Thailand mulai mengadili dua orang Uighur dari Cina

Bangkok, Erawan, Thailand Hak atas foto Reuters
Image caption Serangan bom di Kuil Erawan, 17 Agustus 2015, menewaskan 20 orang dan sebagian besar adalah wisatawan asal Cina.

Pengadilan atas dua warga Uighur dari Cina sudah dimulai, Selasa (15/11), dengan dakwaan pengeboman di Kuil Erawan di Bangkok tahun lalu.

Keduanya menyatakan tidak bersalah dalam serangan bom yang menewaskan 20 orang tersebut -14 di antara korban adalah wisatawan asing, yang sebagian besar berasal dari Cina.

Yusufu Mieraili dan Bilal Mohammed didakwa dengan bertanggung jawab menempatkan bom di kuil Hindu yang terletak di kawasan pusat ibu kota Bangkok, pada 17 Agustus 2015.

Sidang yang berlangsung di pengadilan militer ini sempat ditunda sampai beberapa kali karena pihak berwenang Thailand tidak bisa menemukan penerjemah Bahasa Uighur.

Terdakwa diyakini merupakan penentang kekuasan Cina di Provinsi Xinjiang -tempat tinggal warga Uighur yang beragama Islam- dan menolak penerjemah yang disediakan Kedutaan Besar Cina di Thailand.

Hak atas foto Reuters
Image caption Kedua tersangka didakwa dengan membawa bom dan menaruhnya di kuil Erawan.

"Saya tidak mau penerjemah dari Cina karena Cina tidak menghargai Uighur," kata Mohammed lewat penerjemah, seperti dikutip kantor berita AFP.

"Saya ingin penerjemah yang bisa bahasa Uighur dari Amerika, Kanada, Australia, atau negara-negara lain," tambah Mieraili.

Namun hakim militer menegaskan penolakan atas permintaan terdakwa dengan alasan bahwa para penerjemah 'sudah tepat karena hanya melakukan terjemahan' dan berbicara dalam bahasa yang sama dengan terdakwa.

Kedua pria mengaku disiksa selama berada dalam tahanan.

Jaksa penuntut menuduh Mohammed memasang bom di dalam tas di kuil sementara Mieraili terlibat dalam proses pengangkutannya.

Adapun 15 tersangka lainnya sudah melarikan diri dari Thailand.

Topik terkait

Berita terkait