Rachmat Witoelar: "Krisis asap, kepala daerah harus dihukum"

Media playback tidak ada di perangkat Anda

Kebakaran lahan gambut baru-baru ini telah membuat Indonesia menjadi salah satu negeri pelaku pemanasan global yang paling parah.

Namun utusan khusus presiden untuk perubahan iklim, Rachmat Witoelar mengatakan, semua itu sekadar kecelakaan belaka, dan untuk itu Indonesia tak akan meminta maaf dalam KTT Iklim di Paris.

“Kami tidak mencemari bumi. Yang mencemari bumi itu Amerika Serikat dan Cina. Kami mengalami kecelakaan, suatu bencana alam, disebabkan dan diperparah oleh beberapa orang, karena kami tak memiliki cukup peralatan untuk menghadapi apa yang menimpa kami.”

Rachmat Witoelar, seorang bekas menteri lingkungan hidup juga menuding, para pejabat lokal di wilayah-wilayah Indonesia menerima suap dari perusahaan-perusahaan untuk memberi izin konsesi lahan yang sebetulnya diperuntukkan sebagai kawasan konservasi.

“Bupatinya tangkap dong. Penjarakan. Saya sangat setuju, cari aja mana yang untung siapa, paling dia yang dikasih uang sogokan 'kan yang lainnya kena asapnya,” kata dia.

Hak atas foto BJORN VAUGHN

Berikut tanya-jawab Rebecca Henschke dengan Rachmat Witoler sebelum dia berangkat ke KTT Iklim di Paris.

Bagaimana perasaan Anda terkait kenyataan bahwa akibat kebakaran hutan dan bencana asap tahun ini, Indonesia menjadi salah satu pencemar dan pelaku pemanasan global paling parah?

Ya, kita bukan … terbesar. Lumayanlah, nomor tiga. Yang terbesar itu Cina, ke dua Amerika Serikat. Mungkin ditanya kenapa Amerika terus bikin-bikin mobil padahal orang lain sudah capek melihatnya. Indonesia tuh tidak mau ada kebakaran, kalau negara lain mau dibikin… kita enggak bikin, kita ketiban. Kita itu adalah korban –dengan yang lain juga ikut korban.

Tapi Indonesia tidak bisa disebut korban karena ini kebakaran terjadi karena ulah manusia

Yang menikmati itu orang-orang, beberapa ratus orang, yang membakar –itu adalah penjahat. Nah itu yang kita tangkap. Tapi kita enggak bisa tangkap anak-anak yang enggak bisa sekolah. Jadi kita lebih banyak korbannya daripada penjahatnya.

Jadi siapa yang mendapat keuntungan dari kebakaran ini?

Sekarang ini tidak ada yang dapat untung. Paling juga nanti, kalau hasil kebakaran itu dibeli oleh orang untuk bikin pembangunan, ya dia yang untung…

Hak atas foto BJORN VAUGHN

Ada lahan yang sudah dibakar sekarang ditanam sawit.

Apa mereka bodoh? Ditanam ya tangkap dong. Ditanam tuh oleh rakyat. Kalau bicara soal perusahaan, yang besar-besar tuh paling lima atau sepuluh. Adalah nama-namanya. Yang di-pursue 200-an itu ya bukan yang besar-besar, yang kecil-kecil, yang mungkin tidak sadar kalau itu akan berakibat.

Kenapa pemerintah kasih izin untuk orang bisa dapat konsesi di atas hutan gambut yang tinggi, padahal pemerintahan President Suslio Bambang Yudhoyono sudah bilang bahwa tiga meter tidak boleh ada konsesi. Tapi kenapa di lapangan, bertemu...

Ya kalau jawab itu, saya juga keberatan. Saya kan yang larang. Tanyanya bukan ke saya, tanyanya ke Bupati lah ya. Mengapa dikasih, karena dia dikasih uang lah – kasarnya begitu. Ini mestinya tidak dilakukan karena itu yang di-pursue bukan hanya perkebunan tapi juga bupati-bupatinya, camatnya, yang kasih izin, mungkin tidak sah lah gitu yah.

Hak atas foto BJORN VAUGHN

Jadi apa yang harus dilakukan untuk memperbaiki? Kalau bupati tidak mendengar pusatnya, bagimana?

Ya bupatinya tangkep dong. Penjarain. Saya sangat setuju, cari aja mana… yang untung siapa, paling dia yang dikasih uang sogokan kan… yang lainnya kan kena asapnya. Kalau orang pemerintah di sini tuh…asap enggak dapet, sogokan enggak dapet, cuma kewibawaannya hilang. Jadi sekarang akan diberesin itu semuanya.

Jadi Bapak merasa malu ke Paris dengan situasi seperti ini?

Malu sih ya... saya prihatin lah ya. Ini keadaan masalah. Kalau sengaja, malu. Kalau kita nyuri, ketauan, malu. Ini mah... barang ilang, sama-sama.

Tapi ini disengaja, sudah jelas disengaja?

Tidak sengaja. Saya tidak percaya ribuan orang petani tuh jelek semuanya. Yang jelek itu mungkin adalah orang di perkebunan yang menyuruh dia. Itu kan enggak banyak –ya paling 10, 20, 30; bukan ribuan.

Jadi Bapak merasa seperti kebakaran ini adalah bencana alam?

Karena alam, bukan bencana alam. Kalau bencana alam kan dinyatakan. Ini tidak dinyatakan sebagai bencana alam. Ini adalah kebakaran karena alam. Kan El-Nino bukan bikinan pemerintah. Kan diakui itu karena El-Nino... Ya itu kan alam.

Jadi apakah akan minta maaf kepada dunia soal bencana ini?

Tidak akan, tidak perlu. Kan saya bilang... ini adalah kejadian alam yang diperburuk oleh manusia Indonesia.