Sumba: Pulau dengan sasaran 100% energi terbarukan

Media playback tidak ada di perangkat Anda

Pulau Sumba bertekad bahwa dalam waktu lima tahun ke depan akan menggunakan 100 persen energi terbarukan.

Sampai beberapa waktu lalu, sebagian besar dari 700.000 penduduknya tidak memiliki akses ke sumber listrik, dan kini proyek energi bersih mengubah kehidupan mereka.

Umbu Hinggu, seorang tokoh adat Sumba, mengatakan dia tidak pernah bermimpi air terjun di hutan yang terletak di dekat desanya dapat menghasilkan sumber listrik.

Sampai kemudian, empat tahun lalu, sebuah kelompok lokal membantu mereka untuk membangun sebuah pembangkit listrik tenaga air skala kecil atau mikro hidro yang menyediakan sumber listrik bagi 350 rumah.

Hak atas foto David Arnold
Image caption Kincur-kincir angin tersebar luas di punggung perbukitan ini.

“Itu cukup untuk penerangan di seluruh rumah, televisi dan sebuah lemari es. Listriknya stabil selama 24 jam. Ini membuat saya bangga,” jelasnya.

Sisa energi yang tidak digunakan dijual ke Perusahaan Listrik Negara PLN, menghasilkan uang lebih dari 7 juta per bulan.

Hak atas foto David Arnold
Image caption Anak-anak berenang dekat sebuah bendungan mikro hidro. Warga desa mengatakan mereka tidak menyangka dapat memperoleh sumber listrik dari sini.

Generasi baru

Pada tahun 2010 studi yang dilakukan oleh peneliti dari dua lembaga internasional Hivos dan Winrock, menemukan warga Sumba yang memiliki jaringan listrik di rumah mereka, kurang dari 25 persen

Pajaru Ngara, 67 tahun, mengatakan dia dulu harus berjalan ke ibukota Waingapu untuk membeli minyak tanah bagi lampu penerangan.

“Saya menghabiskan waktu satu setengah hari untuk pergi dan kembali ke sini,” katanya.

Kini, cucu laki-lakinya menjadi operator kincir angin kecil yang dipasang di atas atap jerami rumah kayu mereka.

“Sekarang kita memiliki listrik, dan itu artinya anak-anak dan cucu kami dapat belajar pada malam hari, dan saya bangga mereka tahu tentang energi baru ini.”

Ada pula warga di desa itu yang memanfaatkan energi matahari.

Hak atas foto David Arnold
Image caption Sumba merupakan salah satu wilayah termiskin di Indonesia.

Target ambisius

Titik titik kecil yang tampak nun di perbukitan sana merupakan kincir-kincir angin kecil pembangkit listrik dan panel surya yang berkilau karena pantulan matahari pagi.

Gagasan untuk membuat Sumba menjadi ikon pulau energi terbarukan dikembangkan melalui kerjasama Hivos dengan pemerintah Indonesia dan PLN pada tahun 2011.

Pada Mei 2013, Bank Pembangunan Asia ADB berkomitmen untuk memberikan dana sebesar US$1 juta atau sekitar Rp13 milliar untuk mendukung proyek ini dari sisi teknis. Sementara pemerintah Indonesia menjanjikan investasi puluhan milliar rupiah.

Sejauh ini, sudah sekitar 50% penduduk di Sumba terhubung dengan sumber listrik, 40% di antaranya menggunakan energi terbarukan.

Ambisinya, dalam tempo kurang dari lima tahun pemerintah ingin mempensiunkan mesin-mesin genset berbahan bakar solar dan menggantikannya dengan penggunaan 100 persen energi bersih.

Hak atas foto David Arnold

Saya mampir di sebuah sekolah. Seorang guru bertanya kepada murid-muridnya darimana mereka mendapatkan listrik. “Air, angin, dan matahari!” kata mereka serempak. Lalu bagaimana dengan pulau lain, tanya guru. “Batu bara!” teriak anak-anak. Dan itu menyebabkan apa? “Polusi!” jawab para bocah pula.

Wilayah Indonesia yang lain memang sangat bergantung pada batu bara. Sebagian besar pembangkit-pembangkit baru yang tengah dibangun, berbahan bakar batu bara.

Tetapi dorongan untuk menggunakan energi terbarukan di sini bukan cuma perkara kepedulian lingkungan, namun juga pertimbangan ekonomi.

Kebijakan pemerintah baru-baru ini yang mengurangi subsidi untuk solar membuat penggunaan genset di pulau menjadi mahal.

Sementara tagihan listrik dari pembangkit listrik mikro hidro hanya sekitar 20 ribu per bulan untuk setiap rumah.

Warga Sumba biasanya hidup tak jauh dari hewan-hewan peliharaan. Banyak di antara mereka yang memiliki babi. Ini merupakan sumber energi bersih –kendati di sisi lain tak tampak begitu bersih.

Hak atas foto David Arnold

Biogas dari kotoran hewan

Dengan teknologi yang sederhana kotoran babi-babi ini dapat dijadikan biogas yang langsung disalurkan ke dapur.

“Sebelumnya kami membuang kotoran ini tetapi sekarang dengan informasi baru kami mendapatkan akses ke gas gratis,” jelas Heinrick Dengi.

Heinrick Degi mengelola sebuah radio lokal yang populer di pulau ini dan merupakan fasilitator proyek energi terbarukan.

“Ini tidak hanya sekedar kebanggaan karena menggunakan energi bersih. Ini merupakan sebuah kesempatan bagi warga Sumba untuk bebas dari rantai kemiskinan yang selama ini membelenggu mereka.”

Sumba merupakan salah satu daerah yang tertinggal dan termiskin dibandingkan dengan 9.000 pulau lain yang berpenduduk.

Heindrick Dengi mengatakan Sumba merupakan sebuah model bagi pulau terpencil yang tidak memiliki jaringan listrik.

“Banyak hal yang dapat dengan mudah dilakukan di daerah lain. Biogas dan pompa air tenaga matahari dapat dengan mudah dibangun di wilayah lain. Dan ini sesuatu yang sangat mudah yang dapat dilakukan di mana saja dan dibangun dengan skala yang malah lebih besar,” kata dia.

Hak atas foto David Arnold
Image caption Lebih dari separuh penduduk Sumba tidak memiliki akses terhadap sumber listrik.

Akses ke dunia baru

Masyarakat memang senang mendapatkan sumber listrik yang sebelunnya hanya mereka impikan. Tetapi juga muncul kekhawatiran terhadap dampaknya. Pemimpin adat, Umbu Hinggu mengatakan mereka berupaya untuk mencari keseimbangan.

“Aspek yang negatif dari sumber energi inin adalah anak-anak jadi terlalu banyak menonton sinetron dan film barat di televise, dan mereka begadang sampai malam bermain games di computer. Sehingga mereka ngantuk ketika berada di sekola, kata Umbu Hinggu.

“Orang dewasa yang sekarang memiliki telepon selular begadang sampai malam untuk mengobrol di telepon dan keesokan haribnya mereka mengantuk dan tidak bisa turun ke ladang atau bekerja di sawah secara maksimal.”

“Kami tidak dapat menghentikan mereka untuk belajar mengenai dunia luar, tetapi kami harus membatasinya,” tegas Umbu Hinggu.

Masyarakat mengetahui harus beradaptasi terhadap perubahan keadaan sekitarnya, dan pembangkit listrik tenaga mikro hidro membantu mereka untuk itu.

Tetapi jika proyek energi terbarukan ini dapat berjalan lancar dan berhasil, dunia luar pasti ingin belajar dari mereka.

Berita terkait