Merry Utami luput dari eksekusi di Nusakambangan

Merry Utami Hak atas foto Getty
Image caption Pihak keluarga dan pengacara bersikukuh bahwa Merry Utami adalah korban sindikat narkoba.

Dari 10 terpidana mati yang luput dari eksekusi di Nusakambangan, pada Jumat (29/07) dini hari, Merry Utami merupakan salah satu di antara mereka. Pengacaranya mengaku telah mengajukan permohonan grasi ke Presiden Joko Widodo, pada Selasa (26/07).

"Kami mengajukan grasi sebagai upaya hukum terakhir dan itu harus dihormati dan Merry seharusnya tidak dieksekusi sebelum ada putusan grasi," kata Ricky Gunawan dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Masyarakat.

Berdasarkan Pasal 10 Undang-Undang Nomor 5 tahun 2010 tentang perubahan atas UU Nomor 22 tahun 2002 tentang grasi, Mahkamah Agung memiliki 30 hari dalam mengirimkan pertimbangan grasi secara tertulis kepada presiden.

"Sehingga klien kami masih punya kesempatan," kata Ricky.

Ricky menambahkan, pihaknya juga belum mendapat salinan putusan penolakan Peninjauan Kembali dari Mahkamah Agung.

Pada Jumat (29/07) dini hari regu tembak di Pulau Nusakambangan mengeksekusi empat terpidana mati. Padahal sebelumnya, terdapat 14 terpidana yang dikumpulkan untuk dieksekusi.

Hingga saat ini belum jelas apakah eksekusi terhadap Merry dan 9 terpidana mati lainnya ditunda atau dibatalkan Kejaksaan Agung.

Korban sindikat narkoba

Ricky mengklaim bahwa Merry adalah korban dari sindikat perdagangan narkoba.

"Dia diminta membawa tas yang isinya narkoba oleh lelaki yang awalnya membayari liburan ke Nepal. Nah itu modus yang banyak dilakukan oleh para sindikat, korbannya adalah perempuan miskin," kata Ricky.

Keyakinan bahwa Merry tak bersalah dan menjadi korban dalam kasus ini juga disampaikan oleh salah seorang kawan Merry ketika kecil.

"Merry hanyalah korban," katanya sambil menyeka air mata.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Merry Utami ditangkap di bandara Sukarno-Hatta karena membawa 1,1 kg heroin.

Dia mengatakan terakhir bertemu dengan Merry di LP khusus untuk perempuan di Tangerang dua tahun lalu dan setelah itu berkomunikasi melalui pesan pendek (SMS).

"Banyak SMS yang saya terima dan tidak saya hapus ... kami tak pernah membahas tentang hukum, hanya nostalgia masa kecil dan meminta saya berdoa untuknya," katanya.

Di LP Tangerang Merry membuat berbagai barang kerajinan, salah satunya sampul Alkitab dan pohon Natal.

"Dia mengirim saya ini, hasil buatannya sendiri," jelas sahabat Merry sambil membawa pohon Natal berukuran sekitar 20 centimeter dan sampul Alkitab yang terbuat dari manik-manik.

Merry ditangkap di bandar udara Sukarno-Hatta, Jakarta, pada Oktober 2001 karena membawa 1,1 kilogram heroin.

Ia diajukan ke pengadilan dan kemudian divonis hukuman mati.

Berita terkait