Trump ambil jarak dengan kaum radikal kanan pendukungnya

ultra kanan AS pro Trump
Image caption Dalam acara itu, pembicara meneriakkan 'Hail Trump!' meniru Hail Hitler, disambut sejumlah orang yang mengangkat tangan dengan tanda salut khas Nazi.

Donald Trump mengambil jarak dengan kelompok radikal kanan 'alt-right' yang merayakan kemenangannya di Pemilihan Presiden AS dengan gerak salut Nazi Hitler.

Dalam sebuah wawancara dengan New York Times, presiden terpilih AS dikutip mengatakan: "Saya mengutuk mereka. Saya menolak dan saya mengutuk."

Dia mengatakan dia tidak ingin "membangkitkan energi" kelompok yang terdiri dari neo-Nazi, nasionalis putih dan anti-Semit itu.

Dalam sebuah video yang diambil Sabtu lalu di Washington, tampak para pendukung 'alt-right' bersorak menyambut pembicara di podium yang berteriak: "Hail Trump" - salam yang mengacu pada "Hail Hitler" Nazi Jerman.

Dalam video tersebut, Richard Spencer, seorang pemimpin gerakan 'alt-right' mengatakan kepada peserta konferensi bahwa Amerika adalah milik orang kulit putih, yang menurutnya adalah "anak-anak matahari."

Dia mengecam para penentang gerakan mereka sebagai "makhluk yang paling hina yang pernah berjalan di atas planet ini."

"Hail Trump, hail (hidup) rakyat kita, hail (hidup) kemenangan!" teriak Spencer pada satu titik, diikuti beberapa hadirin yang mengangkat tangan mereka dengan gaya salut Nazi.

Hak atas foto AFP
Image caption Donald Trump menolak dikaitkan dengan kaum radikal kanan supremasi kulit putih yang anti semit.

Konferensi 'alt-right' yang berlangsung pada hari Sabtu itu diprotes sejumlah demonstran yang memblokir lalu lintas di sekitar Gedung Ronals Reagan, pusat konferensi yang dimiliki pemerintah.

Hari Selasa (23/11), Kanselir Jerman Angela Merkel menyatakan keprihatinan bahwa kemenangan Trump bisa mendorong kebangkitan kaum supremasi kulit putih.

Seorang pejabat tinggi di pemerintahannya menggambarkan video "Hail Trump" itu sesuatu yang "menjijikkan dan mengkhawatirkan".

Tapi Trump membela penetapan kepala strategis yang ditunjuknya, Steve Bannon, mantan CEO Breitbart News, dan menolak tudingan bahwa situs ultra konservatif itu terkait dengan gerakan nasionalis putih.

"Breitbart hanya penerbitan biasa. Mereka meliput peristiwan sebagaimana Anda meliput peristiwa," katanya kepada New York Times.

"Jika saya pikir dia adalah seorang rasis atau (pendukung) 'alt-right' atau semacamnya, saya tidak akan pernah berpikir untuk menunjukknya," katanya tentang Bannon.

Berita terkait