Seniman Banksy adakan pesta 'minta maaf' dari Inggris kepada warga Palestina

Banksy mural Hak atas foto AHMAD GHARABLI/GETTY IMAGES

Seniman asal Inggris Banksy mengadakan sebuah "pesta jalanan" di Tepi Barat untuk meminta maaf atas Deklarasi Balfour, menjelang peringatan 100 tahun deklarasi tersebut.

Seorang aktor berpakaian seperti Ratu Elizabeth II menjamu puluhan anak di acara tersebut.

Dia juga meluncurkan sebuah karya baru yang diukir di pembatas Tepi Barat Israel yang kontroversial bertuliskan: "Eh ... maaf."

Deklarasi Balfour menyatakan dukungan pemerintah Inggris atas didirikannya sebuah negara bagi kaum Yahudi di Palestina, yang membuka jalan bagi didirikannya Israel.

Israel dan komunitas Yahudi menganggap dukungan itu merupakan pilar yang monumental, sementara orang-orang Palestina menganggapnya sebagai ketidakadilan sejarah.

Pemerintah Inggris mengatakan akan menandai peringatan 100 tahun itu "dengan bangga" dan akan menjadi tuan rumah sebuah makan malam formal di London pada hari Kamis yang akan dihadiri oleh Perdana Menteri Theresa May dan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu.

Hak atas foto EPA
Image caption Anak-anak dari kamp pengungsian Palestina mengenakan helm plastik yang dilukis dengan bendera Inggris dan dilubangi seakan-akan oleh lubang peluru.

Pesta teh Banksy di Bethlehem pada hari Rabu dihadiri oleh anak-anak dari kamp pengungsian Palestina terdekat. Alih-alih mengenakan topi pesta dari kertas, mereka mengenakan helm plastik yang dilukis dengan bendera Inggris dan dilubangi seakan-akan lubang peluru.

Banksy menyatakan: "Konflik ini telah membawa begitu banyak penderitaan bagi orang-orang di semua pihak. Tidak terasa pantas untuk 'merayakan' peran Inggris di dalamnya."

"Inggris tidak menangani hal ini dengan baik - saat anda merencanakan sebuah pernikahan, yang terbaik adalah memastikan pengantinnya belum pernah menikah."

Ikrar dukungan pemerintah Inggris, pada tanggal 2 November 1917, dibuat dalam sebuah surat oleh Menteri Luar Negeri saat itu, Arthur Balfour kepada Lord Walter Rothschild, pemimpin komunitas Yahudi Inggris.

Dikatakan bahwa pemerintah Inggris memandang "untuk mendukung pendirian kampung halaman nasional untuk orang-orang Yahudi di Palestina", asalkan tidak "merugikan hak-hak sipil dan agama dari komunitas non-Yahudi yang ada".

Deklarasi Balfour adalah pengakuan internasional pertama oleh negara berdaulat atas hak orang Yahudi atas sebuah kampung halaman di tanah leluhur mereka dan membentuk basis Mandat Inggris untuk Palestina pada tahun 1920.

Mandat tersebut berakhir pada tanggal 14 Mei 1948 dan Yahudi di Palestina mendeklarasikan sebuah negara Israel yang merdeka. Dalam perang Arab-Israel yang terjadi kemudian, ratusan ribu orang Arab Palestina mengungsi atau dipaksa meninggalkan rumah mereka.

Hak atas foto AFP
Image caption Lord Balfour bertemu dengan yang menjadi presiden pertama Israel, Chaim Weizmann pada 1925.

Warga Palestina, yang memandang Deklarasi Balfour sebagai penyebab penderitaan selama puluhan tahun dan terampasnya tanah mereka di tanah yang kemudian menjadi Israel, telah menuntut permintaan maaf dari Inggris menjelang perayaan seratus tahun.

Presiden Otoritas Palestina Mahmoud Abbas menulis di surat kabar Guardian pada hari Rabu bahwa penandatanganan surat tersebut bukanlah sesuatu yang dapat diubah, namun itu adalah sesuatu yang bisa 'dibuat benar.'

"Ini akan membutuhkan kerendahan hati dan keberanian, ini akan membutuhkan usaha untuk menerima masa lalu, mengenali kesalahan, dan mengambil langkah konkret untuk memperbaiki kesalahan tersebut."

Abbas mengatakan bahwa mengakui sebuah negara Palestina dalam batasan antara Israel dan Yerusalem Timur dan Tepi Barat yang sudah ada sebelum perang Timur Tengah 1967, dan dengan Yerusalem Timur sebagai ibukotanya, dapat "menjadi cara untuk memenuhi hak-hak politik rakyat Palestina ".

Pemerintah Inggris telah menegaskan dukungannya atas negara Palestina yang berdampingan dengan Israel lewat perundingan, menjelaskan paruh kedua Deklarasi Balfour sebagai "urusan yang belum selesai".

Berita terkait