Kasus kekerasan seksual masih bermunculan

Protes
Image caption Kasus pemerkosaan berkelompok atas siswa SMP di Bengkulu memicu perhatian besar.

Di tengah diskusi tentang kekerasan seksual yang semakin marak, termasuk rencana pemerintah memperberat hukuman bagi pelakunya, kasus kekerasan seksual terus bermunculan.

Salah satu korban terbarunya ialah seorang perempuan pegawai pabrik di Tangerang berusia 18 tahun. Pada Jumat (13/05), korban ditemukan di dalam kamar kos dalam keadaan telanjang bulat dengan gagang cangkul tertancap di kemaluannya.

Polisi telah mengamankan tiga orang terkait kasus ini. dan seorang yang telah ditetapkan sebagai tersangka, RA, adalah siswa SMP berusia 15 tahun.

Dua orang lainnya, juga berinisial RA dan IH, diduga terlibat dalam penyiksaan dan pembunuhan korban, namun aparat masih mendalami keterkaitan 2 orang tersebut.

Kasus terbaru di Tangerang ini mencuat di tengah ramainya pengungkapan kasus kekerasan seksual di Indonesia, yang kebanyakan korbannya perempuan. Hal ini dipicu kasus atas seorang siswi SMP di Bengkulu yang meninggal setelah diperkosa beramai-ramai oleh 14 orang, dan tujuh dari mereka anak di bawah umur.

Image caption Sejumlah kalangan menilai Indonesia sedang berada dalam kondisi darurat kekerasan seksual.

Termasuk paling menonjol

Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) mencatat pada tahun 2015 terdapat 321.752 kasus kekerasan terhadap perempuan -berarti sekitar 881 kasus setiap hari.

Angka tersebut didapatkan dari pengadilan agama sejumlah 305.535 kasus dan lembaga mitra Komnas Perempuan sejumlah 16.217 kasus. Menurut pengamatan mereka, angka kekerasan terhadap perempuan meningkat 9% dari tahun sebelumnya.

Kekerasan seksual termasuk bentuk kekerasan paling menonjol sampai sejumlah kalangan menilai Indonesia sedang berada dalam kondisi darurat kekerasan seksual.

Sementara itu, pemerintah Indonesia berupaya memperberat hukuman bagi pelaku kekerasan seksual terhadap anak yaitu dengan menambah masa maksimal hukuman penjara selama 20 tahun serta memberikan hukuman tambahan berupa kebiri kimia, pemasangan chip, dan publikasi identitas pelaku.

Hukuman itu akan dimuat dalam Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu).

Pemerintah juga sedang merumuskan Rancangan Undang-undang Penghapusan Kekerasan Seksual yang mengatur penanganan pada kasus pelecehan seksual sampai penyiksaan seksual. RUU tersebut telah masuk ke dalam Program Legislasi Nasional, namun belum dibahas DPR.

Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Pegiat perempuan menyerukan pencegahan kekerasan seksual harus dimilai dari keluarga dan pendidikan.

Hukuman berat tak cukup?

Upaya pemerintah dikritik Koordinator Advokasi dan Komunikasi Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI), Frenia Nababan. Sekadar pemberatan hukuman, menurut Frenia, tidaklah cukup.

“Seberat apapun undang-undang, kalau pelaporannya saja sulit, akan menambah permasalahan,” ujarnya.

Menurut Frenia, korban kekerasan seksual kesulitan melaporkan kasus yang terjadi kepada mereka dan masih banyak korban yang tidak tahu ke mana harus melapor dan mendapatkan pendampingan hukum. Mereka pun menerima intimidasi dari pelaku.

Frenia menyarankan pemerintah membuat sistem one-stop solution bagi korban kekerasan seksual.

“Minimal di Kecamatan, ketika dia datang, dia tidak harus ke mana-mana lagi. Polisinya ada di situ, psikolognya ada di situ, lalu ada pendamping hukumnya di situ,” jelas Frenia.

Pendidikan seks komprehensif

Pencegahan kekerasan seksual di masyarakat harus dimulai dari keluarga dan pendidikan, kata Frenia.

“Keluarga perlu membicarakan seksualitas secara terbuka dengan anak-anak, serta mengajari anak laki-laki dan anak perempuan untuk saling menghormati,” ujarnya.

Frenia juga menyoroti perlunya pendidikan seks yang komprehensif di sekolah. Ia menilai, pendidikan yang kini ada menitik beratkan pada aspek biologis, yaitu bentuk dan fungsi organ reproduksi.

Menurut dia, pendidikan seks harus membuat anak-anak memahami mana bagian tubuhnya yang boleh disentuh dan tidak boleh disentuh.

“Seksualitas itu kan soal relasi. Biologis itu satu hal. Bagaimana kamu menyatakan tidak, bagaimana menghindari tekanan dari teman-teman sebaya. Itu kan soal relasi dan tidak diajarkan.

“Ketika seksualitas masih dianggap tabu untuk dibicarakan, maka anak-anak remaja tidak akan mendapatkan informasi seksualitas yang benar dari sumber-sumber yang bertanggung jawab,” kata Frenia.

Berita terkait