Indonesia akan 'alami dampak sementara' Inggris keluar dari Uni Eropa

Hak atas foto AFP
Image caption Rupiah melemah pasca Inggris memilih untuk keluar dari Uni Eropa

Dampak hengkangnya Inggris dari Uni Eropa terhadap perekonomian Indonesia hanya bersifat sementara, tetapi Indonesia mesti waspada terhadap kemungkinan 'efek putaran kedua', demikian gubernur Bank Indonesia dan pengamat.

"Kita melihat ini sesuatu yang wajar karena memang ada suatu flight to quality, tetapi secara umum kondisi ekonomi Indonesia baik, kita meyakini bahwa ini sifatnya temporer," kata Gubernur Bank Indonesia, Agus Wardoyo di Jakarta, Jumat (25/06).

Menurutnya, dampak itu terlihat pada pasar keuangan, tetapi tidak pada hubungan langsung kedua negara karena nilai perdagangannya "tidak terlalu besar".

Agus menganggap keputusan Inggris dari Uni Eropa masih berproses dan bakal memakan waktu sehingga pihaknya terus melihat perkembangannya.

Pada penutupan perdagangan Jumat (24/06) sore, IHSG sempat melemah 39,74 poin atau 0,82% ke level 4.834,5. Adapun kurs rupiah melemah 1,08% ke posisi Rp13.391 per dolar AS.

Komisaris Independen Bank Mandiri, Goei Siauw Hong, mengatakan dampak perdagangan ke Indonesia tidak akan besar dan akan lebih terasa pada perdagangan antara Inggris dan Eropa.

“Secara currency (kurs) dampak jangka pendek itu akan ada di aset safe haven (aset yang nilainya cenderung tetap walau terjadi gejolak pasar, seperti emas dan dolar amerika)…. Makanya dolar jadi menguat kan sekarang terhadap most of currency (kebanyakan kurs). Justru rupiah sedikit melemah,” katanya kepada wartawan BBC Indonesia, Mehulika Sitepu, Jumat (24/06).

Efek putaran kedua

Sementara, analis senior BCA, David Sumual, mengatakan melemahnya rupiah dan IHSG (indeks harga saham gabungan) hanya reaksi sementara pasar.

Dia mengatakan yang perlu dikuatirkan adalah efek putaran kedua seperti yang terjadi di tahun 2008 lalu.

“Kita khawatir beberapa bank global ini kondisi keuangannya masih bermasalah. Bisa memicu domino effect (efek domino) ke pasar finansial global yang memicu global financial crisis (krisis keuangan global)," kata David.

Hak atas foto AFP
Image caption Pada penutupan perdagangan Jumat (24/06) sore, IHSG sempat melemah 39,74 poin atau 0,82% ke level 4.834,5. Adapun kurs rupiah melemah 1,08% ke posisi Rp13.391 per dolar AS.

“Namun jika tidak terjadi efek putaran kedua seperti yang dikhawatirkan, maka dampaknya untuk emerging market (pasar berkembang seperti Cina, India dan Indonesia) akan positif," tambahnya.

Menurut David, pemerintah Indonesia dapat ‘melindungi’ ekonomi Indonesia dengan melakukan swap arrangement (peminjaman kurs asing) dengan bank-bank sentral lain serta membuat anggaran yang konservatif karena resiko global yang masih relatif tinggi.

Keputusan Inggris meninggalkan Uni Eropa telah mengguncang pasar keuangan dunia. Pasar saham London sempat anjlok lebih dari 8%, sementara nilai mata uang poundsterling jatuh ke level terendah dalam kurun 30 tahun terakhir.

Pasar Eropa lainnya juga mulai turun tajam, sementara pasar saham di Asia pun tergunjang seperti yang terlihat dipasar saham Tokyo yang turun 8% lebih rendah.

Berbagai kalangan yang berkecimpung di pasar keuangan mengatakan mereka belum pernah melihat kejadian dramatis seperti ini sejak krisis keuangan tahun 2008.

Berita terkait