Serangan New York: Siapa Sayfulloh Saipov, laki-laki yang diduga sebagai pelaku?

Sayfullo Saipov Hak atas foto ST CHARLES COUNTY POLICE DEPT
Image caption Sayfullo Saipov, pria terduga pelaku, dilaporkan berimigrasi ke AS tahun 2010 dan tinggal di Florida. Ini merupakan foto tahun 2016

Polisi New York, NYPD, mengatakan bahwa pelakunya adalah seorang pria berusia 29 tahun yang ke luar dari kendaraan yang digunakan menabrak itu, dan bersenjatakan dua pistol dan sudah ditahan sesudah ditembak polisi dan menderita cedera.

Media menyebut, pria itu adalah Sayfulloh Saipov, seorang imigran yang datang ke AS tahun 2010 dan tinggal di Tampa, Florida dan Paterson, New Jersey.

Ia tiba di Amerika dari Uzbekistan tahun 2010 dan diyakini tinggal secara legal di Amerika Serikat.

Perusahaan taksi online Uber mengukuhkan bahwa Saipov berkerja untuk mereka.

Pegiat Islam dan penulis blog asal Uzbekistan di AS, Mirrakhmat Muminov, kepada BBC mengatakan Saipov 'menjadi agresif setelah mengalami radikalisasi melalui internet'.

"Ia tak terlalu berpendidikan dan tak banyak paham tentang Alquran sebelum datang ke AS ... awalnya dia orang yang normal-normal saja," kata Muminov.

Tapi kemudian Saipov 'berubah, cepat marah, dan menjauh dari komunitasnya'. "Karena pandangannya yang radikal, ia sering berdebat sengit dengan sesama warga Uzbekistan dan akhirnya pindah ke Florida," tambahnya.

"Setelah itu saya kehilangan kontak dengannya."

Tiga pejabat mengatakan bahwa Saipov sudah dalam pengamatan petugas keamanan untuk beberapa masalah yang tidak terkait, lapor New York Times.

Dalam catatan polisi, ia ditahan tahun lalu di Missouri terkait masalah lalu lintas.

Hak atas foto Getty/Kena Betancur
Image caption Aparat kepolisian melakukan penjagaan ketat di sekitar lokasi kejadian insiden di New York, Rabu (31/11) waktu setempat.

Presiden Donald Trump sudah memerintahkan pemeriksaan lebih ketat terhadap para turis yang berkunjung ke Amerika Serikat (AS) menyusul insiden teror yang menewaskan delapan orang dan melukai belasan lainnya di New York, AS itu.

"Saya baru saja memerintahkan Kementerian keamanan dalam negeri untuk meningkatkan pemeriksaan ekstrim," kata Trump melalui akun Twitter miliknya.

Minggu lalu, maskapai penerbangan global mulai menerapkan wawancara keamanan bagi calon penumpang dengan tujuan Amerika Serikat sebelum masuk ke pesawat.

Insiden teror terakhir, yang terjadi di New York, menewaskan delapan orang setelah supir sebuah mobil pikap menabrak orang-orang di jalur pejalan kaki dan sepeda di Lower Manhattan.

Hak atas foto Kena Betancur/Getty
Image caption Warga New York melakukan aktivitas di dekat lokasi serangan.

Semenjak kampanye pemilihan umum AS lalu, Trump telah berjanji akan memperketat aturan keimigrasian, utamanya bagi imigran ilegal.

Dalam berbagai kesempatan, Trump menyatakan langkah itu dilakukan untuk melindungi AS dari target serangan teroris.

Bagaimanapun, insiden di New York ini merupakan kejadian pertama yang resmi disebut sebagai aksi teror di AS semenjak Trump menjadi presiden.

Sebelumnya terjadi penembakan massal yang dilakukan seorang warga AS di Las Vegas, tetapi pemerintah tidak menyebutnya sebagai tindakan terorisme.

Hak atas foto Kena Betancur/Getty
Image caption Petugas pemadam kebakaran terlihat melakukan aktivitasnya usai insiden yang menewaskan delapan orang.

Sementara, enam dari delapan orang yang tewas dalam insiden di New York adalah warga negara Argentina dan Belgia, demikian keterangan resmi pejabat dua negara tersebut melalui akun Twitternya.

"Saat ini, kami koordinasi dengan otoritas lokal untuk mengidentifikasi korban," kata Kementerian luar negeri Argentina.

Sebuah pernyataan menyebutkan bahwa para korban adalah bagian dari sebuah kelompok yang tengah merayakan 30 tahun kelulusan mereka.

Secara terpisah, Kemenlu Belgia juga mengatakan bahwa salah satu warganya merupakan di antara korban yang tewas.

Kedua negara kemudian mengutuk tindakan terorisme tersebut dan menyatakn berbelasungkawa kepada keluarga korban

Berita terkait