PM Inggris puji penanganan radikalisme di Indonesia

Joko Widodo dan David Cameron Hak atas foto KBRI London
Image caption Joko Widodo dan David Cameron membahas radikalisme dan terorisme selain soal-soal yang terkait dengan ekonomi.

Perdana Menteri Inggris, David Cameron, memuji pendekatan pemerintah Indonesia dalam mengatasi terorisme dan radikalisme.

Hal ini disampaikan PM Cameron ketika menerima kunjungan Presiden Joko Widodo di kantornya di Downing Street, London, hari Selasa (19/04).

"Kami membahas kontraterorisme, bagaimana menghadapi terorisme dan radikalisme di seluruh dunia. Indonesia di sini memiliki peran yang sangat penting," kata PM Cameron, seperti dilaporkan wartawan BBC Indonesia, Liston Siregar, yang meliput acara ini di Downing Street.

"Saya sangat terkesan dengan pendekatan Indonesia dalam memerangi terorisme dan radikalisme," tambahnya.

Selain itu, kata PM Cameron, Indonesia bisa menunjukkan Islam sebagai agama yang damai.

Ia menegaskan juga bahwa kerja sama penanganan terorisme antara Inggris dan Indonesia semakin meningkat.

Presiden Jokowi mengatakan bahwa Indonesia sebagai negara Islam terbesar aktif berperan melawan aksi-aksi radikalisme di dunia.

"Sebagai negara Muslim terbesar di dunia, Indonesia mempunyai peran untuk menunjukan kepada dunia bahwa islam, demokrasi, dan toleransi dapat berjalan beriringan. Indonesia akan senang membagi pengalaman itu," kata Presiden Joko Widodo.

Terjadi sejumlah aksi terorisme di Indonesian sejak sekitar 16 tahun yang lalu, namun berbagai pihak mengatakan aktivitas kelompok teroris menurun secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir.

Meski demikian, terjadi ledakan bom dan serangan senjata di kawasan Sarinah, Jakarta, pada awal 2016, menewaskan setidaknya delapan orang, termasuk pelaku.

Bagi Joko Widodo ini adalah lawatannya yang pertama ke Inggris dan merupakan kunjungan balasan PM Cameron yang datang ke Jakarta tahun lalu.

Selain membahas terorisme kedua pemimpin negara menyaksikan penandatangan kerja sama, antara lain di bidang pendidikan, olahraga, industri udara, dan ekonomi kreatif.

Berita terkait