Rosidi, sang penyintas Peristiwa 1965 di lereng Gunung Gede

 rosidi sarongge penyintas tragedi 1965 Hak atas foto BBC INDONESIA

51 tahun lalu, pada 30 September 1965, enam jenderal dan seorang kapten dibunuh dalam apa yang disebut sebagai gerakan 30 September.

Militer menuding Partai Komunis Indonesia (PKI) sebagai pelakunya, dan pembersihan besar-besaran dilangsungkan di bawah pimpinan Jenderal Soeharto. Entah berapa ratus ribu orang terbunuh, selain yang disiksa dan ditahan tanpa proses pengadilan. Rosidi adalah salah satu penyintas, yang kisahnya tersembunyi di Sarongge, lereng Gunung Gede, Jawa Barat.

Festival Sarongge keempat, pekan lalu, dipuncaki dengan 'ngaruwat cai' ritual tradisional untuk memelihara sumber mata air di kaki Gunung Gede itu, ditandai tembang rajah yang diiringi kacapi, suling, dan karinding--alat musik mungil khas Jawa Barat.

Tampak menonjol di tengah para pengrawit yang berikat kepala dan berpakaian pangsi serba hitam, adalah seorang sepuh yang memainkan karinding. Dia mengenakan bendo, atau blangkon batik di atas kepalanya, dengan jaket hijau tentara membungkus badannya yang ringkih. Jari jemarinya penuh cincin batu akik aneka warna.

Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Rosidi tampak berbeda sendiri dibanding para pengrawit lain saat tembang rajah Ngaruwat Cai.

Namanya Rosidi, pria berusia 86 tahun, yang membuat sendiri karinding yang dimainkannya.

"Begini cara memainkannya," kata Rosidi.

"Tempelkan depan mulut tapi jangan ditiup, kalau ditiup malah tidak berbunyi. Tempelkan saja, mulut dibuka, dan ujungnya ditepuk-tepuk," ujarnya menjelaskan lebih jauh alat musik yang bunyinya muncul melalui resonansi lewat udara di rongga mulut itu.

Siapa nyana, Rosidi ternyata adalah seorang penyintas Peristiwa 1965.

Menurutnya, pada hari nahas itu, tanggal 10 Oktober 1965, ia berada di tempat yang salah.

Saat itu ia baru saja diterima bekerja di perkebunan teh Goalpara, Sukabumi, sesudah beberapa tahun bekerja di perkebunan Cikawung, Cianjur selatan. Sebelum pindah, ia hendak berpamitan terlebih dahulu kepada pamannya, yang dipanggilnya dengan sebutan Mang Ocon, yang sama-sama bekerja di Cikawung.

Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Ia membuat sendiri karinding, alat musik Sunda itu, dan juga menjualnya.

Tapi belum lama di rumah Mang Ocon, datang truk bermuatan tentara.

"Mang Ocon langsung menyelinap ke belakang, dan lenyap," Rosidi berkisah.

Tentara-tentara itu ternyata mencari pamannya yang dituding pegiat organisasi terkait PKI.

Mereka lalu memeriksa Rosidi, yang dengan polos memperlihatkan kartu anggota Sarbupri yang dimilikinya. Sarbupri, Sarekat Buruh Perkebunan Republik Indonesia, merupakan bagian dari SOBSI (Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia), konfederasi buruh yang berafiliasi ke PKI.

Tak ada paman, keponakan pun jadi.

"Saya terus disuruh naik truk ikut mereka," katanya mengenang peristiwa getir itu.

"Eh, ternyata terus saja saya ditahan. Baru bebas tahun 1978, kata Rosidi pula.

Mengapa Rosidi waktu itu bergabung di Sarbupri? Apakah ia percaya pada ide komunisme dibawa Sarbupri dan berbagai organisasi lain waktu itu?

"Wah, nggak tahu, apa itu komunis-komunis begitu. Abah jadi anggota Sarbupri, dapat kartu, pakai foto. Kartu itu berlaku buat keterangan di jalan, malah bisa dipakai masuk bioskop. Itu saja Abah mah tahunya."

Rosidi adalah salah satu dari sekitar 1.500 tahanan politik 1965 dari Cianjur dan sekitarnya.

Tosca Santoso, yang baru saja menyelesaikan buku Cerita hidup Rosidi, mengatakan, para korban 1965 di Jawa Barat mengalami nasib yang berbeda dibanding yang terjadi di Jawa Tengah, Jawa Timur dan Bali, misalnya.

"Di beberapa tempat lain, terjadi pembunuhan masal, sehingga sungai bisa penuh mayat, banyak kuburan massal. Kalau di Jawa Barat, mereka tidak dibunuh, tapi dipekerjakan paksa," papar Tosca.

Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Rosidi, dalam upacara tradisional "Ngaruwat Cai" saat festival Sarongge 2016 lalu.

