Menlu RI protes aksi kapal penjaga pantai Cina di wilayah Indonesia

Media playback tidak ada di perangkat Anda

Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi memanggil kuasa usaha Kedutaan Besar Cina di Jakarta sekaligus menyampaikan nota protes terkait aksi kapal penjaga pantai Cina di Laut Natuna, pada Sabtu (19/03) lalu.

Isi nota protes tersebut, sebagaimana dijelaskan juru bicara Kementerian Luar Negeri, Arrmanatha Nasir, menekankan tiga kesalahan yang dilakukan kapal penjaga pantai Cina.

Kesalahan pertama, kapal penjaga pantai melanggar hak berdaulat dan yurisdiksi Indonesia di wilayah Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) dan landas kontinen Indonesia.

Selanjutnya, kapal penjaga pantai Cina melanggar penegakan hukum yang sedang dilakukan aparat Indonesia di wilayah ZEE dan landas kontinen Indonesia.

Terakhir, kapal penjaga pantai Cina melanggar kedaulatan laut teritorial Indonesia.

“Menlu RI meminta segera ada klarifikasi dari pemerintah Tiongkok atas kejadian ini. Menlu RI juga menekankan bahwa dalam hubungan bernegara yang baik, maka prinsip hukum internasional, termasuk UNCLOS, harus dihormati,” kata Arrmanatha, merujuk Konvensi PBB mengenai hukum laut.

Pemanggilan Kuasa Usaha Kedutaan Besar Cina, Sun Weide, ke kantor Kemenlu RI ditambah penyampaian nota protes, menurut Arrmanatha, adalah bentuk protes yang signifikan.

“Dalam konteks diplomatik, apabila seorang dubes dipanggil dan diberikan nota protes, sudah cukup keras,” katanya kepada wartawan BBC Indonesia, Jerome Wirawan.

Duta Besar Cina sendiri sedang berada di negerinya, sehingga yang dipanggil adalah Kuasa Usaha.

Kini, lanjutnya, pemerintah Indonesia tengah menunggu klarifikasi dan penjelasan dari pemerintah Cina mengenai kejadian di Laut Natuna.

Hak atas foto
Image caption Menurut Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti, kapal-kapal Cina beberapa kali melakukan penangkapan ikan di perairan Indonesia dengan pengawalan dari kapal penjaga pantai Cina.

Insiden di Laut Natuna

Dugaan pelanggaran kapal penjaga pantai Cina di wilayah Indonesia mengemuka setelah Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti membeberkannya kepada wartawan, Minggu (20/03).

Menurut Susi, kapal patroli Kementerian Kelautan dan Perikanan Indonesia sempat menangkap sebuah kapal Cina yang diduga melakukan penangkapan ikan secara ilegal di perairan Natuna, Kepulauan Riau, Sabtu (19/03).

Kapal Cina bernama KM Kway Fey 10078 itu tetap berusaha melarikan diri, walau kemudian kapal patroli Hiu 11 sempat melepaskan tembakan peringatan.

Tiga personel kapal patroli sempat melompat ke dalam kapal ikan Cina itu untuk mengawal.

Image caption Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti, mengungkap insiden yang disebut melibatkan kapal penjaga pantai Cina di perairan Indonesia.

Namun ketika kapal patroli melakukan pengawalan terhadap kapal ikan Cina, muncul kapal penjaga pantai Cina yang mengejar dan menabrak kapal ikan "agar rusak sehingga tak dapat ditarik." kata Susi.

Untuk menghindari insiden lebih lanjut, kapal patroli Kementerian Kelautan dan Perikanan memutuskan meninggalkan KM Kway Fey 10078.

"Pemerintah Tiongkok tidak berkenan kapalnya ditenggelamkan, tapi ini sebenarnya tidak boleh seperti itu, karena pemerintah seharusnya tidak berdiri di belakang IUU fishing (penangkapan ikan ilegal dan tak diatur)," ujar Susi.

Susi juga menyatakan bahwa di daerah laut yang sama, juga dilaporkan beberapa kali terjadi penangkapan ikan oleh kapal Cina yang dilakukan dengan pengawalan dari kapal penjaga pantai Cina.