Mahasiswa Papua di Yogyakarta 'belum merasa aman'

Hak atas foto Yaya Ulya
Image caption Polisi dilaporkan menghadang pintu depan dan pintu belakang asrama sejak pagi, sehingga sekitar 60-70 mahasiswa Papua di dalam tidak bisa keluar.

Pengepungan terhadap asrama mahasiswa Papua di Yogyakarta pekan lalu membuat mahasiswa Papua di sana masih merasakan kekhawatiran dan tidak merasa aman, terutama terhadap aksi ormas yang terlibat dalam mengintimidasi mereka.

Sejumlah mahasiswa Papua yang tinggal di asrama mahasiswa asal provinsi paling timur Indonesia di Yogyakarta itu merasa khawatir dengan keamanan mereka.

Kekhawatiran yang beralasan setelah akhir pekan lalu polisi menutup akses ke asrama dan menangkap setidaknya tujuh mahasiswa di beberapa tempat.

"Rasa sakitnya masih ada. Aktivitas kami juga masih was-was. Ada bahasa-bahasa yang dikeluarkan, kan, ada 'monyet, anjing, pulang ke Papua', seakan-akan bahasa itu masih benci kami sampai saat ini."

"Kemudian ada gerakan fisik yang coba mereka (ormas) lakukan, yang pertama mereka coba masuk ke dalam asrama, mereka juga sempat tendang-tendang pintu gerbang belakang sama depan. Mereka tidak diamankan," kata Aris Yeimo, Ketua Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Papua.

Dalam pengepungan akhir pekan tersebut, aksi damai mahasiswa Papua dan aktivis prodemokrasi mendukung Persatuan Pergerakan Pembebasan untuk Papua Barat atau United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) dibubarkan oleh ratusan polisi dan ormas.

Heru Wintoko, ketua generasi muda FKPPI di Yogyakarta -salah satu ormas yang mendatangi asrama- membantah bahwa tindakan organisasinya menimbulkan kecemasan.

"Kita cuma orasi di depan situ (asrama). Kita cuma menyampaikan bahwa di Yogyakarta itu, mahasiswa kuliah ya kuliah, belajar ya belajar, jangan ada semacam kegiatan yang..apalagi di Yogyakarta, penyebaran pamflet, pengibaran bendera yang Bintang Kejora, simbol-simbol yang aksi itu seperti makar," kata Heru.

Heru juga membantah bahwa FKPPI terlibat dalam pengepungan.

"Enggak, kita nggak mengepung, itu kan cuma sebentar terus kan pulang," ujarnya.

Kontras menyesalkan

Baik tindakan intimidasi oleh ormas maupun aksi pengepungan asrama mahasiswa Papua di Yogyakarta oleh polisi disesalkan oleh Koordinator Kontras Haris Azhar.

Aksi mereka, menurut Haris, termasuk sebagai upaya 'menyebarkan intoleransi dan membangun persepsi buruk tentang Papua'.

Rencana penggunaan bendera Bintang Kejora dalam aksi damai, menurut Haris, seharusnya tak bisa menjadi dasar ormas melakukan aksi yang disebutnya sebagai penyerangan terhadap warga sipil Papua.

"Kalaupun membawa bendera Bintang Kejora dengan motif mendorong kemerdekaan Papua, tapi jika disampaikan dengan cara yang damai, pertanyaannya yang masuk kategori tindak pidana yang mana, membahayakan orang lain, tidak, mengancam keutuhan NKRI juga tidak," kata Haris.

Polisi menahan sedikitnya 22 mahasiswa Papua yang hendak memasuki asrama di Yogyakarta.

Sebelumnya, pada akhir Juni lalu, polisi di Kota Malang, Jawa Timur, sempat menangkap 26 mahasiswa Papua yang berunjuk rasa menuntut referendum karena dianggap tidak memiliki izin demonstrasi dan juga dinilai menghina lambang negara.

Berita terkait