Pemerintah ajukan pemblokiran tiga 'aplikasi LGBT'

LGBT
Image caption Aksi menentang LGBT ddi Yogyakarta pada Februari 2016 lalu.

Kementerian Komunikasi dan Informatika menyatakan telah mengirimkan surat resmi ke Google Play dan App Store meminta agar tiga aplikasi 'berkonten LGBT', yaitu Grindr, Blued dan BoyAhoy diblokir.

Pelaksana tugas Kepala Biro Humas Kementerian Kominfo Noor Iza mengatakan upaya pemblokiran dilakukan karena ada laporan dari masyarakat.

Pembahasan tim panel juga menilai aplikasi itu dianggap mempromosikan LBGT.

"Hasil pertemuan disepakati (tiga aplikasi) mempromosikan, memfasilitasi LGBT dan atau di dalamnya memiliki konten seksual yang menyimpang dan direkomendasikan agar aplikasi itu untuk dinyatakan ditutup," kata Noor Iza kepada BBC Indonesia.

Noor mengatakan ini merupakan langkah awal, karena tim panel masih mengkaji sejumlah aplikasi dan situs dengan konten LBGT. Tetapi dia tidak menjelaskan jumlah situs dan aplikasi yang sedang dikaji oleh tim.

Tim Panel beranggotakan perwakilan dari masyarakat, LSM, kementerian dan Polri, menggelar rapat pada Rabu (14/09) lalu, dan mengeluarkan rekomendasi untuk memblokir tiga aplikasi ini di Indonesia.

Kasus prostitusi anak

Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Kelompok LGBT di Indonesia belakangan menjadi sasaran kebencian.

Noor Iza mengatakan tim telah menerima banyak masukan terutama dari masyarakat yang resah dengan 'kampanye' LGBT secara online, tetapi kemudian ada kasus yang ditangani oleh mabes Polri berkaitan 'dengan aplikasi yang digunakan untuk prostitusi anak'.

"(Ada) laporan dari masyarakat ... mungkin masyarakat menilai aplikasi ini memberikan dampak yang cukup besar terhadap tumbuh kembang anak- remaja. Kalangan orang tua (minta) agar aplikasi ini tidak ada di internet dan agar anaknya tidak terpengaruh," kata Noor Iza.

Sementara Unit Cyber Crime Mabes Polri, menurut AKBP Endo Priyambodo, tengah mengkaji 18 aplikasi gay, salah satunya Grindr yang digunakan oleh tersangka pelaku prostitusi anak yang ditangkap di Bogor pada 30 Agustus lalu.

"Delapan belas aplikasi ini memang ditujukan untuk kaum seperti itu, LGBT, kalau kita melakukan cyber patrol kita bisa melihat berbagai kasus kejahatan, dan kemudian dari berbagai kejahatan itu kita harus cari betul-betul mana yang bisa kita ungkap untuk proses pidana dan proses penyelidikan," jelas Endo.

Image caption Aksi mendukung LBGT di Yogyakarta Februari lalu.
Hak atas foto AFP
Image caption Kelompok LBGT berdemonstrasi dalam peringatan Hari Buruh di Jakarta.

Sejauh ini polisi sudah menangkap dua orang pelaku dalam kasus prostitusi anak melalui aplikasi dan juga menyelamatkan tujuh orang anak yang menjadi korban.

Kelompok LGBT di Indonesia belakangan ini menjadi sasaran kebencian, dengan penutupan pesantren waria di Yogyakarta dan juga uji materi agar mereka bisa dikriminalisasi atas orientasi seksualnya.

Yuli Rustinawati, ketua kelompok LBGT Arus Pelangi menilai upaya untuk memblokir aplikasi ini akan semakin membatasi kebebasan berekspresi.

"Kalau memang ada kejahatan, ya kasusnya diselesaikan, bukan dengan cara menutup aplikasi. Kalau kejahatan dilakukan heteroseksual apakah akan menutup aplikasi juga?" kata Yuli.

"Ini generalisasi berkaitan dengan isu LBGT yang semakin dipojokkan, dikiriminalkan, dan menurut saya itu makin menutup ruang sosial."

Hak atas foto Getty

Yuli juga menyebutkan tidak tepat jika pemblokiran aplikasi dilakukan untuk mencegah kejahatan seksual terhadap anak.

Dia menilai upaya pemerintah yang tak hanya menyasar aplikasi dan juga situs akan merugikan kelompok LGBT karena sebagian besar situs berisi konten yang berisi pendidikan bagi LGBT.

Berita terkait