Pesantren Waria Yogyakarta: Kami hanya belajar agama

Media playback tidak ada di perangkat Anda

Pesantren waria di Yogyakarta yang ditutup karena ancaman sebuah kelompok, adalah tempat puluhan transgender belajar agama dan mengaji, serta tidak mengajarkan pemahaman bertentangan dengan Islam, kata pendirinya, Shinta Ratri.

Aktivitas pengajian yang digelar tiap akhir pekan di pesantren untuk waria itu menghadirkan guru agama Islam, dan diikuti oleh sekitar 20 waria.

"Yang terjadi adalah kita mengajak kebaikan, memberi pemahaman tentang agama kepada teman-teman supaya dia bisa menata hidupnya, supaya dia mempunyai kekuatan di dalam dirinya, jadi teman-teman waria ini sudah terdiskriminasi jangan sampai dia kemudian lemah secara spiritual," jelas Shinta.

Ujaran kebencian terhadap kelompok LGBT -terutama di Yogyakarta - akhirnya menyebabkan pesantren waria ditutup pada Rabu (24/02) malam, setelah sebelumnya sempat mendapatkan ancaman akan disegel oleh Front Jihad Islam FJI.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Pesantren yang didirikan sejak 2008 lalu untuk mengajarkan agama bagi para waria.

Camat Banguntapan, Jati Bayubroto mengatakan alasan penutupan karena pesantren tersebut tidak memiliki izin dan bertentangan dengan nilai-nilai Islami, serta pernah ditemukan miras di lokasi tersebut.

Penutupan dilakukan setelah pertemuan pengelola pesantren, perwakilan warga, dan pimpinan Front Jihad Islam (FJI), Rabu (24/02) malam, di kantor Balai Desa Jagalan, Banguntapan, Bantul, DIY.

Pesantren waria ini didirikan oleh almarhum Maryani, seorang transgender, pada 2008 lalu, yang rutin mengikuti pengajian di daerah Pathuk sejak 1997.

Setelah Maryani meninggal, Shinta menggantikannya dan lokasi pesantren pun pindah ke kawasan Kotagede, dengan mengambil tempat rumah Shinta.

Ia mengatakan tujuan pesantren ini adalah mengajak para waria untuk memiliki nilai-nilai spiritual agar mereka dapat hidup dengan lebih baik.

Image caption Pesantren berlokasi di kediaman Shinta Ratri ini ditutup Rabu (24/02) malam.

"Jadi di sini dibangkitkan kekuatan individu secara spiritual, dengan pendekatan kepada Tuhan," kata Shinta.

"Kita tidak main-main untuk belajar agama. Ada kiai dan akademisi yang kita undang untuk pengajian. Dan tidak ada itu kita bikin kitab fiqih sendiri seperti yang diberitakan."

Tekanan mental

Sebelum ditutup, sekitar 20 orang waria rutin mengaji dan belajar agama. Tetapi ketika BBC Indonesia mengunjungi pesantren pada Rabu siang, hanya ada beberapa orang waria yang menghuni rumah tersebut.

Tampak kertas-kertas bertuliskan huruf Arab ditempel di dinding bagian teras belakang.

"Di sini biasanya kita mengaji. Di dalam, ruangan untuk salat berjamaah setiap hari Minggu," kata Nuria Ayu, seorang penghuni pesantren.

Image caption Nuria Ayu salah seorang yang tinggal di pesantren untuk waria.

Nuria mengaku sudah empat tahun tinggal di sini, setelah sebelumnya sering kali berpindah tempat tinggal.

"Saya dulu ya mengamen, sekarang masih suka tapi ya kadang-kadang saja. Sekarang lebih sering terima pesanan makanan," kata Nuria.

"Di sini, ya saya belajar agama. Sering juga mengajak teman-teman yang masih di jalanan agar mengaji di sini, supaya berhentilah dari kehidupan malam."

Tetapi sejak kampanye anti-LGBT makin kuat di Yogyakarta, aktivitas para waria terhambat.

"Teman-teman waria ini kan yang paling gampang dikenali dari kelompok LGBT. Jadi otomatis dampaknya adalah tekanan mental dan psikologis yang dihadapi saya dan teman-teman yang tinggal di sini dan juga teman-teman yang menjadi santri. Ketakutan ini sudah meluas dan mereka sekarang takut untuk bekerja," papar Shinta.

Berita terkait