Cerita mengerikan perempuan yang lolos dari kelompok ISIS

Komunitas Syiah Hak atas foto Mahmut Hamsici
Image caption Perempuan dari komunitas Syiah Turkmenistan yang namanya tidak disebutkan itu menceritakan kembali kebrutalan kelompok ISIS yang menguasai wilayahnya.

Komunitas Syiah Turkmenistan di Irak menjadi sasaran penganiayaan brutal oleh kelompok yang menamakan diri negara Islam (ISIS).

Seorang perempuan, yang meminta untuk tidak disebutkan namanya, menuturkan kepada wartawan BBC Turki, Mahmut Hamsici tentang beratnya hidup di tangan milisi dari kelompok jihad Sunni.

Peringatan: Artikel ini berisi kisah yang mungkin membuat sebagian pembaca terganggu.

"Kami tinggal di distrik al-Alam di kota Tikrit sebelum kelompok militan ISIS menguasai kehidupan kami.

Saya adalah seorang Syiah Turkmenistan dan suami saya adalah seorang Arab Sunni. Dia adalah seorang imam dan orang terhormat di komunitas kami. Masjid tempat dia memimpin sholat berdekatan dengan tempat tinggal kami.

Kami tidak tahu siapa yang Sunni dan siapa yang Syiah sebelumnya. Tak ada seorang pun yang membahasnya dan tak ada permusuhan dalam komunitas kami.

Kami memiliki sebuah rumah besar yang disewakan kepada beberapa perempuan muda dari Turkmenistan yang bekerja sebagai guru. Salah satu di antara mereka ada yang memiliki bayi.

Saya memiliki dua anak - seorang anak laki-laki dan perempuan. Mereka belajar di sekolah yang sama tempat para guru-guru itu mengajar. Setiap hari, mereka berangkat ke sekolah bersama-sama.

Mereka membawa suami saya

Ketika kelompok ISIS memasuki Tikrit (pada bulan Juni 2014), mereka mengeksekusi banyak tentara di Camp Speicher.

Beberapa tentara yang lolos dari pembantaian tersebut mulai berdatangan di kota kami, setelah melintasi Sungai Tigris (yang mengalir di antara al-Alam dan pusat kota]. Lalu kelompok ISIS pun mengejar mereka.

Di antara orang-orang yang melarikan diri ada yang berasal dari Turkmenistan. Beberapa dari mereka berlindung di rumah saya, ketika mereka menyadari bahwa saya juga orang Turkmenistan.

Kami membantu beberapa dari mereka untuk melarikan diri dengan membalutnya dengan pakaian perempuan. Suami saya menyembunyikan tiga serdadu di masjid, mereka adalah anggota Syiah dari kota Basra.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Diperkirakan lebih dari 1.700 serdadu - sebagian besar dari mereka adalah Syiah - dibunuh di Camp Speicher.

Suatu hari, kelompok ISIS datang jam tiga pagi. Mereka kemudian mengetahui bahwa kami telah membantu para serdadu tersebut.

Mereka menemukan tempat persembunyian para serdadu muda dari Basra dan langsung membunuhnya . Mereka juga membawa suami saya. Saya belum menerima kabar darinya sejak saat itu.

Lalu mereka kembali lagi, meledakkan rumah kami dan menyuruh kami pergi.

Saya mulai berjalan meninggalkan rumah kami beserta kedua anak saya, guru-guru dan bayi dari Turkmenistan, anak tiri saya - putri suami saya dari istri yang lain. Tapi kemudian, kelompok ISIS mencegat kami dan membawa kami ke sebuah garasi bersama perempuan-perempuan lainnya dari wilayah yang sudah mereka kuasai.

Satu persatu perempuan itu tewas

Ada 22 perempuan dan anak-anak. Mereka memisahkan para gadis remaja dari kalangan perempuan yang sudah menikah. Mereka terdiri dari lima orang gadis remaja dan mereka mulai memperkosanya di depan mata kami.

"Tolong kami, selamatkan kami dari mereka," teriak para gadis itu.

Saya mencoba melindungi mereka dengan tubuh saya dan mengatakan kepada laki-laki yang memperkosa itu, "Saya bersumpah pada Alquran bahwa mereka bukan perawan, saya mohon demi Allah, tolong jangan lakukan itu."

