Pengkritik kinerja Kebun binatang Surabaya itu diadili

Hak atas foto AFP
Image caption Saling tuduh terkait pengelolaan kebun binatang Surabaya ini terungkap ke permukaan setelah muncul pemberitaan sejak enam tahun silam terkait kematian sejumlah satwa di kebun binatang tertua di Indonesia tersebut.

Pemerhati dan pegiat hak binatang, Singky Soewardji, telah ditahan lebih dari tiga pekan dan tengah diadili karena dituduh mencemarkan nama baik terkait kritikannya terhadap pengelolaan kebun binatang Surabaya. Pengadilan Surabaya menyidangkannya untuk kedua kalinya, Kamis (8/9) ini.

Dua tahun silam, melalui tulisan pendek dan foto-foto yang diposting di laman Facebook dan Twitter miliknya, Singky menulis apa yang disebutnya sebagai ketidakpedulian pimpinan asosiasi pengelola kebun binatang terhadap apa yang dialami sebagian hewan-hewan di kebun binatang Surabaya.

Unggahan itulah yang dijadikan dasar gugatan Ketua Perhimpunan Kebun Binatang Seluruh Indonesia (PKBSI), Rahmat Shah, terhadap Singky, yang diajukan ke Polda Jawa Timur sekitar dua tahun silam.

Awal September lalu, Pengadilan negeri Surabaya mulai menggelar sidang pencemaran nama baik dengan Singky Soewardji sebagai terdakwa. Dia dijerat Undang-undang Informasi dan transaksi elektronik, ITE.

Saling tuduh terkait pengelolaan kebun binatang Surabaya ini terungkap ke permukaan setelah muncul pemberitaan sejak enam tahun silam terkait kematian sejumlah satwa di kebun binatang tertua di Indonesia tersebut.

Hak atas foto Singky
Image caption Pemerhati dan pegiat hak binatang, Singky Soewardji, telah ditahan lebih dari tiga pekan.

Ketika itu sorotannya mengarah kepada pengeloaan kebun binatang yang dianggap tidak profesional, masalah kekurangan dana serta jumlah satwa yang melebihi kapasitas kemampuan kebun binatang tersebut.

Singky Soewardji, melalui kuasa hukumnya, mengatakan tulisannya itu tidak bermaksud untuk mencemarkan nama baik seseorang, tetapi lebih sebagai kritik semata.

Hak atas foto JAAN
Image caption Seekor kera di dalam kandang di Kebun binatang Surabaya yang diabadikan oleh Jakarta Animal Aid Network.

"Dia hanya mengkritisi. Dia sebagai warga negara, sebagai pemerhati satwa, wajar dong, boleh-boleh saja, sah-sah saja untuk mengomentari dan mengkritisi," kata pengacaranya, Subuh Susilo.

Ketika ditanya mengapa Singky tidak melaporkan kekhawatiran itu kepada polisi dan tidak mempostingnya di laman Facebook miliknya, Subuh mengatakan, masalah ini sudah dilaporkan ke kepolisian setempat.

"... Upaya terkait kepolisian, 'kan sudah dilakukan, dan terbukti Polres Surabaya sudah melakukan penyidikan. Namun oleh penyidik Polres Surabaya, perkara ini dihentikan penyidikannya."

Isu pemindahan satwa

Salah-satu isu yang diposting oleh Singky Soewadji dalam laman media sosialnya adalah dugaan penyimpangan pemindahan sekitar 420 hewan dari Kebun binatang Surabaya ke pusat-pusat satwa liar lainnya di seluruh Indonesia.

Sejumlah pemberitaan menyebutkan pemindahan itu didasari jumlah satwa di sejumlah kebun binatang yang dianggap melebihi kapasitas idealnya.

Hak atas foto JAAN
Image caption Seekor gajah yang diyakini milik koleksi Kebun Binatang Surabaya. Foto ini milik Jakarta Animal Aid Network.

