Pascakemenangan Trump, Cina incar peluang Amerika yang melemah

Donald Trump memiliki banyak pengagum di Cina terkait bisnisnya dan ucapannya yang blak-blakan. Hak atas foto GREG BAKER / AFP
Image caption Donald Trump sebetulnya memiliki banyak pengagum di Cina terkait bisnisnya dan ucapannya yang blak-blakan.

Donald Trump sudah memenangkan pemilihan presiden AS, tetapi di tingkat lain -yang penuh persaingan antar negara besar, slogan kampanye sang presiden terpilih, "Membuat Amerika kembali hebat," akan dihadapi Cina dengan perspektif lain.

Tepat pada saat Trump menyampaikan pidato kemenangannya, saluran TV Cina memutar liputan misi ruang angkasa. Presiden Xi Jinping bahkan memilih hari itu untuk berbicara melalui saluran satelit dengan astronaut China.

Sulit untuk melepaskan diri dari perasaan bahwa ini adalah versi Cina dari momen John F Kennedy "kami memilih untuk pergi ke Bulan", suatu pesan untuk mengingatkan masyarakat bahwa apa pun yang terjadi di tempat lain di dunia, kekuatan Cina sedang bangkit.

Bisa jadi Presiden Cina, Xi Jinping, juga secara diam-diam merayakan suatu kemenangan dalam peristiwa di Amerika itu.

Saya dan banyak lainnya sudah mencatat, pemilihan umum di AS telah menjadi suatu hadiah bagi Partai Komunis Cina. Di suatu negara dengan partai tunggal raksasa yang menikmati keadaan tanpa diskusi umum tentang kelebihan dan kekurangan sistem mereka, Amerika Serikat kerap terlihat sebagai patokan diam-diam tentang kemajuan secara material, kultural, dan politik.

Bukan kebetulan bahwa slogan Cina yang dicanangkan Presiden Xi seiring dengan mimpi Amerika. Untuk suatu negara adidaya yang tengah bangkit, AS adalah negara yang mesti dikejar.

Selama beberapa tahun terakhir, para pengamat Cina sering mengatakan bahwa perang yang dilancarkan Amerika di Afghanistan dan Irak merusak keyakinan CIna bahwa AS bisa dipercaya untuk memimpin geopolitik dunia, dan pada tahun 2008 krisis keuangan dunia merusak kepercayaan Cina bahwa AS bisa diandalkan meminpin ekonomi global.

Dan sekarang, pertarungan di pemilihan presiden yang panas dan penuh skandal telah merusak kepercayaan Cina bahwa warga Amerika bisa mengurus dirinya sendiri.

Hak atas foto STR / AFP
Image caption Pilpres AS di Cina: Seekor monyet dengan kaus bertuliskan "Raja ramalan" memegang plakat bertuliskan 'terpilih' di sebuah tempat wisata di Changsa, Cina.

Kendati pemerintah Cina berhati-hati dan menghindar untuk memberikan komentar langsung pada kampanye para calon, media Cina yang sangat dikendalikan pemerintah bisa mengambil peran yang bebas dalam membicarakan kebencian dan perpecahan dalam pilpres AS.

Presiden terpilih Trump juga telah berulang kali menyuarakan hal yang senada dengan Beijing bahwa sistem Amerika penuh kecurangan yang menguntungkan para elite kaya.

Dan media Cina di sisi lain mengupas habis-habisan pengalaman dan manfaat yang dinikmati para pegawai negeri di piramida partai tunggal mereka sendiri sebagai suatu pernyataan yang dihadapkan pada para demagog dangkal di negara-negara demokrasi elektoral.

Hak atas foto ROLEX DELA PENA / EPA
Image caption Semboyan kampanye Trump mendapat gema di Cina.

Untuk suatu negara yang belum lama mengalami perang saudara dan teror kaum fanatik saat Revolusi Kultural, sengitnya pilpres AS telah menghapus seluruh dongeng indah sebelumnya tentang demokrasi AS.

