Pilot Turki menolak bawa pencari suaka Afghanistan yang dipulangkan

Samim Bigzad
Image caption Samim Bigzad mencari suaka di Kent setelah menghabiskan waktu di kamp migran Calais di Prancis.

Seorang pencari suaka yang gagal akhirnya tetap tinggal di Inggris setelah pilot pesawat yang akan mendeportasikannya ke Afghanistan melalui Istanbul menolak untuk menerbangkannya.

Samim Bigzad, 22, selama dua tahun terakhir tinggal di Ramsgate, Kent, setelah memasuki Inggris secara illegal untuk bergabung dengan ayahnya yang sudah mendapat suaka.

Pilot Turkish Airlines menolak untuk menerbangkan Bigzard karena ia menjadi histeris saat berada di pesawat di Bandara Heathrow, London.

Dia kemudian dibawa ke pusat imigrasi. Belum ada komentar dari maskapai tentang insiden tersebut.

Anggota parlemen Inggris, Craig Mackinlay, menyampaikan simpatinya atas situasi yang dialami Bigzad namun ia menegaskan bahwa ia tetap harus dideportasi.

'Hidup yang terancam'

Bigzad mengajukan permintaan suaka di Kent setelah menghabiskan waktu di kamp migran Calais.

Dia mengatakan bahwa dia khawatir akan dipenggal oleh Taliban karena pernah bekerja untuk kontraktor AS saat dia tinggal di Afghanistan.

Ayahnya yang sudah tinggal di Margate, Inggris, sejak 10 tahun lalu, menderita stres pasca trauma (post traumatic stress syndrome).

Bigzad ditahan bulan lalu setelah Kementerian Dalam Negeri menolak perohonan suakanya dan memerintahkan pemulangannya ke Afghanisytan pada Sabtu lalu.

Menurut surat kabar Independent, pilot tersebut menolak untuk menerbangkannya dan mengatakan, "Saya tidak mau terbang, Ada orang yang hidupnya terancam."

Bigzad saat ini berada di Pusat Imigrasi Brook House yang berlokasi di dekat Bandara Gatwick.

'Bukan pesan bagus'

Mackinlay mengatakan, "Kita memiliki peraturan imigrasi, kita memiliki proses hukum."

"Kita tak bisa mengesahkan sistem yang memungkinkan orang yang masuk secara ilegal melalui Calais mendapat izin tinggal. Itu bukan pesan yang bagus."

Juru bicara Kementerian Dalam Negeri mengatakan para stafnya membuat "keputusan yang adil dan penuh pertimbangan" terkait dengan permohonan suaka dan hak asasi manusia.

"Pengusiran hanya diberlakukan saat kita dan pengadilan menyimpulkan bahwa hal itu aman untuk dilakukan, dan rute perjalanannya pun aman," katanya.

Topik terkait

Berita terkait