Kisah dua orang warga Tanjung Balai setelah kerusuhan berakhir

Hak atas foto Maskur Abdullah
Image caption Edi Lho berada di dalam kelenteng yang sebagian sudutnya hangus terbakar.

Siang itu, pria berkaca mata minus dan berkulit kuning langsat itu tengah berada di dalam tempat ibadah kaum Konghucu yang sebagian dinding, tiang dan patung-patungnya sudah berubah menjadi kehitaman.

Edi Lho, begitulah dia mengenalkan diri. Dia adalah pengelola sebuah kelenteng di pusat kota Tanjung Balai, Sumatra Utara, yang dibakar oleh sekelompok orang pada Sabtu (30/07) dini hari lalu.

Wartawan di Medan, Maskur Abdullah menemuinya pada hari Rabu (07/08) yang terik. Mengenakan celana pendek dan berkaos hitam, mata Edi sesekali menatap lama sudut-sudut bangunan yang hangus terbakar.

Hak atas foto Maskur Abdullah
Image caption Denyut ekonomi kota Tanjung Balai terlihat normal seperti tidak pernah terjadi kerusuhan.

Walaupun sebagian lantai bangunan kelenteng Dewi Samudera di pusat kota Tanjung Balai, terlihat bersih, aroma jelaga masih tercium.

Mata Edi terkadang menerawang, ketika mencoba mengingat lagi ketika massa beringas membakar tempat ibadahnya.

"Hangus semua, terbakar," suaranya lirih beradu dengan bunyi palu tukang dan raungan becak motor. Dia kemudian menghela napasnya.

"Altar, tempat dupa, ornamen-ornamen, sekalian (patung) dewa-dewanya habis semua."

Hak atas foto Maskur Abdullah
Image caption Aparat keamanan, baik TNI atau polisi, masih terlihat menjaga di depan rumah ibadah.

Sebagai pengelola kelenteng itu, Edi layak merasa sedih - seperti juga yang dirasakan para korban kerusuhan lain di kota itu yang bangunan kelenteng dan viharanya dirusak atau dibakar.

Tetapi, sepertinya dia tidak mau menyalahkan siapa-siapa - atau tidak mau berterus-terang karena berbagai alasan.

Ketika ditanyakan apa yang dia pikirkan setelah rumah ibadahnya dibakar massa, dari mulutnya justru terlontar: "Ya namanya kejadian spontanitas, apalagi mau dibilang."

Tidak lama setelah kerusuhan Tanjung Balai berhasil diredahkan, keterangan resmi pemerintah menyebutkan aksi beringas massa itu akibat kesalahpahaman. Dikutip televisi dan media lainnya, pernyataan itu seperti itu terus diulang-ulang. Edi pun mengulanginya.

"Namanya pun ada kesalahpahaman sikit (sedikit) itu 'kan."

Hak atas foto maskur abdullah
Image caption Sudut lain kota Tanjung Balai, Rabu (03/08), yang terlihat lengang.

Temuan awal kepolisian mengungkapkan kerusuhan itu diawali permintaan seorang ibu agar sebuah masjid mengecilkan suara volume alat pengerasnya.

Rupanya, tindakan ini tidak bisa diterima, sehingga menimbulkan kemarahan sejumlah orang, walaupun akhirnya diredahkan oleh pimpinan lingkungan setempat. Polisi juga sempat turun tangan.

Sempat redah, tetapi beberapa jam kemudian muncul massa beringas yang membakar dan merusak sejumlah bangunan vihara, kelenteng dan kendaraan pribadi.

Sekali lagi, Edi tidak mau menyalahkan siapa-siapa. "Hubungan kami selama ini baik, baik..." Dia mengutarakan kalimat itu berulang-ulang.

Hak atas foto WALUBI SUMUT
Image caption Para pemuka agama, tokoh masyarakat, TNI, polisi, pimpinan sipil kota Tanjung Balai bersepakat untuk menjaga kerukunan setelah kerusuhan.

Dia kemudian mengingat-ingat lagi pengalaman baik di antara dirinya dan warga setempat.

"Kalau kita bikin-bikin acara," ungkapnya, "warga lokal ada yang datang juga. Ikut merayakan gitu. Partisipasilah."

Kini, dia ingin bangunan ibadahnya yang hangus itu segera dapat diperbaiki. Agar aktivitas ibadah dapat digelar lagi, katanya.

Sejumlah pemberitaan menyebutkan sehari setelah kerusuhan, aparat TNI, polisi dan dibantu masyarakat, berpartiipasi aktif membersihkan bekas lokasi kerusuhan.

Di akhir wawancara, Edi mengutarakan sebuah kalimat yang barangkali paling sering diulang-ulang setiap terjadi kerusuhan atau konflik horisontal.

Hak atas foto Aliansi Sumut Bersatu
Image caption Sejumlah vihara dan kelenteng mengalami kerusakan setelah diserang massa.

"Kalau bisa kerukunan itu harus ada. Jangan terulang kayak begini lagi. Sama-sama rukun sajalah." Nadanya terdengar bijak.

"Silaturahmi sajalah. Paling itu yang bisa kita usahakan. Akur-akur saja". Itulah kalimat terakhir yang keluar dari mulutnya.

Puncak masalah

Di luar kelenteng itu, kesibukan kota terus berlanjut. Orang-orang hilir mudik, kehidupan ekonomi kota Tanjung Balai terus berdenyut, walaupun sejumlah aparat TNI dan polisi masih terlihat berjaga-jaga di depan vihara, kelenteng atau masjid.

Hak atas foto Aliansi Sumut Bersatu
Image caption Sebuah vihara yang menjadi korban serangan saat kerusuhan.

Di luar kehadiran aparat keamanan, sepertinya normal-normal saja. Warga kota itu, baik warga Melayu, Tionghoa atau lainnya, berbaur seperti sebelum rusuh itu mengoyak kota pinggir pantai itu - dan melukainya.

Suara azan dan suara orang mengaji, dari alat pengeras suara masjid, juga terus terdengar. Seperti tidak ada yang berubah setelah amuk massa empat hari lalu.

Di sudut kota Tanjung Balai, seorang pria muda Muslim pun bersuara. Andi, begitu namanya, melontarkan asumsinya atas kerusuhan yang baru terjadi.

Hak atas foto ALIANSI SUMUT BERSATU
Image caption Saat kerusuhan terjadi yang mengakibatkan kerusakan sejumlah tempat ibadah.

Perusakan dan pembakaran tempat ibadah itu, demikian ungkapnya, adalah "puncak" dari masalah yang selama ini "terpendam"."Kita sudah lama memendamnya," akunya terus-terang.

Dia menyalahkan pemerintah kota Tanjung Balai yang disebutnya "menindas" dan lebih sering menyenangkan sebagian komunitas masyarakat di kota itu.

Tetapi pada akhirnya, kalimatnya tidak lagi meledak-ledak. Seperti yang sering terlontar dari mulut Edhi, Andi mengeluarkan kalimat yang menenangkan pula di akhir wawancara: "Kita mestinya saling menghargai, walau beda etnis atau agama."

Berita terkait