Komando Siber militer Korsel 'diretas oleh Korut'

Komputer Hak atas foto Reuters/Pawel Kopczynski
Image caption Korea Utara selama ini dituduh berada di belakang peretasan atas bank, perusahaan, maupun media.

Komando Siber militer Korea Selatan -yang dibentuk untuk menangani peretasan jaringan komputer- malah diretas oleh Korea Utara.

Seorang juru bicara militer Korsel mengatakan bahwa informasi rahasia diperkirakan sudah dicuri walau belum dipastikan data yang diambil tersebut.

Korut sebelumnya dituduh meretas bank, perusahaan, maupun media di Korea Selatan, namun militer belum pernah menjadi sasaran hingga insiden terbaru ini.

Namun pemerintah Pyongyang selalu menolak tuduhan keterlibatan dalam kejahatan siber atau dunia maya.

"Tampaknya peladen (server) jaringan internet di dalam komando siber sudah terkontaminasi dengan malware (perangkat lunak yang merusak). Kami menemukan beberapa dokumen militer, termasuk informasi rahasia, sudah diretas," kata seorang juru bicara militer kepada kantor berita Korsel, Yonhap.

Tidak dijelaskan lebih rinci dokumen yang dicuri tersebut, apakah informasi dengan tingkat kerahasiaan rendah atau mungkin sampai pada tingkat rencana perang.

Upaya serangan siber

Militer Korsel menambahkan bahwa sebagian dari jaringannya langsung diisolasi begitu serangan tesebut dideteksi,

Hak atas foto EPA/JEON HEON-KYUN
Image caption Tidak dijelaskan rincian tentang informasi militer Korea Selatan yang diretas, namun dilaporkan cetak biru sayap pesawat tempur F-15 pernah dicuri.

Koera Utara diduga mengerahkan ribuan orang untuk terlibat dalam perang internet.

Sejak tahun 2010 mereka diyakini memusatkan perhataian pada program aplikasi komunikasi antara kompuer, API, yang dirancang untuk menyerang prasarana-prasarana pemerintah, menurut para pembelot Korea Utara dan juga ahli komputer, Kim Heung-Kwang, kepada BBC.

Kantor berita Reuters mengutip polisi yang mengatakan bahwa upaya Korut untuk meretas dengan mengirim kode-kode yang merusak dimulai sejak tahun 2014 dengan tujuan sebagai landasan bagi serangan untuk skala besar.

Upaya itu disinyalir setelah sejumlah bahan terkait dengan sistem pertahanan dicuri pada Februari 2016, termasuk cetak biru sayap pesawat tempur F-15.

Polisi juga menyebutkan awal tahun 2016 hingga Juni, tercatat 140.000 komputer milik 160 perusahaan Korea Selatan diretas.

Berita terkait