Siapa Anis Amri 'pelaku' serangan Berlin yang tewas ditembak di Italia?

Anis Amri Hak atas foto AFP
Image caption Anis Amri diyakini menabrakkan truk ke pasar Natal di Berlin pada Senin (19/12) malam yang menewaskan 12 orang.

Anis Amri, tersangka yang menabrakkan truk di pasar Natal di Berlin yang menyebabkan 12 orang meninggal, tewas ditembak oleh polisi di Milano, Italia, hari Jumat (23/12) dini hari.

Sejak serangan di Berlin pada Senin (19/12) malam, Amri buron dan diburu oleh aparat keamanan sejumlah negara di Eropa.

Menteri Dalam Negeri Italia, Marco Minniti, mengatakan Amri tewas dalam baku tembak dengan polisi, setelah ia dihentikan oleh patroli polisi yang memintanya menunjukkan kartu identitas.

Amri mengambil pistol dari tas punggungnya dan melepaskan tembakan. Seorang polisi muda membalas tembakan yang berujung dengan kematian Amri.

Para pejabat Jerman mengatakan indentifikasi dengan sidik diri mengukuhkan bahwa pria yang ditembak adalah Anis Amri.

Siapa sebenarnya Anis Amri?

Amri sebenarnya bukan orang yang asing bagi aparat keamanan Jerman. Pria berusia 24 tahun dari Tunisia ini diketahui memakai beberapa identitas. Ia masuk ke Jerman melalui Italia, di mana ia sempat mendekam di penjara selama beberapa waktu.

Ralf Jaeger, pejabat di negara bagian North Rhine-Westphalia mengatakan ia dalam pantauan aparat dan pernah diselidiki dalam kasus dugaan rencana serangan di Jerman.

November lalu, ada pembicaraan di antara para pejabat keamanan Jerman tentang Amri karena diyakini Amri 'tengah merencanakan aksi kekerasan serius terhadap negara'.

Para pejabat Italia mengatakan Amri tiba di negara tersebut pada 2011 bersama ribuan warga Tunisia lain yang menyelamatkan diri saat pecah revolusi Arab Spring.

'Tak ada bukti radikal'

Hak atas foto AP
Image caption Anis Amri tewas dalam baku tembak dengan polisi Italia di kota Milano pada Jumat (23/12) dini hari.

Pada Oktober 2011 ia ditahan dalam kasus pembakaran gedung dan kemudian dinyatakan bersalah melakukan pengrusakan dan pencurian.

Catatan di penjara Italia menunjukkan ia mencoba menggalang perlawanan dan juga mengintimidasi penghuni penjara yang lain. Meski demikian tidak ada bukti ia mengalami radikalisasi di tahanan Italia.

Pada 2015, pada akhir masa hukuman, pemerintah Italia berencana mendeportasi Amri ke Tunisia namun gagal karena para pejabat Tunisia ketika itu mengatakan tidak yakin ia adalah warga negara Tunisia yang sah. Ia dibebaskan dan hanya diminta untuk keluar dari Italia.

Amri kemudian masuk ke Jerman dan mengajukan permintaan suaka pada April 2016. Ia mendapat izin tinggal sementara dan namanya dimasukkan dalam data pencari suaka di negara bagian North Rhine-Westphalia.

Pada pertengahan 2016 permintaan suakanya ditolak namun lagi-lagi ia tak bisa dideportasi karena ada masalah dengan dokumen identitasnya.

Para pejabat Jerman, seperti dikutip kantor berita Associated Press, mengatakan bahwa Amri menggunakan enam nama yang berbeda dan punya tiga kewarganegaraan.

Di Jerman, ia berpindah-pindah antara North Rhine-Westphalia dan Berlin. Selama di Jerman ia terlibat setidaknya dalam dua kasus pidana yang membuatnya ditahan tapi kemudian dibebaskan.

Media di Jerman memberitakan bahwa setelah Agustus Amri diketahui masuk ke lingkungan seorang ulama bernama Ahmad Abdelazziz A yang juga dikenal dengan Abu Walaa, yang ditahan aparat pada November.

Keluarga terkejut

Hak atas foto AP
Image caption Keluarga Anis Amri di Tunisia mengatakan terkejut mendengar kabar ia melakukan serangan di Berlin.

Diyakini Amri tinggal serumah dengan pria yang ditahan bersama Abu Walaa, yang dikenal media bernama Boban S.

Boban S diuga melakukan perekrutan anggota kelompok militan dan diyakini punya hubungan dengan kelompok yang menamakan diri Negara Islam (ISIS). Media Jerman juga mengatakan bahwa Amri pernah meminta seseorang -yang sebenarnya adalah informan polisi- apakah ia bisa mendapatkan senjata api.

Ketika Amri diselidiki dan di bawah pantauan di Jerman, para pejabat keamanan Jerman 'tidak melakukan pendekatan' dengan pemerintah Tunisia.

Sumber-sumber keamanan di Tunisia mengatakan bahwa Amri lahir di kota Tataouine sebelum pindah ke Kairouan.

Saudaranya di Tunisia, Walid Amri, mengatakan Anis Amri sering mabuk dan tidak salat. "Kami sangat terkejut dan terpukul (mendengar bahwa Anis Amri melakukan serangan di Berlin)," kata Walid Amri.

Ia menambahkan apa yang dilakukan Anis Amri tidak mewakili nilai-nilai yang dipegang keluarga.

Ia juga mengatakan menjalin kontak secara berkala selama Anis Amri berada di Eropa dan yang terakhir sekitar 10 hari lalu.

"Ia bilang sedang menabung untuk memulai usaha ... ia bilang akan pulang bulan Januari. Ia banyak tertawa, tak ada sesuatu yang mencurigakan," ungkapnya.

Topik terkait

Berita terkait