Terduga pelaku serangan di gereja Medan 'terinspirasi' teror Prancis

Simbol Hak atas foto POLDA SUMUT
Image caption Polisi menemukan simbol ISIS di dalam dompet terduga pelaku serangan.

Terduga pelaku serangan pisau di gereja Katolik di Medan, Sumatera Utara mengaku terinspirasi serangan teror di Prancis, kata Kapolres kota Medan, Kombes Mardiaz Kusin Dwihananto, Minggu (28/08) malam.

"Dia mengatakan bahwa melihat internet tentang kejadian di Prancis sehingga terinspirasi, namun untuk pendalamannya kita masih menunggu tim penyidik," kata Mardiaz kepada wartawan di Medan, seperti dilaporkan wartawan Radio KISS FM Medan, Jonris Purba untuk BBC Indonesia.

Penyerang menyamar sebagai jemaat dan ikut misa di Gereja Santo Yosep, Medan, sekitar pukul delapan pagi, Minggu (28/08), sebelum menyalakan benda mirip petasan atau bom sebelum menyerang pastor Albert Pandiangan dengan pisau.

Direktur Kriminal Umum Polda Sumatera Utara Komisaris Besar Nur Falah, Minggu (28/08) siang, mengatakan, terduga pelaku juga mengaku "disuruh oleh seseorang."

Namun demikian, lanjutnya, terduga pelaku yang berinisial IAH belum menjelaskan siapa orang yang menyuruh aksi serangan tersebut. "Pelaku masih bungkam," tambah Nur Falah.

Polisi juga masih menyelidiki kemungkinan keterkaitan kasus ini dengan kelompok yang menyebut dirinya Negara Islam atau ISIS setelah menemukan simbol kelompok tersebut di dalam dompet terduga pelaku serangan.

Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Polisi melakukan penjagaan di depan gereja setelah serangan.

"Kita belum bisa menyimpulkan (kemungkinan keterkaitan dengan ISIS)," tambahnya.

Di tempat terpisah, Kapolri Jendral Tito Karnavian mengatakan, pihaknya masih menyelidiki motif pelaku dalam serangan tersebut, apakah murni peorangan atau melibatkan jaringan.

"Apakah ini perorangan yang disebut lone wolf, artinya dia mengunggah website-website internet, (lalu) chatting, yang radikal, kemudian dia melakukan aksi sendiri, tanpa ada jaringan atau orang yang menyuruh," kata Tito kepada wartawan di kota Padang, Sumatera Barat, Minggu (28/08).

"Atau, dia bagian dari jaringan. Ini yang sedang kita selidiki. Tim dari Polda, Mabes, sudah kumpul di sana (Medan)," tambah Tito.

Barang bukti

Ditanya barang bukti apa saja yang disita dari rumah tersangka, <span >Kapolres kota Medan, Kombes Mardiaz Kusin Dwihananto, pihaknya menemukan kabel, korek api, buku-buku terkait robotik<span >.

Hak atas foto KANISIUS
Image caption Pastor Albert Pandiangan terluka lengannya akibat serangan pisau.

Tentang status hukum IAH, Kapolres mengatakan pihaknya untuk sementara menjerat yang bersangkutan dengan UU antiterorisme.

"Kita sangkakan pasal terorisme, kemudian juga UU Darurat dan juga pasal 340 dan 338 KUHP untuk subsidernya," ungkapnya.

Terduga pelaku yang berusia sekitar 18 tahun adalah lulusan sebuah sekolah menengah atas di kota Medan. Dia adalah anak ketiga dari tiga bersaudara.

Dia tinggal bersama keluarganya di Kecamatan Medan Selayang. Erlina, salah-seorang tetangganya, tidak menyangka pria yang digambarkan pendiam dan tertutup itu melakukan serangan di sebuah gereja.

"Kelakuannya baik sehari-hari. Keluarganya juga baik semua. Apalagi kakaknya yang perempuan itu. Kalau saudara-saudaranya bergaul dengan tetangganya," kata Erlina kepada wartawan Radio KISS FM Medan, Jonris Purba.

Hak atas foto POLDA SUMUT
Image caption Polisi menemukan simbol ISIS di dalam dompetnya.

Sementara, wartawan Harian Sumut Pos, Tedi Akbari yang mewawancarai beberapa warga di sekitar rumah orang tua terduga pelaku, mengatakan IAH adalah sosok yang tertutup.

"Terduga pelaku jarang beraktivitas di lingkungannya. Bertegur sapa pun tidak pernah," kata Tedi, mengutip ulang keterangan warga setempat.

Mencurigakan

Sebelum menyerang pastor Albert Pandiangan, 60 tahun, dengan pisau, IAH menyamar sebagai jemaat dan duduk mengikuti misa sekitar 08.00 di Gereja Santo Yosep.

Seorang saksi mata, Randa, sejak awal melihat gerak-gerak pelaku yang mencurigakan. "Mau coba menyambung kabel ketika acara. Umat (gereja) yang melihatnya juga bingung, kenapa saat ibadah, dia malah sibuk dengan aksinya sendiri," ungkap Randa.

Saksi lainnya, Timbas Pasrat Ginting mengatakan pelaku mulai melakukan aksinya saat pastor memimpin ibadah dengan membaca Injil. "Ketika dia berdiri, sumbu bomnya sudah menyala. Kemudian meledak seperti mercon," kata Ginting yang duduk di belakang.

Hak atas foto AP
Image caption Kapolri Tito Karnavian mengatakan polisi masih menyelidiki motif serangan di gereja Katolik di Medan.

Saat itulah, timbul kegentingan di dalam gereja. "Riuh, panik, panik sebagian jemaat berlarian keluar, terutama ibu-ibu, berhamburan keluar, ada teriakan seperti orang histeris," ungkapnya

Menurutnya, pelaku kemudian mendekati pastor yang tengah berdiri di altar. "Kemudian aksinya dihentikan jemaat, dilumpuhkan," katanya.

'Mau membunuh pastor'

Media playback tidak ada di perangkat Anda

Hasil penyelidikan polisi mengatakan tersangka sempat meledakkan benda seperti petasan sebelum berusaha menyerang pastor Albert Pandiangan, kata Direktur Kriminal Umum Polda Sumatera Utara Komisaris Besar Nur Falah.

"Tetapi tidak meledak, hanya mengeluarkan api dan asap saja," ungkapnya.

Setelah itu, lanjutnya, terduga pelaku mengejar pastor ke tempat mimbar. "Ternyata dia mau membunuh pastor dengan menggunakan pisau, namun hanya mengenai bagian tangan," papar Nur Falah.

"Setelah itu dia dikejar oleh umat dan ditangkap," tambahnya.

Serangan di gereja Katolik di Medan ini terjadi setelah aksi pembakaran sejumlah vihara dan kuil di kota Tanjung Balai, kira-kira empat jam perjalanan darat dari kota Medan.

Temuan polisi menyebutkan aksi kerusuhan pada awal Agustus ini dipicu oleh protes seorang warga yang merasa terganggu alat pengeras suara dari sebuah masjid di kota tersebut.

Berita terkait