Kemenlu RI: Tak ada 'kesepakatan rahasia' dengan Israel

Retno Marsudi Hak atas foto Reuters
Image caption Oleh pejabat Kemenlu Israel, Menlu Retno Marsudi dikatakan 'telah melanggar kesepakatan' yang dicapai dengan pejabat Israel.

Kementerian Luar Negeri di Jakarta kembali menegaskan tidak ada 'pertemuan rahasia' dengan pejabat senior Israel terkait kunjungan Melu Retno Marsudi ke Ramallah.

"Tidak pernah ada pembahasan, apalagi kesepakatan dengan Menlu RI mengenai kunjungan ke Jerusalem," kata juru bicara Kemenlu, Arrmanatha Nasir, kepada BBC Indonesia, Jumat (18/03).

Sebelumnya situs surat kabar Israel, Haaretz, pada edisi Rabu (16/03) memberitakan tentang Menlu Retno Marsudi yang dilarang ke Ramallah, Tepi Barat, karena 'melanggar kesepakatan' yang dicapai dalam 'pertemuan rahasia' dengan pejabat Kemlu Israel untuk masalah Asia, Mark Sofer, di Jakarta.

Haaretz mengutip pernyataan ini dari Wakil Menlu Israel, Tzipi Hotovely, yang memberi penjelasan di parlemen Israel, setelah muncul pertanyaan mengapa Retno dilarang mengunjungi Ramallah.

Hotovely mengatakan bahwa para pejabat yang ingin berkunjung ke Ramallah juga harus menemui para pejabat Israel. Ia menambahkan Retno tak memenuhi kesepakatan ini.

Diduga 'memang ada pertemuan'

Namun Arrmanatha menegaskan bahwa pengaturan rencana kunjungan Retno ke Ramallah dilakukan melalui jalur diplomatik resmi sejak akhir Desember 2015 oleh dubes RI Palestina di KBRI Amman, Yordania, dengan pihak Palestina dan Yordania.

Disebutkan bahwa Menlu Retno akan menggunakan helikopter dari Amman ke Ramallah.

"Tidak lewat check point (titik pemeriksaan) daratan Israel," kata Arrmanatha.

Ia mengatakan bahwa tujuan utama Menlu Retno adalah ke Yordania dan Ramallah untuk melakukan pertemuan bilateral dan melantik konsul kehormatan, dan itu semua sudah tercapai.

"Memang sejak awal sudah disiapkan dua skenario, melantik konsul kehormatan (kohor) di Amman dan melantik konhor di Ramallah," kata Arrmanatha.

"Bahkan kita juga siapkan skenario ketiga. Semua ini disiapkan agar apa pun ulah Israel, rencana melantik konhor tetap tercapai," katanya.

Pengamat politik Smith Alhadar mengatakan dirinya menduga pertemuan itu terjadi dan menurutnya itu bukan hal yang aneh, karena dalam pemerintahan sebelumnya sudah ada pertemuan antara pejabat Israel dan Indonesia.

"Sejak zaman pemerintahan Suharto sudah ada kontak tidak resmi antara Indonesia dan Israel seperti itu," ungkapnya.

Berita terkait