Rasa penasaran pada es kopi Vietnam yang dipesan Mirna

Es kopi Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Kasus kematian Mirna masih dalam proses hukum dengan tersangka Jessica Kumala Wongso

Beberapa bulan setelah meninggalnya Wayan Mirna Salihin karena minum kopi di restoran Olivier, Jakarta, masih banyak pengunjung yang datang hanya untuk memesan es kopi Vietnam.

Pada suau hari pertengahan Juni, sekitar pukul lima sore -yang memang saat untuk minum kopi atau teh- hampir semua tamu di restoran memesan kopi.

Sepasang pengunjung memesan es kopi Vietnam, yang diminum Wayan Mirna Salihin di restoran ini sebelum meninggal akibat keracunan sianida.

“Saya kebetulan dari Surabaya... Penasaran saja. Sama tempatnya juga”, kata Gabriel Budi. Temannya, Jessica, juga mengatakan hal yang sama, "Penasaran... Ini baru pertama.”

Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Es kopi Vietnam diseduh pelayan langsung di depan pemesan

Dan hingga waktu makan malam tiba, terlihat masih banyak pesanan kopi untuk beberapa meja.

Ramai di media sosial

Menurut salah seorang pelayan, sebelum insiden Mirna biasanya pesanan kopi akan berkurang setelah jam enam sore, namun sekarang sampai restoran mau tutup masih saja ada yang ingin memesan kopi.

"Iya biasanya banyak yang ngopilah”, kata Ilenk, salah seorang manajer di Restoran Olivier.

Di media-media sosial -seperti halaman blog dan instagram- juga terlihat banyak yang mengunjungi restoran ini -yang menjadi Tempat Kejadian Perkara atau TKP untuk kasus dugaan pembunuhan Mirna dengan tersangka Jessica Kumala Wongso.

Dalam kasus itu, es kopi Vietnam yang diminum Mirna mengandung racun sianida.

Dan bagi beberapa orang, insiden itu menjadi semacam sumber kreasi, misalnya di Instagram dengan tagar olivierjakarta terlihat banyak yang mengunggah foto es kopi Vietnam dengan tulisan ‘kopi yang fenomenal’ atau ‘kopi yang hits’.

Berfoto di TKP

Ini bukan kali pertama masyarakat Indonesia berbondong-bondong datang ke tempat berlangsungnya suatu insiden.

Hak atas foto GETTY IMAGES
Image caption Ini bukan kali pertama masyarakat Indonesia berbondong-bondong datang ke tempat berlangsungnya suatu insiden.

Awal tahun ini misalnya, lokasi serangan bom di kawasan Jalan Thamrin, Jakarta Pusat, sempat dijadikan ajang swafoto warga yang kemudian diterbitkan di media sosial.

Sementara pada April 2010 lalu, banyak warga yang datang untuk berfoto di lokasi bentroknya Satpol PP dengan warga di sekitar makam Mbah Priok karena rasa penasaran ingin melihat makam yang dipertahankan warga saat itu.

Menurut pengamat sosial, Devie Rahmawati, fenomena sosial itu adalah kombinasi beberapa faktor.

Hak atas foto GETTY IMAGES
Image caption Lokasi bom Jalan Thamrin juga sempat jadi ajang foto.

Pertama, karena karakter unik masyarakat Indonesia, "Uncertainties Avoidance (sikap menghindari ketidakpastian) rendah. Terbiasa dengan krisis, tidak melihat krisis sebagai teror... percaya ada invisible hand (kuasa tak terlihat) yang mengatur dinamika kehidupan.”

"Kalaupun cemas, tidak kemudian mengekspresikan secara langsung...untuk menjaga harmoni”, jelas Devie.

Devie melanjutkan, "Teknologi mendorong masyarakat kita untuk kemudian juga aktif untuk mewartakan kejadian yang menarik perhatian. Menarik perhatian karena tidak selalu terjadi... dan teknologi yang mendorong orang untuk selalu tampil.”

“Untuk masyarakat non-timur, (perilaku ini) aneh tidak masuk akal.”

Dan bisa jadi restoran Olivier masih akan terus kebanjiran pesanan es kopi Vietnam hingga sidang pembunuhan berakhir dan tidak menjadi perhatian lagi.

Berita terkait