Empat warga Indonesia sandera Abu Sayyaf tiba di Jakarta

sandera bu sayyaf Hak atas foto EPA
Image caption Para sandera Indonesia yang sudah terlebih dahulu dibebaskan, saat mendapat jatah makan di tempat penyekapan di Pulau Jolo, Filipina Selatan.

Empat sandera Indonesia yang dibebaskan setelah diculik kelompok radikal Abu Sayyaf sejak 15 April, mendarat di Bandara Halim Perdana Kusuma, Jakarta, Jumat (13/5) pukul 10.25.

Keempatnya, Mochammad Ariyanto Misnan (nakhoda), Lorens MPS, Dede Irfan Hilmi, dan Syamsir, tiba dengan sebuah pesawat Boeing 737 milik TNI Angkatan Udara.

Mereka disambut oleh Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, yang didampingi Panglima TNI, Jenderal Gatot Nurmantyo.

"Kami mengucapkan terima kasih pada semua pihak yang telah memungkinkan terjadinya pembebasan ini," kata Menlu Retno Marsudi.

"Selanjutnya, keempat saudara kita itu akan menjalani cek kesehatan di RSPAD Gatot Subroto, untuk nantinya diserahkan kepada keluarga masing-masing," kata Menlu dalam pernyataan singkatnya kepada wartawan.

Pembebasan empat warga negara Indonesia yang disandera di Filipina sejak 15 April lalu diumumkan Presiden Joko Widodo pada Rabu (11/05) malam.

Mereka adalah anak buah kapal tunda TB Henry dan kapal tongkang Cristi yang dibajak pada Jumat (15/04) ketika dalam perjalanan kembali dari Cebu, Filipina, menuju Tarakan, Kalimantan Utara.

Sebelumnya, 10 pelaut Indonesia lainnya disandera pula, dan sudah dibebaskan terlebih dahulu.

Pemerintah Indonesia menegaskan bahwa pembebasan dua kelompok pelaut yang disandera di Filipina selatan tidak menggunakan uang tebusan.

Namun banyak kalangan yakin, sejumlah uang telah diberikan kepada kelompok Abu Sayyaf agar para pelaut dibebaskan, kendati pembayaran itu tidak dilakukan oleh pemerintah.

Kelompok Abu sayyaf sebelumnya dikabarkan meminta tuang tebusan 50 juta peso, atau sekitar Rp15 miliar.

Berbagai kelompok radikal Islam di Filipina Selatan sering menculik warga asing untuk meminta uang tebusan.

Sebagian dipenggal karena pemerintah dari negara korban penyanderaan itu menolak membayar uang tebusan antara lain sandera asal Malaysia dan sandera warga Kanada.

Berita terkait