Dalam berbagai kesempatan, Singky meyakini bahwa pemindahan 420 satwa itu penuh dengan kejanggalan. Singky mengatakan tidak mungkin pemindahan satwa sebanyak itu dilakukan dalam waktu singkat.

Aktivis Jakarta Animal Aid Network, Amank Raga, mengatakan kelompoknya memprihatinkan kebijakan pemindahan sejumlah besar satwa dalam rentang waktu yang pendek.

"Banyak hewan yang terancam punah, dan upaya pemindahan satwa yang dilindungi harus disetujui oleh Presiden. Misalnya hewan yang dilundungi itu seperti Orang utan dan Komodo," kata Amank Raga.

"Jumlah hewan yang dipindahkan hampir 800 dan mereka dipindahkan dalam waktu lima bulan. Tidak ada kebun binatang di dunia yang bisa memindahkan banyak hewan dalam waktu singkat," tambahnya.

Hak atas foto JAAN
Image caption Diduga koleksi Kebun binatang Surabaya, foto Kuda Nil ini milik koleksi Jakarta Animal Aid Network.

Kebun binatang Surabaya adalah Indonesia tertua. Dia merupakan rumah bagi ribuan hewan, burung dan makhluk lainnya.

Singky Soewadji telah lama mengkritik secara keras terhadap perlakuan hewan di kebun binatang Surabaya yang pernah dijuluki sebagai "kebun binatang kematian" - karena dugaan persoalan kematian, kekurangan gizi, penyakit dan penelantaran hewan-hewan di tempat itu.

Dua tahun lalu singa Afrika ditemukan tergantung di kandangnya setelah kepalanya terjebak di antara kabel baja.

Kematian seekor jerapah yang di perutnya ditemukan 20 kilogram plastik, serta kematian seekor harimau Sumatera yang ditemukan daging berformalin di pencernaannya, sempat menimbulkan reaksi kemarahaan para pencinta satwa.

Perbaikan kebun binatang?

Puluhan petisi telah dimunculkan agar keberadaan kebun binatang di Indonesia ditutup menyusul terungkapnya kasus-kasus kematian dan penelantaran sebagian satwa.

Dua tahun lalu, Asosiasi Kebun Binatang dan Akuarium, organisasi yang mencakup 300 kebun binatang terkemuka dan akuarium sebagai anggotanya, pernah menyimpulkan bahwa kondisi hewan liar di kebun binatang Surabaya sebagai "sangat buruk sekali".

Ketika itu, pemimpinnya menulis dua surat kepada Presiden Indonesia untuk melakukan langkah-langkah untuk menyelamatkan kebun binatang dari kasus-kasus tersebut.

Hak atas foto JAAN
Image caption Foto salah-satu satwa di dalam kandang yang diyakini merupakan koleksi Kebun binatang Surabaya. Foto milik koleksi Jakarta Animal Aid Network.

Pimpinan Perhimpunan Kebun Binatang Seluruh Indonesia, PKBSI, Toni Sumampou, ketika itu, yaitu antara 2010 dan 2013, diminta oleh Kementerian Kehutanan untuk memperbaiki kebun binatang.

Menurut Toni, kondisinya kini lebih baik setelah pemerintah pusat turun tangan dan melakukan upaya perbaikan.

"Sekarang tidak terlalu buruk. Sebagian fasilitas sudah diperbaiki. Tidak terlalu buruk, hanya dari sisi manajemen yang mengelola tidak profesional, dan banyak sekali surplus animal (kelebihan hewan)," kata Toni.

Aktivis Jakarta Animal Aid Network, Amank Raga sependapat bahwa kondisi kebun binatang telah membaik, tetapi dia tidak begitu yakin manajemennya sudah membaik.

"Sebelumnya kondisi kebun binatang benar-benar buruk, dan sekarang lebih baik. Perbaikannya di tingkat permukaant. Sudah bersih dan kandangnya kini lebih baik. Tapi kami tidak yakin bahwa manajemennya sudah benar-benar berubah. Kami belum melihat perubahan yang signifikan di sana," papar Amank.

Berita terkait