EKSKLUSIF: Suasana 'penjara mewah' bagi pangeran dan pejabat tinggi Saudi

Ritz-Carlton Riyadh Hak atas foto AFP
Image caption Belasan pangeran, pejabat tinggi, dan pebisnis 'ditahan' di Hotel Ritz-Carlton, Riyadh, sejak awal November. Mereka diduga terlibat korupsi.

Hotel Ritz-Carlton di Riyadh, bukan sembarang hotel. Di hotel inilah para pejabat Arab Saudi menerima dan menjamu tamu negara, termasuk Presiden Donald Trump, yang melawat ke Saudi beberapa bulan lalu.

Air mancur menyambut para tamu di halaman hotel dan begitu masuk ke lobi, lampu-lampu hias mewah dan lantai marmer tampak gemerlap.

Namun sejak awal November, hotel ini menjadi 'penjara mewah' bagi belasan pangeran, menteri, dan pengusaha yang diduga melakukan korupsi, pencucian uang, dan penyalahgunaan kekuasaan.

Tak kurang dari 200 elite 'dikurung' di sini, termasuk 11 pangeran, dua di antaranya adalah keponakan Raja Salman.

Mereka yang dilaporkan mendekam di sini antara lain adalah Pangeran Alwaleed bin Talal, salah satu pengusaha terkaya di dunia. Penangkapan dan penahanan mereka langsung diperintahkan oleh Putra Mahkota, Mohammed bin Salman.

Seperti apa suasana hotel yang dipakai sebagai tempat untuk menahan belasan pangeran, pejabat dan pebisnis Saudi tersebut?

Saat wartawan BBC Lyse Doucet mengunjungi hotel ini, sekilas tak ada perbedaan yang mencolok dengan hotel-hotel mewah lain di Riyadh.

Di lobi, tampak beberapa orang menikmati kopi. Yang berbeda adalah, mereka tak banyak berbicara. Juga tidak menggunakan telepon genggam.

Hak atas foto AFP
Image caption Pangeran Alwaleed bin Talal dilaporkan termasuk yang ditahan di Hotel Ritz-Carlton di Riyadh.

Doucet mengatakan mereka memang tak dibolehkan mengakses telepon genggam. Jika mereka ingin mengontak anggota keluarga, pejabat, perusahaan atau pengacara, telah disediakan sambungan telepon khusus.

Fasilitas lain seperti kolam renang dan pusat kebugaran tetap buka seperti biasa meski saat Doucet berkunjung ke hotel tidak ada yang menggunakan fasilitas ini.

Doucet dibolehkan bertemu dengan seseorang yang ditahan di hotel ini. "Ia mengatakan selama ditahan di hotel ia lebih banyak menghabiskan waktu berkonsultasi dengan kuasa hukumnya," kata Doucet.

"Ia tak bersedia membeberkan secara rinci kasus yang disangkakan kepadanya. Ia juga mengatakan ini bukan investigasi resmi. 'Proses yang bersahabat' demikian para pejabat menyebutnya," tambah Doucet.

Sempat mengira hanya sebentar

Hak atas foto AFP
Image caption Ritz-Carlton Riyadh dipakai untuk menerima Presiden Trump saat ia melawat ke Saudi beberapa bulan lalu.

Belasan pangeran, menteri, dan pebisnis dibawa ke Hotel Ritz-Carlton pada tengah malam tanggal 4 November. "Mereka marah dan mengira mereka tidak akan berada di hotel. Tapi ternyata hingga sekarang mereka tak boleh keluar," kata Doucet.

"Mereka tentu saja tambah marah dengan kenyataan ini. Saya diberi tahu, sebagian besar dari orang-orang yang ditahan bersedia untuk membayar ganti rugi (agar bisa bebas)," kata Doucet.

Putra Mahkota Mohammed bin Salman menahan sesama pangeran, pejabat tinggi dan pengusaha untuk 'membersihkan Saudi dari korupsi'. Langkah ini juga dikatakan sebagai upaya untuk menghilangkan 'konsentrasi-konsentrasi kekuasaan'.

Para analis mengatakan pembersihan ini disambut baik banyak kalangan di dalam negeri yang marah melihat korupsi.

Tapi di sisi lain langkah putra mahkota menciptakan musuh dan memicu ketidakpastian, yang pada gilirannya mengganggu stabilitas dan penerapan reformasi yang sangat dibutuhkan oleh Saudi.

Topik terkait

Berita terkait