Siswa 'mengenal Nabi Muhammad' sebagai panglima perang

Menteri Agama
Image caption Nabi Muhammad adalah figur toleran dan pendorong perdamaian, kata Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin.

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan sebagian besar siswa-siswi sekolah dan madrasah di Indonesia hanya mengenal Nabi Muhammad sebagai figur 'yang hari-harinya diisi dengan peperangan'.

Lukman menganggap kesan seperti ini ada di benak siswa-siswi karena materi pelajaran sejarah Nabi Muhammad di sekolah dan madrasah yang disebutnya 'kaya sekali dengan cerita-cerita peperangan.'

"Itu tidak salah. Tapi kita ingin melengkapi bahwa Rasulullah selain memimpin perang, beliaupun juga lemah-lembut, sangat santun, sangat toleran," kata Lukman Hakim dalam wawancara dengan BBC Indonesia melalui sambungan telepon, Senin (11/01) malam.

Untuk itulah, Kementerian Agama ingin menambahkan materi tentang figur Nabi yang toleran dan penganjur perdamaian dalam materi pelajaran sejarah Nabi Muhammad di sekolah-sekolah.

Hak atas foto Reuters
Image caption Kementerian agama ingin menambahkan materi tentang figur Nabi yang toleran dan penganjur perdamaian dalam materi pelajaran sejarah Nabi Muhammad di sekolah-sekolah.

Lukman tidak memungkiri penambahan materi itu sangat penting di tengah situasi sekarang, yang masih diwarnai konflik antara umat beragama.

Berikut petikan wawancara dengan Menteri agama Lukman Hakim Saifuddin:

Anda saat berpidato di sebuah acara di Jombang, Jatim, mengatakan akan melengkapi materi sejarah Nabi Muhammad di sekolah-sekolah yang selama ini terlalu menonjolkan aspek peperangan. Kenapa Anda mengutarakan hal itu?

Siswa-siswi kita, secara umum, memiliki kesan terkait dengan Rasulullah itu kesan sebagai pemimpin yang hari-harinya diisi dengan peperangan. Peperangan itulah yang mewarnai benak siswa-siswi di madrasah, di sekolah-sekolah. Mengapa? Karena mungkin, boleh jadi, karena sejarah kita, kisah-kisah tentang Rasul, itu memang kaya sekali dengan cerita-cerita peperangan, karena memang realitasnya banyak sekali perang yang ada ketika itu.

Image caption Sebagian umat Islam di Jakarta menggelar doa bersama saat memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Nah ini akan kita lengkapi. Jadi jangan misleading (salah arah) juga judulnya. Karena di beberapa berita online, saya mendapatkan judul bahwa Kementerian Agama akan memperbaiki citra Rasulullah. Wah, itu sudah lain lagi. Kalau citra Rasulullah selamanya baik.

Yang ingin kita lengkapi adalah kesan yang ada pada sebagian besar siswa-siswi kita terkait dengan Rasulullah -selama ini- yang mereka kesankan itu adalah seorang pemimpin yang hari-harinya diisi dengan peperangan.

Nah, sementara Rasullah itu juga banyak kisah-kisah tentang bagaimana beliau menyebarkan kasih sayang, bagaimana beliau berinteraksi dengan para sahabat, penuh toleransi, menebar kedamaian, dsb.

Human interest-nya itu menurut saya juga penting. Karena Rasulullah itu hakikatnya adalah memperbaiki, menyempurnakan akhlak manusia. Risalah kenabiannya itu. Jadi, perilaku akhlak ini yang juga tidak kalah pentingnya ditonjolkan.

Jadi dengan kata lain, Kementerian Agama sekarang sedang melakukan penelitian untuk ke depannya menambahkan materi terkait akhlak Nabi itu?

Image caption Acara Maulud Nabi yang digelar oleh umat Islam di Jakarta.

Ya, kita sedang mencoba melengkapi. Bukan berarti peperangan itu tidak benar, karena memang faktanya seperti itu. Tapi kita ingin memperkaya kisah-kisah Rasul itu dengan bagaimana beliau berinteraksi, tidak hanya dengan sesama umat Muslim dan para sahabat, tetapi juga dengan umat beragama lain, misalnya. Itu banyak sekali, kaya sekali kisah-kisah seperti itu. Yang itu juga relevan dalam konteks kekinian kita.

Dalam artian, relevan dengan konteks kekinian ketika ada masalah kerenggangan hubungan antar umat beragama?

Betul, betul. Di mana sekarang ini semakin diperlukan setiap umat beragama untuk lebih mengedepankan esensi atau substansi dari ajaran agama itu sendiri. Yang hakikatnya bagaimana sesama umat manusia itu bisa saling mengasihi, menebarkan kemaslahatan. Karena meskipun kita berbeda, keyakinan, kita tetaplah sesama saudara.

Ada pertanyaan di masyarakat, berapa prosentase materi pelajaran sejarah Nabi Muhammad yang lebih mengedepankan aspek peperangan?

Tentu saya tidak bisa menjawab. Itu sangat teknis sekali. Tapi begini, kita bisa tanyakan saja, misalnya, siswa-siswi kita, apa kesan mereka terkait dengan Rasulullah. Apakah mereka hanya mengenal Rasulullah sebagai panglima perang? Misalnya begitu. Itu tidak salah. Tapi kita ingin melengkapi bahwa Rasulullah selain memimpin perang, beliaupun juga lemah-lembut, sangat santun, sangat toleran.

Image caption "Kita ingin melengkapi kesan Rasulullah itu tidak hanya semata sebagai tokoh atau figur pemimpin perang, sebagaimana selama ini dikesankan oleh sebagian anak-anak kita," kata Menteri agama.

Jadi intinya, kita ingin melengkapi kesan Rasulullah itu tidak hanya semata sebagai tokoh atau figur pemimpin perang, sebagaimana selama ini dikesankan oleh sebagian anak-anak kita.

Kita ingin juga memberikan wawasan yang lebih luas kepada anak-anak kita bahwa Rasulullah juga tokoh pemimpin yang penuh kasih sayang, penuh lemah lembut, yang sangat santun, yang penuh tenggang rasa, dst.

Jadi aspek budi pekerti, aspek kesantunan, akhakul karimah dari seorang Rasul juga perlu ditonjolkan, sehingga bisa menjadi pemahaman mereka.

Apakah rencana ini juga berangkat dari semacam kekuatiran, analisa atau hipotesa umum, bahwa karena materi sejarah Nabi Muhammad selama ini menonjolkan aspek peperangan, itu berpengaruh terhadap sikap atau pemahaman yang radikal?

Saya tidak tahu persis apakah ini ada korelasi yang signifikan atau tidak.

Berita terkait