Rurik Jutting: Video 'penyiksaan' diputar dalam sidang pembunuhan dua WNI di Hong Kong

Sumarti Ningsih Hak atas foto Unknown
Image caption Jenazah Sumarti Ningsih ditemukan di dalam koper, membusuk pada November 2014

Para juri dalam sidang pembunuhan dua warga negara Indonesia dengan terdakwa seorang bankir Inggris diperlihatkan video dugaan penyiksaan salah seorang korban.

Dalam video yang direkam dengan telepon selulernya, Juting menggambarkan bagaimana ia memerkosa dan menyiksa Sumarti Ningsih sebelum membunuhnya.

Jutting menyatakan tak bersalah atas pembunuhan dua perempuan Indonesia pada 2014 dengan alasan kondisi mental yang tidak stabil.

Namun ia menyatakan bersalah melakukan pembunuhan yang tidak direncanakan, dan hal itu sudah ditolak oleh jaksa penuntut umum.

Polisi menemukan jenazah Sumarti Ningsih dan Seneng Mujiasih di apartemen mewah Jutting pada bulan November 2014.

Jaksa penuntut mengatakan korban pertama, Sumarti Ningsih, 23, disiksa selama tiga hari di apartemennya di kawasan Wan Chai, Hong Kong pada tanggal 25 Oktober.

Dalam salah satu video yang dipertunjukkan ke juri Selasa (25/10), Jutting menanyakan apakah korban mencintainya sebelum kemudian menyiksa Sumarti.

"Apakah kamu mau saya pukul? Bila kamu bilang 'Ya', saya pukul satu kali. Bila kamu bilang 'Tidak', saya pukul kamu dua kali," kata Jutting seperti terdengar dalam video itu.

"Bila kamu menjerit, saya akan pukul kamu, kamu mengerti?"

Suara yang terdengar dari Sumarti Ningsih sangat lemah, kata para wartawan di dalam ruang sidang.

'Saya memperkosanya berulang kali'

Hak atas foto AP
Image caption Para pekerja migran di Hong Kong melakukan protes di depan Pengadilan Tinggi

Video itu ditunjukkan kepada para juri di layar masing-masing. Para wartawan tidak bisa melihat video itu namun bisa mendengar audionya.

Klip video yang ditunjukkan kepada juri menunjukkan Jutting menggambarkan bagaimana ia membunuh Sumarti Ningsih di kamar mandi apartemennya.

"Nama saya Rurik Jutting. Sekitar lima menit lalu, saya membunuh perempuan ini di sini," katanya sambil menurunkan kamera ke bawah dan menunjukkan mayat.

"Saya menyanderanya sejak Sabtu pagi. Saya memperkosanya berulang kali. Saya menyiksanya, menyiksanya dengan sangat parah," katanya.

Ia kemudian mengatakan tentang penggunaan kokain dan juga mengunjungi pelacur di Hong Kong dan Filipina.

Dia mengatakan sempat mengkhayal untuk kembali ke Inggris, menculik remaja dan memaksa mereka menjadi budak seksnya.

Wartawan BBC Danny Vincent di pengadilan mengatakan lulusan Universitas Cambridge ini duduk diam dan tak melihat layar saat video ditunjukkan ke juri.

Saat polisi tiba di apartemennya pada tanggal 1 November 2014, mereka menemukan jenazah Seneng Mujiasih, 26, dengan luka tikaman pisau di leher dan pantatnya.

Jenazah Sumarti Ningsih ditemukan dalam koper dan membusuk.

Jutting menghadapi hukuman maksimal seumur hidup bila dinyatakan apa yang digambarkan sebagai pembunuhan terbesar di Hong Kong dalam kurun waktu lama.

Kasus ini dipantau oleh para pekerja migran di Hong Kong dan kelompok yang memperjuangkan hak migran. Mereka melakukan protes di luar ruang sidang.

Jutting bekerja di Bank of America -Merrill Lynch sebagai pedagang sekuritas sampai beberapa hari sebelum ditemukannya jenazah dua WNI itu.

Berita terkait