Mahasiswa ISI Yogya menentang gerakan khilafah di kampus

Hak atas foto Yaya Ulya
Image caption Aksi damai mahasiswa Institut Seni Yogyakarta digelar di depan gedung Rektorat.

Ratusan mahasiswa dan alumni Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta menggelar aksi damai menolak keberadaan organisasi yang mengusung khilafah dan anti-Pancasila, pada Jumat (17/06).

Tomy W Taslim, koordinator aksi itu menyatakan para alumni ISI resah ketika mengetahui adanya gerakan pengusung khilafah. “Maka kami berkumpul dan jadilah gerakan ini,” kata Tommy, alumni ISI angkatan 1997.

Image caption Penyebaran ideologi khilafah dilakukan melalui masjid-masjid kampus, seperti masjid kampus ISI Yogyakarta.

Tak hanya alumni, ratusan mahasiswa ISI dari berbagai fakultas sejak pukul 13.00 WIB sudah mulai berkumpul di depan Rektorat. Di situ sudah ada panggung sederhana yang disiapkan. Beberapa mahasiswa silih berganti melakukan orasi menolak keberadaan gerakan pengusung khilafah di lingkungan kampus.

“Kami harus bergandengan tangan seperti dulu lagi, mengkampanyekan kebhinekaan dan menolak yang tidak menghargai perbedaan,” kata Ketua BEM ISI Yogyakarta, Coki Arok Subagyo.

Sebelumnya, saat BBC Indonesia melakukan penelusuran di masjid kampus ISI Yogyakarta, April 2016 lalu, beberapa mahasiswa terang-terangan mengatakan sistem pemerintahan Islam atau khilafah adalah yang paling tepat untuk menggantikan demokrasi.

Salah satunya Robby Effendy, pengurus Hizbut Thahrir Indonesia (HTI) di kampus ISI, yang mengelar kajian rutin yang salah satunya mengkritik demokrasi. Tetapi Robby membantah bahwa pembentukan khilafah ini menggunakan kekerasan seperti yang dilakukan ISIS, tetapi melalui dakwah.

Image caption Gerakan yang mengusung khilafah menyusup ke kampus-kampus di Indonesia.

Selain melalui mahasiswa-mahasiswa di masjid, penyebaran paham radikal juga menyusup melalui perkuliahan, lewat para dosen.

Deklarasi pelarangan

Menanggapi penyebaran ideologi khilafah itu, Rektor ISI Yogyakarta, Agus Burhan, memutuskan untuk mengeluarkan deklarasi pelarangan segala macam bentuk penyebaran atau kampanye ormas di kampus.

“Deklarasi ini akan segera diwujudkan menjadi Surat Keputusan,” kata Burhan.

Selain mengeluarkan SK pelarangan ormas, pihak rektorat akan segera melakukan perbaikan struktur kepengurusan masjid kampus ISI, Almuhtar.

Tujuannya agar masjid bisa menjadi fasilitas ibadah untuk seluruh civitas akademika secara netral dan tidak dikuasai oleh sekelompok organisasi.

Image caption ISI Yogyakarta akan membuat Surat Keputusan mengenai pelaran segala macam bentuk penyebaran atau kampanye ormas di kampus.

Adapun terhadap dosen yang terbukti terlibat dan melanggar SK rektor, akan ditindak.

“Akan ada tindakan, berupa sanksi,” katanya.

Kajian Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyebutkan sebagian besar perguruan tinggi umum telah didominasi oleh Ikhwanul Muslimin dan Islamis lainnya.

Anas Saidi, peneliti LIPI, mengungkapkan dalam penelitian yang dilakukan pada 2011 di lima universitas di Indonesia UGM, UI, IPB, Unair, Undip menunjukkan peningkatan pemahaman konservatif atau fundamentalisme keagamaan.

Kondisi itu juga terjadi di universitas swasta.

Berita terkait