. Bisa nggak ditinggikan mendekati kontribusi emisinya, sehingga terjadi penurunan emisi sangat signifikan?" kata Yuyun.

Utusan Khusus Presiden untuk Pengendalian Perubahan Iklim, Rachmat Witoelar, mengatakan target pengurangan emisi sebesar 29% pada 2030 itu sudah cukup ambisius.

"Tidak ada (penghitungan ulang target). Karena tidak perlu. Amit-amit ya, 29% saja kita sudah hah heh hoh (berat). Sudah maksimal itu. Orang lain cuma 12%, 16%, kenapa mau dinaikin lagi, sudahlah," kata Rachmat.

Hak atas foto AFP
Image caption Kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan di Indonesia yang sampai ke pelabuhan Cebu, Filipina.

Masyarakat internasional dalam negosiasi perubahan iklim PBB pun, tambah Rachmat, tak akan mempertanyakan soal kebakaran hutan dan lahan.

"Mereka tidak akan mempersoalkan emisi kamu sekarang berapa. If they do, we don't have to answer (Jika iya, kita tidak perlu menjawab)," ujarnya lagi.

Dirjen Pengendalian Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Nur Masripatin, juga mengatakan target 29% sudah merupakan keputusan politik yang memungkinkan Indonesia terus membangun ekonominya tanpa merusak lingkungan.

Namun, Nur mengakui, kebakaran hutan dan lahan akan menambah berat upaya Indonesia dalam mengurangi emisi.

"Kalau tanpa emisi dari karhutlan, kan pengurangan emisinya tidak sebesar itu, karena telah terjadi karhutla, emisi dari sektor lahan menjadi tinggi sehingga untuk mengurangi sekian persen kan juga upayanya lebih tinggi, action yang diperlukan."