Pelaku utama pembunuhan Salim Kancil divonis 20 tahun penjara

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Salim Kancil dibunuh pada 26 September 2015 karena menolak penambangan pasir ilegal di Pantai Watu Pecak di Desa Selok Awar-awar, Kecamatan Pasirian, kota Lumajang, Jawa Timur.

Dua orang pelaku utama pembunuhan petani dan aktivis anti tambang Salim Kancil telah divonis bersalah dan diganjar hukuman 20 tahun penjara oleh Pengadilan Negeri Surabaya, Kamis (23/06) siang.

Mantan Kepala Desa Selok Awar-awar di kota Lumajang, Jatim, Hariyono dan Ketua Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) setempat, Mat Dasir dinyatakan terbukti bersalah melakukan pembunuhan secara berencana.

"Terdakwa satu Hariyono dan terdakwa dua Mat Dasir telah terbukti secara sah dan menyakinkan melakukan tindak pidana dengan sengaja merampas nyawa orang lain dan dengan rencana terlebih dahulu," kata Ketua majelis hakim Jihad Arkhanuddin, dalam amar putusannya.

Vonis 20 tahun pidana penjara ini lebih ringan dibanding tuntutan hukuman seumur hidup yang diajukan jaksa.

Salim Kancil dibunuh pada 26 September 2015 karena sikapnya yang menolak penambangan pasir ilegal di Pantai Watu Pecak di Desa Selok Awar-awar, Kecamatan Pasirian, sekitar 18km dari kota Lumajang, Jawa Timur.

Tambang ilegal kepala desa

Temuan polisi menyebutkan Salim Kancil dikeroyok hingga tewas oleh Mat Dasir dan puluhan orang lainnya atas suruhan Hariyono. Rekan Salim, yaitu Tosan, menderita luka berat dan sempat dirawat di rumah sakit di Malang.

Dakwaan jaksa juga menyebutkan Hariyono saat menjabat kepala desa juga mengelola tambang ilegal.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Temuan polisi menyebutkan Salim Kancil dikeroyok hingga tewas oleh Mat Dasir dan puluhan orang lainnya atas suruhan Hariyono. Rekan Salim, yaitu Tosan, menderita luka berat dan sempat dirawat di rumah sakit di Malang.

Persidangan mulai digelar pada Februari 2016 lalu, dengan menghadirkan 35 terdakwa pelaku pengeroyokan. Adapun dua terdakwa lainnya disidang secara terpisah karena masih kategori anak-anak.

Usai vonis dibacakan, Jaksa penuntut umum Naimullah mengatakan pihaknya masih berpikir terkait putusan tersebut.

Adapun Hariono dan Mat Dasir belum menyatakan menerima atau menolak vonis tersebut. "Saya tidak pernah melakukan apa yang dilakukan seperti disampaikan hakim," kata Hariono.

Keluarga Salim Kancil dan Tosan mengaku kecewa terhadap putusan pengadilan tersebut. Tijah, istri Salim Kancil, menyebut, hukuman itu terlalu ringan.

Berita terkait