Polisi masih menahan pegiat antiproyek reklamasi Teluk Benoa

Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Para pegiat antireklamasi Teluk Benoa berkumpul di halaman Polda Bali, menunggui pemeriksaan terhadap Wijaya.

Kepolisian Daerah (Polda) Bali masih memeriksa pegiat gerakan Tolak Reklamasi Teluk Benoa I Gusti Putu Dharma Wijaya, yang ditangkap Rabu (07/09), tepat pada saat umat Hindu sedang merayakan hari Raya Galungan.

Namun polisi berkilah bahwa penangkapan dan penahanan itu dimaksudkan untuk menekan gerakan antireklamasi Teluk Benoa yang sudah berlangsung bertahun-tahun.

Kapolda Bali Irjen Pol Sugeng Priyanto mengatakan, “Ini bukan kriminalisasi (terhadap gerakan antireklamasi), dan tidak ada kaitannya dengan masalah itu. Bahkan unjuk rasa itu dibolehkan asal tidak melanggar hukum,” katanya Kamis (08/09) di Polda Bali.

Dituturkan wartawan di Denpasar, Gita Elhasni, Kapolda menyebutkan bahwa I Gusti Putu Dharma Wijaya ditangkap dan diinterogasi untuk perbuatannya yang dituding melecehkan bendera Merah Putih.

Peristiwa yang dimaksud adalah unjuk rasa pada Kamis, 25 Agustus 2016 di DPRD Bali, berkaitan dengan tindakan sejumlah orang yang menurunkan bendera dan kemudian mengibarkannya kembali setelah menempatkan bendera Forum Bali Tolak Reklamasi (ForBali) di bawahnya.

Menurut Kapolda, tindakan ini bisa dianggap pelecehan terhadap simbol negara sesuai pasal 24 UU Nomor 24 tahun 2009 tentang Pelecehan Simbol Negara dengan ancaman hukum maksimal lima tahun penjara atau denda Rp500 Juta.

Pulau-pulau

Namun dalam UU itu, perbuatan yang bisa digolongkan pidana itu adalah merobek dan menginjak-nginjak bendera 'atau perbuatan lain yang dimaksudkan sebagai bentuk pelecehan.'

Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Polisi menyebut penangkapan dilakukan terkait pengibaran bendera tolak reklamasi di bawah bendera Merah Putih.

Polisi sempat menangkap aktivis berusia 20 tahun itu dan memeriksanya selama lima jam di Polda Bali.

Ratusan pegiat antireklamasi berkumpul di Polda Bali sambil sesekali berteriak menuntut pembebasan Wijaya.

Akhirnya Wijaya tak jadi ditahan dan diperbolehkan pulang dengan jaminan dari para tokoh Desa Adat dan anggota DPRD Bali AA Adhi Ardhana, namun harus kembali menjalani pemeriksaan di Polda Bali, Kamis (08/09) pagi, dan masih diperiksa hingga Kamis malam.

Reklamasi Teluk Benoa adalah proyek yang dirancang PT Tirta Wahana Bali Internasional milik pengusaha Tommy Winata untuk mengembangkan kawasan tersebut dengan membuat pulau-pulau reklamasi seluas 700 ha.

Sejak diungkapkan perencanaannya pada akhir 2012 silam, proyek itu terkatung-katung, khususnya karena penentangan keras dari berbagai kalangan masyarakat Bali.

Berita terkait