Penyebaran DBD "bukan hanya" faktor kesehatan

Hak atas foto EPA
Image caption Jentik nyamuk Aedes aegypti akan berkembang biak di tempat-tempat di mana ada air bersih.

Kementerian Kesehatan "sudah memahami" bahwa semua daerah di Indonesia endemik DBD karena kasus akan berulang terus. Namun, menurut mereka, urusan DBD bukan hanya faktor kesehatan saja, tapi ada kontribusi lingkungan, kontribusi cuaca, atau pembangunan di suatu kota yang menimbulkan genangan air.

Juru bicara Kementerian Kesehatan Oscar Primadi pada BBC Indonesia, Kamis (4/2) mengatakan, "Intinya, tidak sekadar pada sektor kesehatan, terkait dengan lintas sektor, penggerakan masyarakat untuk tidak membuat sarang-sarang nyamuk, ini kan persoalannya. Ditengarai di perkotaan tanpa kita sadari ada tumpukan-tumpukan tempat-tempat ban bekas. Begitu juga dengan perilaku, hobi melihara burung, itu air (minum) juga yang terkandung (jentik), vas-vas bunga di rumah yang tanpa kita sadari, tempat berkembang biaknya jentik."

Berkembang biaknya jentik, menurut Oscar, tak bisa terhindarkan selama masyarakat masih membutuhkan dan melakukan penampungan air.

Langkah menutup penampungan air untuk mencegah jentik berkembang dinilai Oscar jauh lebih efektif daripada fogging atau pengasapan, yang hanya akan mematikan nyamuk dewasa.

"Dari jentik, ratusan nyamuk yang akan muncul. Jangan menampung air, itu intinya. Artinya daerah-daerah yang seperti itu, bukan melarang menampung air, tinggal bagaimana perilaku diubah, menutup penampungan, dikuras, dan jangan menyiapkan sarang-sarang nyamuk," ujarnya lagi.

Sejauh ini, Kementerian Kesehatan sudah menetapkan tujuh provinsi yang mengalami KLB demam berdarah, yaitu di Gorontalo, Papua Barat, Sulawesi Selatan, Bali, Bengkulu, Sumatera Selatan dan Banten.

Hak atas foto AFP
Image caption Langkah menutup penampungan air untuk mencegah jentik berkembang dinilai Kemenkes jauh lebih efektif daripada pengasapan.

Sedikitnya pada Januari 2016 saja sudah ada enam korban meninggal di Bekasi, 25 di Banten, 11 di Jombang, dan 8 di Sulawesi Selatan.

Kondisi waspada DBD, menurut Oscar, masih akan berlangsung selama musim pancaroba hujan sampai Maret nanti.

Sejauh ini, kata Oscar, Kementerian sudah melakukan koordinasi sampai ke tingkat daerah dan memberi bantuan untuk pemberantasan jentik, terutama pengiriman insektisida untuk fogging atau pengasapan.

"(Kita) betul-betul sudah paham karena tiap tahun akan berulang, tinggal gimana aspek lingkungan bisa kita kendalikan, perilaku masyarakat harus berubah," ujarnya.

Namun, Zahrotul Wardah, seorang ibu yang anaknya tengah dirawat karena DBD merasa upaya pencegahan DBD di tempat tinggalnya di Jakarta Selatan belum cukup serius.

"Selama ini fogging tidak serius, katanya malah dicampur minyak tanah aja," katanya.

Bahkan dia juga mengaku tak mendapat pemberitahuan atau penyebaran informasi terkait pengecekan jentik atau penutupan penampungan air.

Berita terkait