Pemimpin ISIS di Asia Tenggara, Isnilon Hapilon, 'tewas' dalam perang di Marawi

Filipina, Marawi, Mindanao Hak atas foto EPA
Image caption Panglima Angkatan Bersenjata Filipina, Jenderal Eduardo Ano, memperlihatkan dua foto wajah berdarah yang menurutnya adalah Isnilon Hapilon dan Omarkhayam Maute.

Pria yang diyakini sebagai pucuk pimpinan kelompok Islam yang menamakan diri Negara Islam atau ISIS untuk kawasan Asia Tenggara, Isnilon Hapilon, dilaporkan tewas Senin (16/10).

Militer Filipina mengatakan dia tewas dalam perang untuk merebut kembali sepenuhnya kota Marawi, yang sempat dikuasai para militan Islam.

Perang di kota itu sudah berlangsung selama lima bulan terakhir dan menewaskan lebih dari 1.000 orang.

"Itu merupakan hal besar bagi kami, bahwa dia sudah mati," kata Menteri Pertahanan Delfin Lorenzana kepada para wartawan di Marawi dan menambahkan kematian Hapilon merupakan pukulan besar bagi militansi di kawasan mengingat dia sudah dinyatakan sebagai emir ISIS.

Pemimpin militan Islam itu dilaporkan tewas dalam sebuah serangan subuh bersama Omarkhayam Maute, salah seorang dari Maute bersaudara yang bersekutu dengan Hapilon untuk merebut Marawi, ibu kota Provinsi Lanao del Sur di Pulau Mindanao.

Panglima Angkatan Bersenjata Filipina, Jenderal Eduardo Ano, memperlihatkan kepada para wartawan dua foto dengan wajah berdarah -yang menurutnya- adalah Hapilon dan Maute.

Hak atas foto Reuters
Image caption Sebagian kota Marawi hancur akibat perang sekitar lima bulan dengan korban jiwa mencapai 1.000 jiwa.

___________________________________________________________________

Hapilon dan Maute bersaudara

Isnilon Hapilon merupakan sosok kunci dalam kelompok militan Abu Sayyaf yang melakukan penculikan di kawasan Filipina Selatan dan sekitarnya untuk mendapatkan uang tebusan.

Dia muncul sebagai pemimpin ISIS di Asia Tenggara pada tahun 2016 ketika sebuah video memperlihatkan para militan ISIS mendesak persatuan di bawah kepemimpinannya.

Hak atas foto AFP
Image caption Foto dari rekaman video memperlihatkan Isnilon Hapilon (kedua dari kiri) sedang melihat peta Marawi bersama Abdullah Maute (berdiri).

Adapun Omarkhayam Maute adalah salah seorang pemimpin kelompok Maute, yang merupakan sempalan dari gerakan perjuangan separatis Muslim di Mindanao selama satu dekade belakangan.

Kelompok Maute sudah menyatakan kesetiaan kepada ISIS dan bergabung dengan kekuatan Hapilon untuk merebut Marawi.

Saudara Omarkhayam yang juga merupakan pemimpin kelompok Maute, Abdullah Maute, dilaporkan sudah tewas bulan lalu.

___________________________________________________________________

Pemerintah Amerika Serikat menawarkan hadiah US$5 juta atau sekitar Rp67 miliar untuk informasi yang bisa mengarah pada penangkapan Hapilon yang berusia 51 tahun.

Presiden Rodrigo Duterte sudah menyatakan keadaan darurat di pulau yang bergejolak sejak Juli hingga 31 Desember mendatang.

Uji coba DNA akan dilakukan atas jenazah yang diduga Isnilon Hapilon dan Omarkhayam Maute tersebut -yang menurut Menteri Pertahanan Lorenzana sebagai pertanda masa-masa akhir dari perang di Marawi.

Sekitar 500 militan Islam -beberapa berasal dari luar negeri, termasuk Indonesia- berhasil merebut sebagian kota Marawi pada tanggal 23 Mei dan sejak saat itu diperkirakan 1.000 orang tewas dan 400.000 jiwa mengungsi dalam perang untuk merebutnya kembali.

Hak atas foto Reuters
Image caption Diperkirakan sekitar 400.000 warga Marawi harus mengungsi dari rumah mereka akibat perang antara tentara pemerintah dan kelompok militan Islam.

Sebagian besar korban yang tewas -lebih dari 800 jiwa- adalah para militan sedangkan sekitar 50 warga sipil dan selebihnya adalah tentara pemerintah.

Selama lima bulan, para militan berhasil bertahan menghadapi operasi darat militer Filipina yang mendapat dukungan serangan udara Australia maupun Amerika Serikat, yang juga menyebabkan banyak bagian kota Marawi hancur.

Topik terkait

Berita terkait