Menjumpai komunitas LGBT Indonesia

Media playback tidak ada di perangkat Anda

Selama beberapa pekan terakhir, komunitas lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) Indonesia diterjang gelombang anti-homoseksualitas.

Berbagai pejabat mengeluarkan pernyataan yang memojokan kaum LGBT, bahkan dengan argumentasi yang ganjil. Seperti pernyataan Menteri pertahanan yang menyebut LGBT merupakan bagian dari Perang Proksi, dan pernyataan Walikota Tangerang yang menghubungkan LGBT dengan makanan instan.

Situasinya bahkan menjadi sangat berbahaya bagi para LGBT, ketika seorang bekas menteri mengutip hadist yang menyerukan pembunuhan terhadap kaum LGBT.

Dan pemerintah Presiden Jokowi sejauh ini, seperti tak berbuat apa-apa untuk menurunkan ketegangan dan menenangkan kaum LGBT. Tak heran kalau para LGBT dilanda ketakutan. dan akhirnya, hari Solidaritas LGBTIQ Nasional, yang sejak tahun 2001 diperingati setiap tanggal 1 Maret, kali ini diselenggarakan secara tertutup.

Menandai Hari Solidaritas LGBTIQ, berikut kisah sejumlah LGBT yang dijumpai wartawan BBC Indonesia Rebecca Henschke beberapa waktu lalu.

Hak atas foto BBC INDONESIA

Vina

“Saya berusia 22 tahun dan saya berasal dari Bengkulu di Sumatra. Saya meninggalkan rumah dan pergi ke Jakarta ketika berumur 17 tahun. Saya lari dari rumah karena banyak alasan, tapi yang paling utama karena situasi di sekolah.

Jika kamu sedikit feminin, maka sekolah adalah tempat yang sangat, sangat tidak bersahabat di Indoensia. Saya tidak tahan, jadi saya pergi dari Sumatra.

Saya dengar Jakarta bagus dan saya bisa dapat uang di sini. Hanya ada dua pilihan jika kamu waria. Kerja di salon atau jadi PSK. Ternyata Jakarta tidak sebagus yang saya bayangkan.

Banyak kekerasan di sini terhadap kami.

Keadaannya berubah ketika saya ikut kompetisi waria muda dan ternyata saya tidak sendirian. Saya diajari tentang seksualitas dan hak asasi manusia oleh teman-teman. Kondisinya sekarang sudah lebih baik buat saya, tapi saya harus berpikir bagaimana menyimpan uang untuk hari tua.”

Anggun

“Menerima diri saya seutuhnya adalah proses yang panjang dan lama karena saya tahu dari agama dan masyarakat bahwa menjadi waria adalah abnormal dan dosa dari pandangan Islam.

Jadi itulah yang membuat saya ingin bunuh diri, tapi tidak berhasil.

Saya sangat khawatir orang tua saya tidak mau menerima, saya stres. Keluarga saya juga melalui proses panjang, tapi kini mereka menerima saya.

Hak atas foto BBC INDONESIA

"Saya membayangkan suatu hari nanti para orang tua bisa menerima anak yang waria dan tidak melalui drama, buang-buang energi. Saya sempat lari dari rumah dan tidak menghubungi ibu saya selama enam tahun.

Lalu dia pergi mencari dan menemukan saya di Jakarta. Dia melihat saya melakukan kerja yang baik, bukan yang buruk. Dia kemudian menerima saya. Mereka khawatir pada saya.

Saya pulang ke kampung di Jambi belum lama ini dan berbicara kepada ayah saya. Ternyata ketakutan saya bahwa dia akan memuluki saya jika dia mengetahui saya begini, salah.

Sekarang kami punya hubungan yang baik. Dia sering menelepon saya dan bertanya dengan nada bercanda, 'Sudah makan belum? Makan apa kamu?' Itu membuat saya sangat gembira.

Saya jadi sadar bahwa ada lebih banyak orang yang mencintai saya ketimbang orang yang membenci saya. Jadi mengapa buang waktu memikirkan orang-orang yang benci saya?”

Hartoyo

“Saat saya berusia 12 tahun dan masih tinggal di desa kecil dekat Medan, saya mulai menyadari bahwa saya berbefa. Saat itu saya malu mengatakan bahwa saya suka pria.

Saya tidak paham bahwa menurut agama, itu adalah sesuatu yang dipandang salah.

Saya merasa saya adalah gay, jauh sebelum tahu bahwa Islam memandang itu salah. Saya lugu saat itu.

Kondisinya sangat susah karena tinggal di desa saya tidak punya informasi. Tiada internet pada masa itu. Saya mulai berpikir mengapa saya berbeda? Saat mulai beranjak dewasa, saya mulai dicemooh dan dikata-katai.

Hak atas foto BBC INDONESIA

Saya tidak bisa mengekspresikan diri saat mulai dewasa. Saya suka menari dan merancang baju. Saya dulu suka menari dan saat di desa ketika masih kecil, saya suka tampil di berbagai festival dengan kelompok tari dan menang.

Di SMA saya mulai diejek. Tapi saya pintar dan jago matematika, itulah senjata saya. Jadi tahun pertama sekolah seperti neraka, tapi tahun kedua saya bisa berteman.

Saya menggunakan kemampuan akademis untuk keuntungan saya dan saya masih saling kontak dengan banyak teman satu sekolah.”

Christina

“Saya mengungkapkan ke keluarga bahwa saya lesbian cukup dini karena saya dididik bahwa kejujuran sangatlah penting.

Saat saya mulai dewasa saya mendapat informasi lebih banyak dan menyadari bahwa identitas saya adalah lesbian.

Saya lalu berbicara kepada ibu tentang itu dan dia menerimanya. Dia hanya ingin memastikan bahwa saya masih anak yang baik dan tidak memalukan keluarga dengan narkoba atau semacamnya.

Hak atas foto BBC INDONESIA

Kami tinggal di Solo ketika itu. Kakak perempuan saya luar biasa menerima.

Mereka tidak pernah memperlakukan saya berbeda jadi kini kami adalah keluarga yang sangat bahagia. Saya hidup dengan ibu saya dan saya sangat terbuka padanya. Setiap kali saya punya pacar, saya selalu mengenalkan dia kepada ibu saya.

Saya ingin menunjukkan bahwa tiada perbedaan antara hubungan lain jenis atau sesama jenis. Intinya adalah cinta dan kami melakukan hal baik di masyarakat dan keluarga.”

Berita terkait