Namun tentang sang presiden terpilih sendiri, opini publik terbelah.

Banyak orang Cina yang mengagumi Trump sebagai pebisnis, yang bicara terus terang dan seorang dari luar dunia politik. Jika empat tahun dari sekarang ia "membuat Amerika kembali hebat," maka sistem politik yang memproduksinya akan memperoleh kredibilitas.

Namun jika tim di belakang "Impian Cina" bisa membuat rakyat Cina kaya, mengirim roket ke Mars, dan mendominasi Asia, maka 9 November 2016 menandai saat ketika Cina meninggalkan 'Impian Amerika' untuk selamanya.

Hak atas foto AFP
Image caption Roket Long March-5 meluncur dari pusat antariksa di Wenchang, menandai ambisi luar angkasa Cina.

Sebagai bagian dari janji untuk "Membuat Amerika kembali hebat" Trump sering mengatakan AS harus 'menang' dalam hubungan ekonominya dengan Cina.

Tapi selama empat dasawarsa terakhir, para pemimpin Partai Komunis China telah belajar untuk memperlakukan janji kampanye AS dengan sejumput garam.

Mereka telah menyaksikan banyak presiden Amerika datang dan pergi, melontarkan ancaman keras terhadap China saat kampanye, dan kemudian setelah beberapa bulan pertama mereka berkantor, diam-diam Amerika kembali ke kebijakan hubungan baik.

Pada saat pertumbuhan ekonomi Cina sedang goyah, akses ke pasar AS tetap sangat penting dan kebijakan proteksionisme pemerintahan Trump akan menyalakan alarm Beijing.

Tapi para perunding urusan perdagangan telah mendapat banyak pelajaran untuk mengkaji setiap kemungkinan langkah Trump terkait tarif, akses pasar atau kurs. Dan Beijing akan mencatat bahwa banyak para ahli Asia kawakan di Partai Republik sudah megatakan tak akan mau bekerja untuk presiden Trump.

Ketika tiba waktunya memerangi permainan ekonomi Trump, Beijing akan siap menghadapinya.

Mereka juga dapat menghitung bahwa perdagangan adalah permainan yang sekali waktu bisa memberikan beberapa kemenangan kepada Trump sebagai imbalan bagi kemenangan mereka sendiri yang sangat didambakan dalam permainan besar geopolitik di Asia.

Hak atas foto Ng Han Guan / AP
Image caption Kemenangan Donald Trump disambut dengan berbagai tanggapan di Cina.

Di sinilah Trump jadi merupakan kesempatan bagi Cina. Saat kampanye, komitmen AS yang terhadap Asia yang ditawarkan presiden terpilih terdengar jauh lebih menarik bagi publik AS dibandingkan rivalnya.

Dia sangat sengit dalam menentang dimensi ekonomi dari upaya pemerintahan Obama terkait Asia.

Dan bahkan dalam dimensi militer, Trump mengatakan bahwa sekutu lama AS seperti Jepang dan Korea Selatan harus membayar lebih untuk mempertahankan kehadiran militer AS.

Hak atas foto Anthony Kwan / Getty
Image caption Cina akan memandang Donald Trup lebih dari sekadar subyek untuk pembuatan topeng mainan.

Para pengamat di kawasan itu memperingatkan bahwa setiap peningkatan isolasionisme atau proteksionisme AS, atau apapun kesepakatan perundingan besar dengan Beijing, akan membuat Taiwan dan Laut Cina Selatan menjadi rentan, dan menurunkan peran kepemimpinan Amerika di Asia justru pada saat negara-negara seperti Filipina, Malaysia dan Thailand menghitung ulang di mana kepentingan strategis mereka terletak.

Para ahli geostrategi Cina sekarang akan berharap bahwa suatu kepresidenan Donald Trump akan masuk ke dalam jebakan rencana ambisius mereka untuk mengurangi kekuatan Amerika dan menata ulang peta Asia. Mereka bisa saja benar.

Berita terkait