Aparat Filipina bekuk istri petinggi ISIS asal Bekasi

filipina Hak atas foto Reuters
Image caption Sejumlah warga Kota Marawi melewati sebuah rumah yang diyakini sempat dikontrak Omarkhayam Maute.

Kepolisian Filipina menyatakan telah membekuk Minhati Madrais, seorang warga Indonesia yang merupakan istri Omarkhayam Maute—salah satu petinggi ISIS di Filipina yang sempat menguasai Kota Marawi.

Madrais, asal Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, dilaporkan ditangkap setelah kepolisian merazia rumahnya di Iligan City, Mindanao utara, pada Minggu (05/11) pagi waktu setempat.

Aparat, sebagaimana dilansir CNN Philippines, menemukan sejumlah komponen bom, seperti empat pin detonator, dua kabel detonator, dan jam khusus.

Sebanyak enam anak, dua putra dan empat putri yang merupakan buah perkawinan Omarkhayam Maute dan Madrais, dibawa ke kantor polisi untuk ditangani departemen kesejahteraan sosial.

Hak atas foto AFP
Image caption Foto dari rekaman video memperlihatkan Isnilon Hapilon (kedua dari kiri) sedang melihat peta Marawi bersama Abdullah Maute (berdiri).

Perwira kepolisian Iligan, Leony Roy Ga, mengatakan Madrais memegang paspor Indonesia yang kadaluarsa pada September 2016. Adapun perempuan tersebut diketahui tiba di Filipina pada 2012 lalu.

Omarkhayam Maute, salah satu pemimpin kelompok Maute yang bersumpah setia kepada ISIS, tewas dibunuh dalam operasi militer di Marawi pada 16 Oktober. Petinggi ISIS di Filipina lainnya, Isnilon Hapilon, tewas pada hari yang sama.

Hak atas foto AFP
Image caption Pasukan Front Pembebasan Nasional Moro (MNLF) dalam sebuah patroli di Filipina Selatan, 29 Juli 2016.

Bertemu di Mesir

Omarkhayam Maute bertemu dengan Minhati Madrais pada 2008 saat keduanya berstatus sebagai mahasiswa Universitas Al-Azhar di Kairo, Mesir.

Setelah menikah, keduanya sempat bermukim di Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi selama dua tahun mulai 2010. Madrais diketahui merupakan putri pimpinan pondok pesantren Darul Amal di Babelan, KH Madrais Hajar.

Oleh mertuanya, Omarkhayam diminta menjadi guru di pondok pesantren Darul Amal. Namun, selang dua tahun kemudian, Omarkhayam mengajak istrinya ke Filipina.

Topik terkait

Berita terkait