Baru dua terduga perusuh Tanjung Balai ditangkap

rusuh Tanjung Balai Hak atas foto ALIANSI SUMUT BERSATU
Image caption Dari sembilan yang ditangkap, hanya dua yang diduga pelaku kekerasan.

Sehari sesudah terjadinya pembakaran dan perusakan sejumlah biara dan kelenteng, kehidupan di Tanjung Balai, Sumatera Utara, kehidupan berangsur pulih, tapi ketegangan masih terasa.

"Kegiatan ekonomi sudah lancar. Orang jualan sudah normal. Warga keturunan Cina juga sudah tampak di luaran," kata Arsyad, seorang wartawan di tanjung balai.

"Tapi polisi dan tentara masih berjaga ketat di beberapa tempat, khususnya di rumah-rumah ibadat umat Budha (dan Kong Hu Tsu)," tambahnya.

Sejauh ini, selain lima orang yang diduga menjarah, polisi baru menangkap dua orang yang diduga terlibat dalam aksi kerusuhan itu.

Kapolri Jenderal Tito Karnavian, yang kembali dari Tanjung Balai, mengatakan, "Ada sembilan orang yang sudah diamankan."

"Tujuh di antaranya orang yang diduga melakukan penjarahan saat terjadinya pembakaran, dan dua orang lainnya yang terekam CCTV (kamera pemantau) saat peristiwa itu terjadi," kata Tito kepada wartawan yang menunggunya di bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Minggu (31/7).

Ia tak menjelaskan, mengapa dari begitu banyak pelaku yang terekam di berbagai video, hanya dua yang sudah ditangkap.

Hak atas foto ALIANSI SUMUT BERSATU
Image caption Menurut kapolri, kerusuhan terutama dipicu oleh seruan provokatif di media sosial.

Tito menyebut sudah dilakukan pertemuan dengan berbagai elemen masyarakat termasuk tokoh masyarakat, tokoh Forum Kerukunan Umat Beragama, bersama pimpinan kepolisian dan setempat -termasuk usur Angkatan Laut, mengingat Tanjung Balai merupakan kota pesisir.

"Penegakan hukum terus dilakukan, dialog juga tetap jalan. Juga rekonstruksi dan pembersihan rumah ibadat yang dibakar, sudah mulai dilakukan."

Sebelumnya, Ketua Yayasan Vihara Tri Ratna, Pek Ciong Lie kepada wartawan mengaku tak mengerti mengapa kerusuhan itu terjadi.

"Selama ini rasanya semua baik-baik saja. Tak ada persaingan antar etnis, atau apa. Kalau ada keributan kecil, kan biasa saja, normal. Padahal sebelumnya berbilang tahun harmonis saja," katanya.

Kepala Polisi Jenderal Tito Karnavian menengarai, kasus ini meledak terutama karena provokasi melalui media sosial.

"Yang paling jadi masalah adalah media sosial. Ada seruan yang provokatif, saat berlangsung dialog" menyusul 'kesalah-pahaman' di awal keributan.

"Sehingga warga secara sporadis melakukan aksi kekerasan dengan membakar tiga rumah, dan sejumlah vihara, kelenteng dan kendaraan,"

Tito memperingatkan kepada para pengguna media sosial, bahwa seruan provokasi kekerasan diancam oleh pasal pidana.

Berita terkait