Kepala intelijen AS berjanji ungkap motif 'peretasan Putin'

Clapper dan Putin Hak atas foto EPA/AP
Image caption Clapper (kanan) mengatakan 'motivasi' Putin akan diungkap dalam sebuah laporan.

Kepala intelijen AS berjanji untuk menjelaskan alasan di balik tuduhan Rusia mencampuri pemilihan presiden AS,

Direktur Intelijen Nasional Jenderal James Clapper mengatakan bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin memerintahkan peretasan email Partai Demokrat, dan motifnya akan diungkap pekan depan.

Rusia sudah membantah keterlibatan mereka tapi AS sudah mengumumkan sanksi terhadap pejabat Rusia.

Presiden terpilih Donald Trump akan mendapat briefing terkait peretasan tersebut Jumat ini.

Para direktur intelijen akan menjelaskan laporan tersebut, yang sudah diberikan ke Presiden Barack Obama pada Kamis, terkait campur tangan asing.

Versi publiknya akan dibuka pekan depan.

Beberapa pejabat teras intelijen AS sudah memberi kesaksian pada Kamis (05/01) di Komite Kesatuan Bersenjata di Senat yang menyelidiki campur tangan tersebut.

Dalam penilaian mereka, Moskow terlibat untuk membantu Trump, kandidat Partai Republik, untuk mengalahkan kandidat Partai Demokrat, Hillary Clinton.

Saat ditanya oleh anggota Kongres apakah mereka "akan menyebut motivasi Putin", Clapper mengatakan "ya, kami akan menjelaskan motifnya".

Clapper menyebut bahwa upaya Rusia tersebut adalah sebuah "kampanye dengan banyak tahapan" yang menggunakan "propaganda klasik, disinformasi, (dan) berita bohong".

Dalam kesaksian gabungan yang disiapkan untuk proses dengar pendapat tersebut, pejabat mengatakan bahwa Rusia memiliki program siber yang canggih dan bisa menjadi ancaman besar bagi banyak kepentingan AS,

"Rusia adalah aktor siber dengan kemampuan lengkap yang bisa menjadi ancaman besar bagi pemerintah, militer, diplomasi, komersil dan infrastruktur penting AS," menurut pernyataan kesaksian tersebut.

Pernyataan tersebut ditulis oleh Clapper, Marcel Lettre, pejabat tinggi Kementerian Pertahanan untuk intelijen, dan Admiral Michael Rogers, direktur Badan Keamanan Nasional.

Senator McCain, dalam sesi pembuka, mengingatkan panel bahwa mereka berada di sana tidak untuk "mempertanyakan hasil pemilihan presiden".

Hak atas foto EPA
Image caption Senator John McCain dan Lindsey Graham mengunjungi Ukraina dan negara-negara lain sepanjang perbatasan Rusia saat Natal.

"Kami tidak bisa mengatakan bahwa mereka tidak mengubah hasil penghitungan atau sejenisnya," kata Clapper tentang operasi intelijen Rusia tersebut, dan menambahkan bahwa Rusia mungkin punya "banyak alasan".

"Kita tak punya cara untuk memperhitungkan dampaknya...pada pilihan para elektorat."

Saat ditanya oleh Senator McCain tentang apakah ini merupakan "aksi perang", Clapper mengatakan bahwa aksi tersebut "tindakan politik yang sangat berat yang seharusnya tak dilakukan oleh komunitas intelijen".

Trump sudah berulang kali menolak menerima tuduhan bahwa pemerintah Rusia meretas komputer John Podesta, manajer kampanye Hillary Clinton, dan server Komite Nasional Demokrat.

Pekan lalu dia mengatakan akan mengumumkan informasi terkait peretasan "pada Selasa atau Rabu", tapi hal itu tidak terjadi.

Hak atas foto AP
Image caption Trump awalnya menjanjikan 'informasi baru' terkait peretasan awal pekan ini.

Departemen Keamanan Dalam Negeri, pada akhir Desember lalu, merilis laporan publik yang mendukung tuduhan bahwa pemerintah Rusia sengaja membantu proses kampanye Trump.

Administrasi Obama juga mengusir 35 diplomat Rusia dari AS dan menutup dua lokasi yang disebut digunakan oleh intelijen Rusia.