Salah seorang dari mereka memukul saya sedangkan yang lainnya menghajar bahu saya.

Hak atas foto Reuters
Image caption Kelompok militan ISIS menguasai sebagian besar wilayah utara dan barat Irak pada tahun 2014.

Mereka memperkosa anak tiri saya, yang berusia 18 tahun. Dia langsung tewas setelahnya.

Para gadis remaja itu belum genap berusia 20-an. Orang-orang itu memperkosa dan memukul mereka pada saat bersamaan. Akibatnya satu persatu dari mereka tewas karena mengalami pendarahan.

Saya melihat wajah-wajah para pria yang memperkosa mereka dan saya mengenali dua orang di antara mereka.

Mereka berasal dari sebuah desa Arab Sunni yang dekat dengan al-Alam. Banyak orang-orang dari sana yang bergabung dengan kelompok ISIS, namun banyak desa-desa Arab Sunni lainnya menolak keras masuknya kelompok ISIS ini.

Digigit kalajengking

Kami ditinggalkan begitu saja di garasi tersebut.

Tidak ada yang bisa dimakan. Berat badan saya terus merosot sampai wajah saya cekung. Otak kami pun berhenti tidak bisa lagi berpikir dengan baik. Suatu hari, seekor kalajengking menggigit saya dan saya bahkan tidak bisa merasakan gigitannya.

Kelompok ISIS mempekerjakan seorang pria tua untuk menjaga garasi tersebut. Tapi dia sangat menyukai kami dan akan memberi minum kepada kami yang sudah disiksa.

Suatu hari, dia membawa seekor kambing dan memerah susunya untuk anak-anak kami. Itu sangat baik untuk anak-anak saya karena mereka mengatakan rasanya seperti gula.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Kelompok militan ISIS mengalami serangkaian kekalahan setelah dipukul mundur oleh pasukan pro-pemerintah Irak dalam beberapa bulan terakhir.

Suatu hari mereka mendatangi kami, membagi kelompok menjadi dua dan mengambil satu kelompok.

Saya tinggal bersama kedua anak saya, seorang perempuan dan bayi dari guru Turkmenistan, yang meninggal setelah diperkosa.

"Mereka akan membawa Anda juga, Anda harus segera pergi dari sini," kata pria tua itu memberi tahu kami suatu malam.

Dia membawa kami ke jalan keluar dari daerah itu, dan kembali ke garasi.

Lalu, saya mendapati kelompok ISIS telah mengeksekusi orang tua itu karena dia membantu kami melarikan diri.

Sang bayi meninggal dalam pelukan saya

Kami mulai berjalan melewati sebuah daerah gurun. Saat itu kondisi sedang hujan, lumpur ada di mana-mana dan kami tidak mempunyai pakaian yang layak. Tidak ada yang bisa dimakan, jadi kami harus makan rumput.

Dalam perjalanan tersebut, bayi yang saya balut dengan selimut, akhirnya meninggal di pelukan saya.

Setelah lima hari, kami sampai di daerah Maktab Khalid di Kirkuk. Kami berhasil lolos.

Awalnya saya tinggal di sebuah rumah tua milik bibi saya di kota itu.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Sebagian warga desa al-Alam kembali ke rumah mereka pada tahun 2015.

Tapi keluarga perempuan muda yang melarikan diri dengan saya menolaknya, dia mengatakan bahwa itu adalah masalah kehormatan bagi mereka. Dia sekarang berada di Iran dan dirawat psikiater.

Kemudian, saya mencari suami saya tapi tidak menemukan jejaknya.

Pencarian kuburan anak tiri saya dan orang tua yang membantu saya melarikan diri juga tidak membuahkan hasil.

Keluarga para korban ditemukan di mana-mana. Mereka bersatu dalam kesedihan.

Anak-anak saya masih trauma. Anak saya jadi sangat pendiam sejak menyaksikan berbagai kejadian di garasi.

Sebetulnya saya mencoba untuk kembali ke al-Alam. Tapi tidak berhasil. Tidak ada yang tersisa di sana.

Sekarang saya mencoba bertahan hidup dengan penghasilan yang didapat dari mengurus seorang lansia.

Saat ini saya hidup hanya untuk anak-anak saya."

Topik terkait

Berita terkait