Dua perempuan Muslim Australia beda suara tentang perkawinan sejenis

Nasya Bahfen dan Nadia Asikin Hak atas foto Nasya Bahfen, Nadia Asikin
Image caption Nasya Bahfen (kiri) dan Nadia Asikin (kanan) tinggal di Melbourne.

Sekitar 61% warga Australia mendukung pengesahan perkawinan sesama jenis, yang disambut gembira oleh kaum LGBT.

Jajak pendapat selama delapan pekan dengan tingkat partisipasi sebesar 79.5% itu tidak mengikat namun Perdana Menteri Malcolm Turnbull sudah mengatakan pemerintahnya akan berupaya meloloskan undang-undang untuk perkawinan sesama jenis sebelum Natal.

Hak atas foto Getty Images
Image caption PM Malcolm Turnbull mengatakan akan berupaya meloloskan undang-undang untuk perkawinan sesama jenis sebelum Natal.

Jajak pendapat itu sendiri mengajukan satu pertanyaan, "Haruskah undang-undang perkawinan diubah untuk mengizinkan sesama jenis kelamin menikah?" dengan jawaban Ya atau Tidak.

Ikut dalam jajak tersebut adalah dua perempuan asal Indonesia, Nasya Bahfen dan Nadia Asikin, yang sama -sama tinggal di Melbourne. Keduanya merupakan perempuan Muslim yang mengenakan jilbab dan memberikan suara yang berbeda.

Ya - Nasya Bahfen, tinggal di Australia sekitar 30 tahun lebih

"Alasannya sebagai salah satu minoritas di Australia, yaitu minoritas Muslim, saya percaya bahwa semua hak asasi manusia harus diberi kepada semua minoritas. Jadi anggota kaum LBGT, mereka juga sebagai minoritas dan kita harus solidaritas dengan mereka," jelas Nasya kepada wartawan BBC Liston P Siregar.

Dosen di Universitas La Trobe ini menegaskan bahwa pilihannya itu terpisah dari pengajaran dan prinsip dalam agamanya sendiri.

"Tapi saya rasanya kurang setuju kalau saya, misalnya, tidak bergerak untuk hak yang kita nikmati sebagai minoritas, seperti makanan halal atau hak untuk salat atau sembahyang di kantor."

Hak atas foto Nasya Bahfen
Image caption Nasya Bahfen menegaskan pilihannya terpisah dari pengajaran dan prinsip dalam agamanya sendiri.

Nasya juga yakin bahwa ajaran agama Islam adalah menghormati semua peraturan di negeri tempat tinggal kecuali peraturan itu menghindari kita beribadah'"

"Dan peraturan ini, setelah pemungutan suara yang tidak binding (mengikat) kemungkinan besar sebelum Natal sudah jadi undang-undang. Tapi peraturan seperti ini tidak ada akibatnya dengan ibadah kita, tidak menghindari ibadah kita.

"Jadi kalau dari sisi agama, saya merasa tidak ada kontradiksi," tegasnya.

Menurut Nasya banyak umat Muslim di Melbourne yang memberikan suara 'tidak' sehingga pendapatnya bukan bagian dari pandangan mayoritas di kalangan komunitasnya.

"Saya seperti banyak teman, pasang foto di media sosia bahwa saya pilih Yes dan langsung teman-teman saya di Facebook, misalnya langsung kurang 10 orang," tuturnya diikuti tawa kecil.

"Ya berbeda pendapat tentang masalah ini namun saya punya alasan yang kuat untuk memilih."

Tidak - Nadia Asikin, tinggal di Australia sejak tahun 2001

"Karena melihat lebih banyak sisi negatifnya dibanding keuntungan Yes dan dengan memberi suara Yes saya menyetujui gaya hidup sesama jenis kelamin itu, sementara saya secara pribadi tidak menyetujuinya. Jadi saya tidak bisa memberi suara Yes."

Nadia menjelaskan bahwa alasannya memilih Tidak itu didasarkan pada pandangan pribadi dan juga keyakinan agama.

"Dua-duanya ya, berdasarkan agama dan pribadi. Maksudnya, saya kan orang Indonesia tadinya yang tumbuh dalam keluarga Muslim dan memang sudah diajari bahwa homoseksualitas itu salah dan ada kisah Nabi segala macam."

Hak atas foto Nadia Asikin
Image caption Pilihan Nadia Asikin didasarkan pada pandangan pribadi dan juga keyakinan agama.

Di samping keyakinan agama, Nadia juga yakin bahwa tidak ada manfaat dari perkawinan sesama jenis.

"Saya tidak sampai pada kesimpulan bahwa itu bermanfaat untuk keluarga dan juga masyarakat," kata Nadia, yang menambahkan perkawinan sesama jenis bisa berdampak 'buruk' pada masa depan.

"Tidak ada keuntungannya kecuali membuat orang senang atau untuk kesan Australia tidak terbelakang."

Kemenangan politik dan momen personal

Hasil referendum ini, betapa pun tak mengikat adalah kemenangan politik sekaligus momen sangat emosional bagi senator Penny Wong.

Penny Wong adalah orang LGBT terbuka pertama yang menjadi anggota parlemen, dan sebelumnya anggota kabinet.

Ia mengikuti hasil penghitungan suara di sebuah ruangan di Senat, dan kamera-kamera televisi mengikuti setiap gerakannya.

Dan ketika hasil referendum dibacakan ia menutup mukanya dan terisak dalam tangis bahagia,

Hak atas foto EPA
Image caption Penny Wong adalah orang LGBT terbuka pertama yang menjadi anggota parlemen, dan sebelumnya anggota kabinet.

Para senator sejawatnya serta para sahabatnya menghampirinya untuk memberi selamat, dan senator yang sangat berperan dalam merancang referendum itu perlu beberapa lama untuk memulihkan diri.

Wong bukan hanya perempuan gay terbuka pertama di parlemen, tapi juga menteri gay terbuka pertama, saat Partai Buruh berkuasa..

Melalui IVF, atau di Indonesia dikenal sebagai prosedur 'bayi tabung,' ia dan kekasihnya memiliki dua anak, dan sepanjang kampanye perkawinan sejenis ia harus melindungi keluarganya dari upaya oposisi untuk menjadikan mereka sebagai contoh perkawinan sejenis.

***Sila memberi pendapat tentang artikel ini di Halaman Facebook BBC Indonesia namun mohon kiranya dengan tetap saling menghormati dan tidak menyinggung SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan)

Topik terkait

Berita terkait