Tosca, mengutip sebuah buku karya Ben Anderson, mengatakan bahwa Ibrahim Adjie, Panglima Divisi Siliwangi waktu itu, meminta kepada Soeharto agar penanganan Jawa Barat diserahkan kepada Siliwangi dan RPKAD (Resimen Para Komando Angkatan Darat) tidak perlu masuk. Soeharto mengabulkan.

"Ibrahim Adjie menginstruksikan para prajuritnya bahwa mereka yang dituding terlibat PKI itu ditangkapi saja, jangan dibunuh. Karena mereka kebanyakan cuma rakyat kecil biasa," papar Tosca Santoso.

"Tapi, ya, itu dia, sebagai gantinya, mereka mengalami penderitaan lain: jadi pekerja gratisan."

Dan itulah yang terjadi pada Rosidi. Dia secara resmi ditahan di Panembong, di sebuah rumah tahanan yang didirikan di sebuah bekas pabrik karet yang kemudian dikenal sebagai Kamp Panembong.

"Saya dipekerjakan, dipindah-pindah. Di Cihea dua tahun, disuruh ikut bikin jembatan, di atas Sungai Citarum. Terus di Rajamandala, setahun. Terus di Pagelaran, bikin jalan. Terus juga sempat dikirim ke Bandung, mengaspal jalan. Ke mana-mana, tergantung disuruhnya," kisah Rosidi.

Beranak-pinak di tahanan

Yang menarik, selama 13 tahun ditahan, Rosidi justru mendapatkan tiga orang anak lagi. Itu karena istrinya yang terakhir, Oneh, kendati tidak ditahan, memilih untuk menemaninya hidup di dalam tahanan.

Dalam buku Cerita hidup Rosidi yang rencananya akan diluncurkan pertengahan November tahun ini, Tosca Santoso mengisahkan bagaimana Oneh bergabung dengan suaminya di tahanan.

Saat itu Rosidi sedang dipekerjakan di rumah makan Mirasa, tak jelas gajinya masuk ke mana, yang jelas ia tak pernah menerimanya.

"Suatu sore, ketika sedang bekerja di dapur Restoran Mirasa, Rosidi dipanggil penjaga kamp Panembong. Katanya, “Ada tamu yang besuk kamu.”

Rosidi tak dapat menduga siapa yang datang. Itu pertama kalinya ia mendapat kunjungan setelah hampir setahun di sana. Orang-orang takut menghampiri penghuni Kamp Panembong. PKI sudah tertancap di benak orang, sebagai penjahat yang tak patut dikasihani. Penjahat yang harus dihindari," tulis Tosca Santoso dalam Rosidi.

Bergegas pulang ke Panembong, ternyata ada Oneh, istrinya.

"Si Emak (Oneh, istrinya) bilang, yang suaminya ditahan tak boleh lagi tinggal di mess pabrik di Cikawung. Jadi dia datang menemui Abah," kata Rosidi, menyebut diri dengan Abah.

"Dia bilang, mau sama Abah saja di tahanan. Terus Abah bilang sama penguasa di Panembong, Pak Dadang, terus diizinkan," papar Rosidi pula.

Dadang yang dimaksud adalah komandan Kamp Panembong, seorang anggota CPM berpangkat Peltu bernama Dadang Mulyadi.

Nyatanya, Oneh bukan satu-satunya istri tahanan yang bergabung di tahanan menemani suami. Rosidi berkisah, ada beberapa yang lain juga, kendati tidak terlalu banyak.

Kamp Panembong, sebagai bekas pabrik karet, yang disebutkan Rosidi sebagai pabrik busa, memiliki ruangan besar.

"Orang-orang tidur bergelatakan saja begitu. Nah Abah bikin penyekat dari bilik (gedek), buat tidur si emak," katanya.

Ternyata, di dalam tahanan itu lahir tiga anak mereka dari tujuh anak mereka.

"Di Kamp Panembong, Oneh sempat melahirkan Wawan Sudrajat (1968) dan nantinya Agus Setiawan (1973). Di antara kedua anak lelaki itu, Oneh melahirkan Titin Kartini (1971), juga ketika status Rosidi masih sebagai tahanan Panembong. Tapi Entin lahir di rumah Tamad, penyidik dari kepolisian, yang saat itu mempekerjakan Rosidi untuk menggergaji kayu.

"Selama penugasan Rosidi di bengkel kayu Cianjur itu, Oneh dan Wawan yang baru tiga tahun, diinapkan di rumah Tamad. Kelahiran Entin, bahkan dibantu oleh istri Tamad, yang memang mengerti soal-soal kebidanan," seperti ditulis dalam biografi Rosidi yang ditulis Tosca Santoso, penggagas penataan hutan lindung Sarongge.

"Malah, kalau Wawan mah, indung beurang-nya juga laki-laki. Teman Abah, sesama tahanan," kata Rosidi.

Indung beurang atau paraji, adalah istilah Sunda untuk orang yang membantu ibu dalam proses persalinan bayinya.

Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Rosidi, menikmati kopi dan rokok yang diisapnya melalui sebatang pipa, sementara Wawan, anaknya, memeriksa telepon genggamnya.

Wawan Sudradjat, yang kini menjadi ketua RT di Sarongge, masih mengingat beberapa hal tentang kamp Panembong.

"Saya masih ingat, main bersama beberapa anak lain. Juga melihat Abah menyiapkan alat-alat untuk ngobor, mencari kodok di sawah malam-malam. Dan saya ingat, saya untuk pertama kalinya makan daging itu, ya daging kodok hasil tangkapan Abah," tutur Wawan.

Saat di Panembong pula, Rosidi bersama sejumlah tahanan lain dipekerjakan untuk membuka hutan di Sarongge pada tahun 1972.

Di kaki Gunung Gede itu mereka dipekerjakan untuk membangun perkebunan sayur.

Untuk tempat tinggal, "Abah menebang pohon, membangun sendiri rumah buat keluarga," kata Rosidi.

"Mereka mulai benar-benar menetap di Sarongge, tahun 1974. Rosidi hanya meninggalkan Sarongge selama dua tahun, 1976 sampai 1978, saat dia dibawa ke Penjara Kebon Waru Bandung. Namun Oneh dan lima anaknya tetap di Sarongge," kata Tosca Santoso.

Di Sarongge kemudian berdiri perkampungan para tahanan politik. "Ibaratnya, Pulau Buru kecil," Tosca Santoso menggambarkan.

Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Rosidi dan anaknya, Wawan, yang lahir di Kamp Tahanan Panembong, dengan bantuan seorang tahanan lain.

Dalam penelusuran Tosca Santoso, ada sekitar 20 keluarga tahanan politik yang bermukim di sana.

Hingga terjadi pembebasan besar-besaran tahanan politik, tahun 1978, Rosidi tak pernah diadili.

"Pokoknya disuruh pulang, saja, waktu itu sedang di Penjara Kebon Waru, Bandung. Dikasih ongkos untuk pulang ke Sarongge, Rp3.000," kata Rosidi.

Kini di hari tuanya, Rosidi menjadi seorang pengrajin. Dia membuat berbagai perkakas dan benda hias dari kayu dan bambu, yang dijualnya kepada pengunjung Sarongge, yang kini sudah menjadi Desa Wisata yang memiliki juga bumi perkemahan kecil, dengan berbagai kegiatan rutin.

Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Kawasan Sarongge, asalnya hutan yang dibuka menjadi kebun, dan menjadi 'Pulau Buru Kecil," dan sekarang dicoba dikembalikan sebagai hutan.

Malam itu saya menginap di Rumah Kopi Sarongge, menikmati malam-malam di depan tungku di dapur, bersama Rosidi dan Wawan, salah seorang anaknya, dan sejumlah warga lain. Rosidi, yang kini berkisah tentang bagaimana ia, sesudah Soeharto jatuh, begitu bersemangat bergabung dalam Pakorba, Paguyuban Korban Orde Baru, untuk menuntut ganti rugi.

"Tapi Abah sampai sembilan kali bolak-balik ke Jakarta, ikut sidang, nggak ada hasilnya. Katanya tidak dikabulkan. Ibaratnya kalau main bola sih, hasilnya 0-0, nggak kalah nggak memang," katanya.

Tapi tak urung, Rosidi kehilangan sebidang kebunnya, yang dijual buat ongkos bolak-balik ke Jakarta.

Pagi hari, kami minum kopi bersama dan Pak Rosidi mengenang masa-masa mudanya, yang sering turut menabuh gamelan untuk pertunjukan wayang, dan sesekali ia memainkan karinding, dalam nada lagu rakyat Cincangkeling. Sembari mengajak saya -juga seorang cucunya, menyanyikan syairnya:

"Cing cangkeling manuk cinten cineten. Blos ka kolong, bapa Satar buleneng."

Lagu yang saya kenal sejak masa kecil. Tanpa saya pernah benar-benar tahu artinya.

Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Di masa tuanya, Rosidi menjadi pengrajin berbagai produk bambu dan kayu.

Saya tanyakan, apakah ia bisa menyanyikan lagu Genjer-genjer?

"Wah, itu katanya lagu PKI, ya. Katanya genjer-genjer itu maksudnya jenderal-jenderal? Nggak tahu Abah mah gimana lagunya. Apalagi katanya kalau bisa lagu itu bakal ditangkap, dulu, zaman Pak Harto. Makin takut saja, Abah nggak mau tahu lagu itu."

Kami meneruskan minum kopi, yang diseduh Tosca Santoso, penulis biografi Rosidi, yang juga sedang mengembangkan varietas kopi Sarongge.

Rosidi menghirup kopi, diselang rokok yang diisapnya melalui sebatang pipa.

Sesekali ia mendendangkan paparikan, nyanyian rakyat Sunda.

Berita terkait