Ikuti jejak para taipan, bos Indofood ikuti Tax Amnesty

Hak atas foto Reuters
Image caption Periode pertama Tax Amnesty berakhir Jumat (30/09).

Bos perusahaan Indofood, Fransicus Welirang, mendeklarasikan hartanya ke Direktorat Jenderal Pajak pada hari terakhir periode pertama program tax amnesty atau pengampunan pajak, Jumat (30/09).

Pengusaha yang sering disapa dengan sebutan Franky ini mengatakan dirinya mewakili putra pendiri Indofood, Anthoni Salim, dalam melaporkan harta pribadi serta perusahaan.

"Saya kira nomor satu, saya berhubungan sama TA (tax amnesty) ini. Sejak awal kami dan pengusaha lainnya menganggap baik dan akan berpartisipasi, karena ini kesempatan yang baik," katanya, sebagaimana dilaporkan wartawan BBC Indonesia, Sri Lestari.

Franky mengatakan dirinya mendeklarasikan harta di dalam negeri.

Ketika ditanya apakah Anthoni Salim melakukan repatriasi hartanya di luar negeri, Franky menjawab: "Ya sesuai imbauan (pemerintah).”

Dia mengaku tidak menyimpan dana di luar negeri. Namun, dia tidak menepis bahwa ada dananya yang beredar di mancanegara..

"Bukan menyimpan, saya kira itu usaha di luar juga untuk merangkai yang dalam negeri," jelasnya.

Franky Welirang dan Anthoni Salim menambah daftar taipan yang mengikuti program pengampunan pajak. Sebelumnya, ada berbagai konglomerat yang tercatat mendaftar program ini, antara lain bos Lippo Grup James Riady, pemilik Sriwiyaya Grup Chandra Lie, dan Erick Thohir.

Hak atas foto AFP
Image caption Tommy Suharto turut mengajukan pengampunan pajak.

Ada pula nama-nama sohor lain, seperti Tommy Suharto, Aburizal Bakrie, dan mantan Kepala BIN, Hendropriyono.

Lebih baik dari Jerman

Dirjen Pajak, Ken Dwijugeasteadi, mengatakan program tax amnesty di Indonesia dinilai berhasil dan lebih baik dari Jerman dan Brasil. Menurutnya, deklarasi harta dalam program tax amnesty mencapai 20% dari PDB.

Dia mengatakan dana repatriasi memang diharapkan dapat mengerakkan ekonomi.

"Repatriasi itu yang diharapkan untuk investasi, pembukaan lapangan kerja. Kalau bayar pajak uangnya akan dkembalikan ke rakyat untuk pembangunan,"ujar Ken.

Periode pertama tax amnesty berakhir pada Jumat (30/09). Bagi wajib pajak yang bersedia merepatriasi asetnya di luar negeri pada periode ini akan diberikan tarif tebusan sebesar 2%. Tarif itu meningkat menjadi 3% bila dilakukan pada periode Oktober-Desember 2016, dan 5% untuk periode 1 Januari 2017 sampai 31 Maret 2017.

Adapun wajib pajak yang mendeklarasikan asetnya di luar negeri tanpa repatriasi akan dikenai tarif 4% untuk periode pertama. Setelah itu, tarifnya menjadi 6% untuk periode Oktober-Desember 2016, dan 10% untuk periode Januari-Maret 2017.

Sampai Kamis (29/09) malam, total jumlah harta yang dilaporkan mencapai lebih dari Rp3.193 triliun.

Komposisinya didominasi wajib pajak dari dalam negeri yang mendeklarasi harta dengan besaran Rp2.061 triliun. Sementara dana repatriasi yang masuk hanya Rp124 trilliun, jauh dari target pemerintah sebesar Rp1.000 triliun sampai 31 Maret 2017.

Berita terkait