LGBT bukan masalah kejiwaan: Asosiasi Psikiatri AS surati Indonesia

Hak atas foto AFP
Image caption Asosiasi Psikiatri Amerika Serikat (APA) menyatakan pengategorian homoseksualitas sebagai masalah kejiwaan merupakan pelabelan yang salah.

Asosiasi Psikiatri Amerika Serikat (APA) menyatakan telah menyurati Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) guna mendorong perhimpunan tersebut untuk mempertimbangkan ulang kebijakan bahwa homoseksualitas masuk dalam kategori masalah kejiwaan.

Dalam laman resmi APA, Saul M Levin selaku direktur asosiasi tersebut, menulis bahwa posisi PDSKJI yang mengategorikan homoseksualitas sebagai masalah kejiwaan merupakan pelabelan yang salah dan telah dibantah oleh sejumlah bukti-bukti ilmiah.

‘Ada komponen biologis yang kuat pada orientasi seksual dan itu bisa dipengaruhi interaksi genetik, hormon, dan faktor-faktor lingkungan. Singkatnya, tiada bukti saintifik bahwa orientasi seksual, apakah itu heteroseksual, homoseksual, atau lainnya, adalah suatu kehendak bebas,’ tulis Levin.

Karena itu, lanjutnya, upaya untuk mengubah orientasi seksual seseorang melalui ‘terapi konversi’ bisa dan kerap membahayakan. Berbagai risiko yang terkait dengan ‘terapi konversi’ mencakup depresi, kecenderungan bunuh diri, kecemasan, mengurung diri, dan penurunan kemampuan akrab dengan orang lain.

Atas alasan-alasan itu, menurut Levin, pedoman diagnosa dan statistik untuk masalah kejiwaan (DSM) yang dimiliki APA tidak mengategorikan kaum lesbian, gay, biseksual, dan transgender sebagai orang yang bermasalah dengan kejiwaan.

‘Berdasarkan itu, dan kekayaan bukti-bukti ilmiah yang ada perihal tersebut, kami dengan tulus berharap anggota Asosiasi Psikiatri Indonesia mempertimbangkan ulang keputusan mereka’, tulis Levin.

Image caption Pedoman diagnosa dan statistik untuk masalah kejiwaan (DSM) yang dimiliki Asosiasi Psikiatri AS tidak mengategorikan kaum lesbian, gay, biseksual, dan transgender sebagai orang yang bermasalah dengan kejiwaan.

Masalah kejiwaan

Kepada BBC Indonesia, Dr Danardi Sosrosumihardjo, SpKJ(K) selaku ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI), mengatakan masih harus berdiskusi dengan rekan-rekannya mengenai isi surat yang dikirimkan Asosiasi Psikiatri Amerika Serikat.

Namun, Danardi menegaskan sikap perhimpunan yang dia pimpin sejalan dengan Undang-Undang Nomor 18 tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa.

Dalam undang-undang tersebut, terdapat dua pengelompokan, yakni Orang dengan Masalah Kejiwaan (ODMK) dan Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ). Perbedaannya, ODMK memiliki risiko mengalami gangguan jiwa, sedangkan ODGJ sedang mengalami gangguan jiwa.

“ODMK bukanlah diagnosis. Itu bisa juga, misalnya orang sedang dalam bencana alam, orang sedang kebanjiran, orang sedang ujian,” kata Dr Danardi.

Lalu bagaimana dengan LGBT?

“Secara profesi kami punya pedoman mengacu pada PPDGJ III (Pedoman dan Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa). Dalam buku pegangan kami, lesbian, gay, biseksual masuk dalam kelompok ODMK, kalau transgender masuk ODGJ yang perlu mendapat terapi,” kata Dr Danardi kepada wartawan BBC Indonesia, Jerome Wirawan.

Masuknya kaum lesbian, gay, dan biseksual dalam kelompok ODMK bertujuan mengklasifikasi gangguan psikologis macam apa yang dialami mereka, dan bukan menangani orientasi seksual mereka.

Image caption Kaum lesbian, gay, dan biseksual masuk kategori Orang dengan Masalah Kejiwaan (ODMK). Kategori itu juga ditempati orang yang sedang dalam bencana alam dan orang sedang ujian.

“Dalam profesi kami, untuk memahami lesbian, gay, dan biseksual, orientasi seksual bukan menjadi fokus diagnosisnya. Fokus diagnosis adalah apabila terjadi gangguan psikologis, gangguan perilaku pada kelompok lesbian, gay, dan biseksual. Gejala perilaku bisa terjadi dari berbagai hal, apakah itu aspek biologi, aspek psikologi, bisa aspek sosialnya. Orientasi seksual justru bukan yang menjadi fokus masalahnya,” papar Dr Danardi.

Salinan Pedoman dan Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa III yang didapatkan BBC Indonesia menyebut kaum lesbian, gay, dan biseksual masuk dalam klasifikasi perilaku yang berhubungan dengan perkembangan dan orientasi seksual. Namun, pada butir F66 pedoman tersebut dinyatakan, problem juga bisa dialami individu yang heteroseksual.

Dr Danardi mengaku tidak memberikan terapi kepada seorang yang penyuka sesama jenis untuk mengubah orientasinyamenjadi penyuka lawan jenis.

“Secara medis profesional, kasus homoseksual ada beberapa spektrum, mengarah tetap homoseksual, ragu-ragu, atau mengarah ke heteroseksual. Apabila dia cenderung mengarah ke heteroseksual, barangkali kami tawarkan, ‘Apakah Anda mau ke sana?’ Tapi, kalau dia memang kuat ke arah homoseksual, maka orientasi seksualnya tidak kami utik-utik lagi,” katanya.

Gangguan

Ahli Neurologi, dr. Ryu Hasan sebelumnya mengatakan lesbian, gay, dan biseksual bukanlah penyakit dan bukanlah gangguan.

"Kecuali jika orang tersebut merasa tidak nyaman, itu bisa dibilang gangguan dan baru dilakukan terapi."

Tetapi, konseling yang dimaksud Ryu Hasan bukanlah untuk menghilangkan perilakunya melainkan berfokus untuk menghilangkan rasa tidak nyaman. Dia menegaskan orientasi seksual tidak bisa diubah.

Berita terkait