Jokowi ingin turunkan pajak perusahaan setara Singapura

jokowi dan sri mulyani Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Jokowi memilih Sri Mulyani yang terkenal dengan kebijakan fiskalnya sebagai menteri keuangan yang baru.

Presiden Jokowi mempertimbangkan memotong pajak perusahaan menjadi 17%, sama seperti yang diberlakukan di Singapura.

Menurut kantor berita Reuters, argumen Presiden Jokowi adalah jika pajak perusahaan di Singapura sebesar 17% sedang Indonesia 25%, maka investor akan pergi ke Singapura.

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Thomas Lembong, mengakui jika perbedaan pajak pendapatan antara Indonesia dan Singapura mendorong banyaknya perusahaan melakukan transfer pricing.

“Seperti yang dikatakan Presiden, kita hidup di era kompetisi. Tarif pajak adalah satu aspek signifikan dari kompetisi ekonomi internasional. Kita lihat Irlandia, ada alasan mengapa semua perusahaan teknologi Amerika menempatkan kantor pusat Eropa mereka di Irlandia. Ini adalah realita kompetisi ekonomi global,” kata Tom Lembong, ditemui di acara makan siang bersama wartawan asing di Indonesia.

Peneliti kebijakan perpajakan, Yustinus Prastowo, meski setuju dengan penurunan tarif, menganggap ide tersebut tidak serta-merta menyelesaikan masalah investasi asing di Indonesia.

Yustinus berkata jika Indonesia menggunakan tarif pajak sebagai insentif menarik investor, pasti akan kalah dengan Singapura. Untuk itu Indonesia harus bersaing dengan kebijakan nontarif: fasilitas dan kemudahan berbisnis.

“Memang yang mendorong transfer pricing adalah perbedaan tarif pajak antar dua negara yang cukup ekstrem. Tetapi yang memberi insentif wajib pajak melakukan transfer pricing adalah kelemahan regulasi sehingga menciptakan loopholes. Kedua, kompetensi aparatur pajak. Ketiga, kemampuan otoritas pajak untuk melakukan penegakan hukum. Tarif hanya penggerak wajib pajak melakukan transfer pricing," jelas Yustinus.

Menurut Yustinus, menggerakkan sektor riil adalah kunci jika ingin menarik investor.

“Kita bisa perbaiki perizinan, infrastuktur, kepastian hukum, tumpang tindih peraturan, itu pekerjaan rumah yang lebih tepat harus diselesaikan saya kira,” kata Yustinus.

Kalah dari Vietnam

Hak atas foto Hoang Dinh Nam AFP Getty
Image caption Saingan terbesar Indonesia di sektor manufakturing saat ini adalah Vietnam.

Di sektor manufakturing, Tom Lembong mengaku Indonesia sudah kalah dari Vietnam.

Tahun lalu total ekspor bukan minyak dan gas Indonesia mencapai US$140 miliar (Rp1.800 triliun). Sedang Vietnam, yang ekonominya hanya sepertiga besar ekonomi Indonesia, mencapai US$150 miliar (Rp1.900 triliun).

Ada dua pilihan kata Tom Lembong: mengejar Vietnam dengan mencari investor menufaktur atau memprediksi siklus ekonomi berikutnya.

Tom melihat Indonesia memiliki kesempatan di siklus ekonomi mendatang: aplikasi teknologi, jasa, kreativitas dan yang berkaitan dengan hak miliki intelektual.

Oleh karena itu, Tom akan menggenjot investasi di sektor jasa seperti pendidikan, kesehatan, makanan dan minuman serta pariwisata.

“Dari perspektif industri, sektor ini sangat padat karya. Saya melihat ini dapat menciptakan lapangan pekerjaan,” kata Tom Lembong.

Berita terkait