Tempat produksi makanan 'Bikini' digerebek, produsen masih bebas

Hak atas foto INSTAGRAM SNACKBIKINIJAKARTA
Image caption Bikini Snack dipasarkan melalui media sosial Instagram.

Aparat telah menemukan tempat produksi makanan ringan ‘Bikini’ di Depok, Jawa Barat, pada Sabtu (06/08). Walau ratusan kemasan makanan tersebut telah disita, pembuatnya masih dibiarkan bebas.

Menurut Kepala Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) Bandung, Abdul Rahim, pembuat makanan ringan ‘Bikini’, yang merupakan akronim dari Bihun Kekinian, adalah seorang perempuan berusia 19 tahun dengan inisial Tw.

Abdul menjelaskan produk makanan Bikini tidak memiliki izin edar sehingga bisa dikatakan sebagai produk ilegal. Berdasarkan UU No 18 tahun 2012 tentang Pangan, pelaku yang memproduksi barang ilegal dapat dihukum dua tahun kurungan dan denda paling banyak Rp4 miliar.

Meski demikian, Abdul mengaku pihaknya tidak memiliki kewenangan menahan.

"PPNS (Penyidik Pegawai Negeri Sipil) tidak mempunyai kewenangan menahan. Biasanya kalau berkas sudah selesai P21, kita serahkan ke kejaksaan. Di situ bisa ditahan oleh jaksa," kata Abdul kepada wartawan di Bandung, Julia Alazka, Sabtu (06/08).

Hak atas foto Julia Alazka
Image caption Ratusan kemasan Bikini Snack disita dari tempat produksi di Sawangan, Depok, Jawa Barat.

Sementara itu, Kepala Bidang Humas Polda Jabar, Kombes Pol Yusri Yunus mengatakan, pihaknya kesulitan memproses kasus makanan ringan Bikini karena belum ada laporan dari masyarakat. Meski demikian, Polda Jabar sudah membentuk tim untuk menyelidiki kasus yang dinilai mengandung unsur pornografi.

"Yang kita butuhkan sekarang itu, laporan. Kalau memang merasa sudah lihat (barangnya) bikin saja laporan. Baru kita tindak lanjuti," ujar Kombes Pol Yusri Yunus.

Apakah produsen makanan Bikini bisa dijerat UU Pornografi? Mengenai hal itu, Yusri enggan menjawabnya.

"Saya belum bisa ngomong sebelum ada laporan," pungkasnya.

Produk rumahan

Makanan ringan Bikini, sebagaimana diungkapkan Kepala Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) Bandung, Abdul Rahim, diproduksi di sebuah rumah di Sawangan, Depok, Jawa Barat.

Penggerebekan di rumah tersebut dilakukan pukul 00.15 WIB, Sabtu (06/08).

Dari aksi tersebut, BBPOM beserta Koramil dan Polsek Sawangan menyita 144 kemasan makanan Bikini, 3.900 lembar kemasan primer, 15 bungkus bumbu, 40 bungkus, dan aneka peralatan produksi sebanyak lima unit.

Abdul mengatakan rumah produksi makanan Bikini, yang juga merupakan rumah Tw, langsung ditutup. "Yang di pasaran kita minta mereka tarik atau musnahkan," ujar Abdul.

Hak atas foto INSTAGRAM SNACKBIKINIJAKARTA
Image caption Pada kemasan Bikini Snack tertera tulisan, "Remas Aku".

Makanan ringan Bikini memancing reaksi dari berbagai pihak karena kemasannya yang memuat gambar bagian tubuh perempuan yang hanya mengenakan bra dan rok. Pada kemasan ada tulisan "Remas Aku". Produk tersebut dijual secara online melalui akun instagram @bikini_snack.

Abdul menyebut Tw mengaku memasarkan produk sejak Maret 2016 dengan harga Rp18.000 per bungkus.

Produk itu awalnya merupakan proyek penelitian Tw dan empat temannya yang menjadi peserta kursus Young Entrepreuneur Academy di Kota Bandung pada 2015 lalu.

Tw kemudian melanjutkannya dengan menjual produk tersebut ke pasaran pada Maret 2016. Selama itu, dia telah memproduksi 11.000 bungkus yang dijual ke berbagai daerah di Indonesia berdasarkan pesanan online.

Kasus ini, kata Abdul, akan terus didalami oleh BBPOM termasuk menguji kandungan makanan yang dijual dalam kemasan 50gram itu.

Berita terkait