Warga Syiah di Indonesia bisa terimbas ketegangan di Timteng

Media playback tidak ada di perangkat Anda

Pelaksanaan hukuman mati terhadap ulama Syiah terkenal Arab Saudi, Sheikh Nimr al-Nimr, memicu kemarahan dan protes oleh komunitas Syiah di Timur Tengah dan kawasan lain.

Sheikh Nimr menjalani eksekusi mati bersama 46 terpidana lain pada Sabtu malam karena kejahatan terorisme.

Nimr adalah pendukung vokal protes antipemerintah Saudi yang meletus pada 2011 dan menuntut diselenggarakannya pemilu.

Eksekusi ini memicu kemarahan luas dan protes keras dari komunitas Syiah di Timur Tengah, terutama di Iran. Kedutaan Besar Arab Saudi di Teheran dilempari bom molotov oleh demonstran.

Pengamat politik Islam, Zuhairi Misrawi, menilai Saudi "sengaja" menjadikan eksekusi mati tersebut untuk memancing kemarahan warga Syiah di sejumlah negara.

Tapi khusus di Indonesia, Zuhairi memperkirakan imbasnya tidak seserius di beberapa kawasan lain.

"Saya kira dampaknya di Indonesia tidak terlalu besar karena masyarakat Indonesia sudah bisa lebih memahami bahwa apa yang terjadi di Saudi itu lebih kepada sikap politis daripada sikap keagamaan," kata Zuhairi, hari Minggu (3/1).

Konflik politik

Berbeda dengan Zuhari, Ahmad Hidayat, ketua Yayasan Ahlul Bait Indonesia -organisasi yang menaungi penganut Syiah di Indonesia- menilai tindakan Arab Saudi ini bisa berdampak kepada pengikut syiah di Indonesia.

"Pesan yang ingin disampaikan pemerintah Saudi, dengan eksekusi yang dilakukan terhadap Sheikh Nimr bersama-sama dengan kelompok teroris sebanyak 40 sekian itu, seakan-akan ingin mengabarkan bahwa kelompok syiah ini adalah kelompok teroris dan ini bisa menjadi sesuatu yang dipahami macam-macam di dalam konteks geopolitik global," kata Ahmad.

Muhyidin Junaidi, Ketua MUI bidang Hubungan Luar Negeri, juga mengkhawatirkan hal yang sama, bahwa masyarakat tidak bisa membedakan masalah politik dan agama sehingga bisa muncul ketegangan lebih lanjut antara kaum Sunni dan Syiah Indonesia yang, menurutnya, makin sering terjadi sejak 2013 beriringan dengan konflik di Suriah.

Hak atas foto AFP
Image caption Massa di Teheran, Iran melempar bom molotov ke gedung Kedutaan Besar Arab Saudi di Iran sehingga 40 orang ditangkap.

"Cepat atau lambat, pengaruhnya pasti ada. Kami khawatir ini akan semakin kental (ketegangannya). Bahkan kami di MUI merasakan ada tekanan dari kelompok tertentu yang menginginkan fatwa akan kesesatan syiah segera dikeluarkan. Nah kita tidak mau itu terjadi. Saya khawatir tekanan makin menjadi-jadi," kata Muhyidin.

Muhyidin mengatakan bahwa dalam rapat-rapat pimpinan, MUI selalu mengimbau pada masyarakat selalu berwaspada agar jangan terprovokasi.

"Bahwa konflik di luar negeri adalah konflik politik, bukan agama. Yang jadi masalah orang tidak bisa membedakan. Itu sangat berbahaya, sangat berbahaya," tambahnya.

Berita terkait